Jumat, 06 Juli 2012

Sejarah Banten

Tidak banyak yang diketahui mengenai peninggalan sejarah dari kerajaan yang terdapat di bagian paling barat dari pulau Jawa ini, terutama pada masa sebelum masuknya Islam. Keberadaan Banten sdikit dihubungkan dengan masa kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya yang menguasai Selat Sunda, menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera. Begitu juga kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran, yang berdiri pada abad ke-14 dengan ibu kotanya Pakuan dan berlokasi di dekat kota Bogor sekarang. Menurut catatan, Kerajaan ini mempunyai dua pelabuhan utama, yaitu Pelabuhan Kalapa (Sunda Kelapa), yang sekarang dikenal Jakarta, dan Pelabuhan Banten.
Dari beberapa data mengenai Banten yang tersisa, dapat diketahui, lokasi awal dari Banten tidak berada di pesisir  pantai, melainkan sekitar 10 kilometer masuk ke daratan, di tepi sungai Cibanten, di bagian selatan dari Kota Serang sekarang ini. Wilayah ini dikenal dengan nama “Banten Girang” atau Banten di atas sungai. Nama ini diberikan berdasarkan posisi geografisnya. Kemungkinan besar, kurangnya dokumentasi mengenai Banten dikarenakan posisi Banten sebagai pelabuhan yang penting dan strategis di Nusantara, baru diketahui setelah masuknya Dinasti Islam pada permulaan abad ke-16.
Di mata otoritas Banten, bangsa Portugis menawarkan perlindungan ganda. Bangsa Portugis saat itu sangat anti Islam dan armada laut mereka sangat kuat serta menguasai perairan di sekitar Banten. Di sisi lain, Banten dapat menawarkan komoditas lada kepada Portugis. Negoisasi tentang kesepakatan ini dimulai tahun 1521 Masehi.
Pada tahun 1522 Masehi, Portugis di Malaka, yang sadar akan pentingnya urusan ini, mengirim utusan ke Banten yang dipimpin oleh Henrique Leme. Perjanjian dibuat antara kedua belah pihak.
Sebagai ganti dari perlindungan yang diberikan kepada Banten, Portugis akan diberikan akses tak terbatas untuk mendapatkan persediaan lada serta diperkenankan untuk membangun benteng di muara sungai Cisadane. Kesepakatan yang sangat tidak menguntungkan ini menggarisbawahi tingginya tingkat kesulitan yang dihadapi Banten. Pemilihan pembuatan benteng di daerah Tangerang tidak diragukan lag untuk dua alasan. Yang pertama, agar Portugis dapat menahan kapal yang berlayar dari Demak, dan yang kedua untuk mencegah agar armada Portugis yang sangat kuat pada saat itu tidak terlalu dekat dengan kota Banten. Aplikasi dari perjanjian ini adalah adanya kesepakatan kekuasaan yang tak terbatas bagi Portugis. Lima tahun kemudian akhirnya armada Portugis tiba juga di pesisir Banten, di bawah pimpinan Fransisco de Sa, yang bertanggung jawab akan pembangunan benteng.
Putra Sunan Gunung Jati, Hasanudin kemudian memimpin operasi militer di Banten dan berhasil mengambil alih kekuasaan pada tahun 1527 Masehi, bertepatan dengan datangnya armada Portugis. Sadar akan adanya pernjanjian antara Portugis dengan penguasa sebelumnya, pasukan Banten Islam mencegah siapapun untuk merapat ke Banten. Kelihatannya Kaum Muslim menguasai secara serempak kedua pelabuhan utama Sunda, yaitu Kalapa dan Banten, penguasaan yang tidak lagi dapat ditolak oleh Pakuan. Sebagaimana telah sebelumnya dilakukan di Jawa Tengah, Kaum Muslim, sekarang merupakan kelas social baru, yang memegang kekuasaan politik selain ekonomi yang telah lebih dahulu dikuasai.
Putera Sunan Gunung Jati, Hasanudin dinobatkan sebagai Sultan Banten oleh Sultan Demak, yang bahkan juga menikahkan adiknya dengan Hasanudin. Sejak itu, sebuah dinasti baru telah terbentuk pada saat yang sama kerajaan yang baru didirikan. Dan Banten dipilih sebagai ibukota kerajaan baru. Sementara itu, situasi politik telah sangat berubah sehingga armada Portugis gagal untuk merapat ke daratan. Seorang ulama yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati, pada saat itu telah menetap di Banten Girang dengan tujuan utama menyebarkan ajaran agama Islam.
Walaupun pada awalnya kedatangan Sunan Gunung Jati diterima dengan baik oleh pihak penguasa, akan tetapi secara diam-diam dia tetap meminta agar Kerajaan Demak mengirimkan pasukan untuk menguasai Banten begitu ia menilai sudah tiba waktunya yang tepat. ***

Sumber:
  • Buku Benteng Heritage The Pearl of Tangerang Museum Warisan Budaya Peranakan Tionghoa Tangerang (2011)

0 komentar:

Posting Komentar