Jumat, 04 Januari 2013

“Si Tua” Wilalung, Jejak Manajemen Banjir

Usianya sudah hamper seabad. Namun, di tengah kerentaannya, Bendung Wilalung di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berkali-kali menyelamatkan ratusan ribu penduduk Kabupaten Kudus, Pati, dan Demak.
Tanpa bending dengan 11 pintu pembagi pintu banjir itu, banjir tahunan dari Sungai Serang dan Lusi sulit dikendalikan. Tanpa bendung buatan Pemerintah Hindia Belanda tahun 1892 tersebut, banjir selalu melanda permukiman dan sawah masyarakat.
Bendung Wilalung merupakan bangunan pembagi pintu banjir yang bertujuan melindungi daerah Demak, Kudus, dan Grobogan dari banjir. Pemerintah Hindia Belanda membangun bendung itu pada 1908-1916 di percabangan Sungai Serang.
Pemerintah Hindia Belanda mengoperasikan bending tersebut pada 1918. Sebelum bending itu dibangun, pada 1892, Pemerintah Hindia Belanda membangun saluran besar yang menghubungkan Sungai Serang dan Sungai Gelis yang sekarang disebut Sungai Wulan, dengan tujuan memperpendek jarak Sungai Serang ke laut.
Pada waktu itu, bending pembagi pintu banjir dibuat untuk mengatur dan mengalihkan luapan banjir Sungai Serang ke Sungai Wulan dan Juwana. Debit air maksimal Sungai Serang 1.350 meter kubik per detik dilewatkan ke 2 pintu Sungai Wulan sebesar 350 meter kubik per detik dan 9 pintu Sungai Juwana 1.000 meter kubik per detik.
Salah satu kepentingan Pemerintah Hindia Belanda membangun bending ialah melindungi Kudus yang pada waktu menjadi daerah penopang perdagangan Karesidenan Semarang. Di bagian timur Distrik Undaan terdapat Rawa Gede, suatu rawa besar yang melewati perbatasan dengan Distrik Kajen (sekarang Kayen di Kabupaten Pati). Pembuangan rawa ini adalah Sungai Juwana. Batas barat Kota Kudus adalah Sungai Serang yang di kedua sisinya dibangun bendungan. Di Wilalung Distrik Undaan, dibangun sebuah pintu air besar yang mengatur air banjir ke Sungai Babalan atau Juwana dan Tanggulangin (Sungai Wulan).
Seiring dengan kerusakan alam di hulu dan sedimentasi Sungai Lusi dan Serang, Bendung Wilalung mulai kesulitan mengendalikan banjir. Pada tahun 1995, pemerintah membangun kanal banjir yang mengalirkan air ke Sungai Wulan 400 meter kubik per detik.
“Kanal banjir itu dibangun setelah banjir melanda Kudus pada 1993. Waktu itu, debit air Sungai Serang sebesar 1.600 meter kubik per detik sehingga melebihi batas tamping Bendung Wilalung,” tutur Kaspono, tokoh petani Kudus dan anggota Dewan Sumber Daya Air Jawa Tengah, Senin (17/12).
Setelah itu, banjir besar kembali landa Kudus, Demak, dan Pati pada 2003, 2007, dan 2008. Hal itu terjadi karena kondisi bending memprihatinkan. Hanya 2 pintu menuju Sungai Wulan dan 2 pintu menuju Sungai Juwana yang bisa dioperasikan.
Selain itu, kapasitas tamping sungai-sungai menurun. Kapasitas Sungai Wulan turun dari 1.000 meter kubik per detik menjadi 725 meter kubik per detik dan Sungai Juwana juga merosot drastis dari 1.650 meter kubik per detik menjadi 150 meter kubik per detik.
Beragam kondisi itu pada akhir 2007 menyebabkan tanggul kanan Sungai Wulan di Desa Medini, Kudus, jebol di tujuh titik sepanjang total 203 meter. Banjir setinggi 2 meter itu menyebabkan 6.092 hektar lahan dan 35.000 rumah tergenang serta 12.076 warga mengungsi.
Pada tahun 2011 dan 2012, Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Serang-Lusi-Juwana (BPSDA Seluna) memperbaiki Bendung Wilalung. Dua pintu bending menuju Sungai Wulan dipotong agar sampah tidak menyumbat dan memperlancar arus air ke Sungai Wulan.
Adapun tiga pintu pembagi banjir menuju Sungai Juwana telah diperbaiki dan dapat difungsikan kembali. Perbaikan itu juga didukung dengan sejumlah normalisasi di Sungai Wulan, Serang, dan Juwana.
“Ketiga pintu itu berfungsi untuk mengalirkan banjir ke Sungai Juwana ketika Sungai Wulan tidak mampu menampung banjir. Namun, prosedur operasional standarnya belum kami dapat dari BPSDA  pusat,” kata Noor kholis, Koordinator Verbal BPSDA Wilayah Juwana. [HENDRIYO WIDI]

Sumber:
  • KOMPAS Edisi Kamis, 3 Januari 2013

1 komentar: