Senin, 26 November 2012

Tugu Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa membentang melingkari tengah-tengah dan membelah bumi menjadi dua belahan yang sama, yaitu Belahan Utara dan Belahan Selatan. Garis Khatulistiwa melewati beberapa kota di Indonesia, misalnya Provinsi Kalimantan Barat, seperti Sekadau, Nanga Dedai, dan beberapa provinsi lainnya di Indonesia, di antaranya: Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Maluku dan Provinsi Papua.
Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en V oleh Opsiter Wiese dikutip dari Bijdragentot de Geographe dari Chep Van dan Topographeschen Dien in Nederlandsch Indie: Den 31 Sten Maart 1928 telah datang di Pontianak, satu Ekspedisi internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik atau tonggak garis ekuator di Kota Pontianak.
Kala itu, penentuan titik ekuator dilakukan secara astronomi, artinya bahwa pengukuran yang mereka lakukan tanpa mempergunakan alat yang canggih seperti satelit atau Global Positioning System (GPS). Mereka hanya berpatokan pada garis yang tidak smooth (garis yang tidak rata atau bergelombang) serta berpatokan pada benda-benda alam, seperti rasi bintang (ilmu falaq).


Setelah itu, Tugu Khatulistiwa dibangun pada 31 Maret 1928. Tugu Khatulistiwa yang asli terbuat dari kayu belian (kayu besi atau kayu ulin) yang terdiri dari empat tonggak yang mana 2 buah tonggak bagian depan dengan tinggi 3,08 meter dari permukaan tanah, dan 2 buah tonggak bagian belakang dengan tinggi 4,40 meter dari permukaan tanah. Keterangan simbol berupa anak panah menunjukkan arah utara – selatan (lintang 0 derajat). Keterangan simbol berupa flat lingkaran yang bertuliskan EVENAAR, memiliki arti khatulistiwa dalam bahasa Belanda, menunjukkan belahan garis khatulistiwa atau batas utara dan selatan. Sedangkan flat di bawah arah panah ditulis 109°20’0”0LvGR, artinya garis khatulistiwa di Kota Pontianak bertepatan dengan 109° garis bujur timur 20 menit 00 detik GMT. 
Awal kontruksi pembangunan, tugu ini dibangun berupa tonggak dengan tanda panah. Lalu pada tahun 1930, disempurnakan menjadi berbentuk tonggak dengan lingkaran dan tanda panah. Tahun 1938, tugu asli dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh Opsiter/Architech Silaban pada bagian lingkarannya menjadi seperti sekarang ini.


Tahun 1990, Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah dan duplikat Tugu Khatulistiwa dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu aslinya. Peresmian kubah dan replika Tugu Khatulistiwa dilakukan pada 21 September 1991 oleh Gubernur Kalimantan Barat, Parjoko Suryo Kusumo.
Kemudian pada Maret 2005, posisi Tugu Khatulistiwa dikoreksi kembali oleh Tim dari BPPT yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Pontianak. Secara satelit, ternyata terdapat perbedaan ± 117 meter dari posisi yang asli ke arah selatan khatulistiwa. Perbedaan itu terjadi karena faktor akurasi alat dan cara yang digunakan pada waktu dulu dan sekarang. Jadi perlu diketahui bahwa bumi yang kita tempati ini adalah bergerak dengan dua gerakan sekaligus, yaitu berotasi dan berevolusi, sehingga dapat menyebabkan pergeseran. Menurut ahli geologi, bumi itu mengalami pergeseran scara alami sebanyak ± 1 mm, apalagi kalau terjadi gempa akan semakin besar pergeserannya.
Jadi, perbedaan antara pengukuran astronomi (ilmu falaq) dan satelit, tidaklah perlu diperdebatkan terus menerus. Kita harus menghargai perbedaan dan jerih payah orang-orang terdahulu sebelum pengukuran secara satelit diketemukan. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memelihara dan melestarikan aset yang sangat berharga ini agar tidak hilang di makan zaman serta demi untuk generasi yang akan datang. *** [141112]

0 komentar:

Posting Komentar