Jumat, 28 September 2012

Solosche Radio Vereneging

Awal mulainya muncul radio di Indonesia, yaitu pada tahun 1930. Badan Pemerintah yang mengelola siaran radio kala itu adalah NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij). Siaran pada waktu itu masih terbatas pada lagu-lagu Barat yang umumnya didominasi oleh bahasa Belanda.
Dengan berdirinya NIROM tersebut, pihak Pura Mangkunegaran juga tidak mau ketinggalan. Salah satu paguyuban kesenian Mangkunegaran, yaitu Perkumpulan Karawitan Mardi Laras Mangkunegaran (PK2MN) diberi sender (transmitter) radio oleh KGPAA Mangkunegoro VII untuk menyiarkan klenengan (karawitan) paguyuban dan wayang orang dari Balekambang secara tetap (1932).


Karena sender tadi rusak termakan usia, salah seorang warga paguyuban, yaitu Ir. Sarsito Mangunkusumo, memiliki ide untuk membeli sender yang baru dan modern. Untuk mewujudkannya maka pada 1 April 1933 didirikan “Solosche Radio Vereneging” (SRV) atau Perkumpulan Radio Solo. SRV akhirnya membeli seperangkat alat siaran yang baru, dan mulai 5 Januari 1934 sudah bisa memulai siaran. Siarannya selain di daerah Jawa, dapat ditangkap di daerah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Atas bantuan Pepatih Dalem Mangkunegaran, KRMT. Sarwoko Mangunkusumo, studio SRV yang pertama menempati Pendopo Kepatihan Mangkunegaran yang berada di Jl. Ronggowarsito, yang sekarang digunakan sebagai Taman Kanak-Kanak (TK) Taman Putera.
Akhirnya, SRV dapat berkembang dan memiliki anggota yang banyak yang terdiri atas warga masyarakat. Atas bantuan dari warga pula, pada 15 September 1935 mulai dilakukan pembangunan studio di daerah Kestalan yang memiliki luas tanah sekitar 6000 m². Tanah seluas itu merupakan pemberian dari KGPAA Mangkunagoro VII. Studio SRV yang terletak di Jl. Marconi 1 (sekarang Jl. Abdul Rachman Saleh No. 51) akhirnya pada 29 Agustus 1936 diresmikan oleh putri Sri Paduka Mangkunagoro VII, Gusti Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoema Wardhani.


Setelah Indonesia merdeka, studio SRV ini menjadi Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta. Bermula dari Perkumpulan Radio yang pertama di Indonesia, SRV bisa eksis dan memiliki gedung studio sendiri untuk siaran.
Sesudah SRV berdiri, pemerintah Kraton Kasunanan Surakarta juga berminat mendirikan stasiun radio. Stasiun radio yang didirikan oleh Kraton Kasunanan dinamai Siaran Radio Indonesia (SRI). Studionya bertempat di rumah Gusti Pangeran Harya Suryoamijoyo di Baluwarti.
Siaran SRV dan SRI kala itu menggunakan bahasa Jawa, karena memang awal berdirinya untuk menyaingi dominasi radio Belanda yang cenderung menampilkan budaya Barat, sebaliknya SRV dan SRI berkeinginan memajukan kebudayaan Jawa, khususnya karawitan dan pedalangan.
Setelah Indonesia merdeka, pemancar radio SRV berusaha diambilalih (nasionalisasi) oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang kelak menjadi Stasiun RRI Surakarta. Meski demikian, yang patut dicatat adalah SRV telah membuktikan diri sebagai pelopor timbulnya siaran usaha bangsa Indonesia jauh sebelum RRI didirikan. ***

0 komentar:

Posting Komentar