Selasa, 06 Agustus 2013

Rumah Banjar

Rumah Banjar di Kalimantan Selatan atau yang disebut juga rumah Bubungan Tinggi, berkat bentuk atapnya yang tinggi dengan sudut 60 derajat. Bangunan rumah adat Banjar ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, ketika Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera.
Bubungan Tinggi awalnya hanya dipakai oleh para bangsawan keratin. Namun, dalam perkembangannya, arsitektur rumah ini juga diadopsi oleh masyarakat dari berbagai lapisan.
Rumah Banjar di Kalimantan Selatan kini pun hanya segelintir. Salah satunya, yang berada di Teluk Selong, Martapura.Di desa ini terdapat rumah Banjar yang telah berusia ratusan tahun.
Rumah ini telah berdiri sejak tahun 1814 dengan arsitektur dan desainnya yang menjadi sebuah refleksi lapisan social-ekonomi masyarakat sekaligus cara mereka hidup berdampingan dengan alam.
Seluruh rangka maupun fondasi menggunakan kayu ulin, yang merupakan pohon khas Kalimantan Selatan. Semakin lama terkena air, kayu ulin justru semakin kuat, sesuai dengan kondisi lingkungannya yang biasanya merupakan rawa-rawa atau berlumpur. Itu sebabnya, meski telah berusia ratusan tahun, rumah ini tetap kokoh berdiri.
Fondasinya terbuat dari kayu ulin utuh yang menyambung dari fondasi hingga langit-langit rumah, dengan panjang total 15 meter. Tinggi fondasinya sendiri sekitar 3-4 meter, sementara tinggi langit-langit dalam ruangan mencapai 7 meter.
Bagian bawah rumah panggung biasanya menjadi tempat penggilingan padi. Interior rumah pun terbagi ke dalam beberapa area dengan level permukaan yang berbeda. Bagian kanan khusus untuk orangtua, sementara sebelah kirinya untuk anak-anak muda. Ada pula ruang khusus (yang biasa disebut kamar untuk bujang), yang terletak tepat di atas dapur dan tidak seberapa tinggi, menjadi tempat khusus bagi remaja jika ada tamu yang datang.
Lokasinya mengartikan tamu sang anak diwajibkan bertemu dengan orangtua terlebih dulu, baru kemudian boleh bertemu. Pembagian area pun brlaku untuk memisahkan kaum Adam dan Hawa, yang area paling depan biasanya tempat para lelaki berkumpul dan area tengah bagi anak-anak dan perempuan.
Rumah Banjar terdiri dari beberapa tipe. Selain Bumbungan Tinggi, ada pula yang disebut Gajah Baliku. Bentuknya pun berbeda. Gajah Baliku tidak memiliki jenjang lantai dan atapnya memakai kuda-kuda dengan atap perisai (atap gajah). Inilah nostalgia sekaligus bukti peradaban masyarakat Banjar yang kini makin sulit ditemui, mengingat sejak tahun 1930-an rumah ini tak lagi banyak dibangun karena alasan biaya dan areal tanah yang kian terbatas. [ADT]

Sumber:
KOMPAS Edisi Sabtu, 6 Juli 2013 hal. 45

0 komentar:

Posting Komentar