Rabu, 06 November 2013

Kraton Kanoman

Pada masa Pemerintahan Pangeran Karim, Sultan ke VI Kraton Pakungwati, yang bergelar Panembahan Ratu II, Mataran yang sudah pro VOC mencurigai Cirebon telah merintis kekuasaan dengan Banten untuk memberontak. Karena itu, Panembahan Girilaya diundang oleh mertuanya, Sultan Amangkurat I dengan tanpa alas an sesuatu. Dalam memenuhi undangan mertuanya itu, Panembahan Ratu II mengajak serta istri dan kedua putranya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya. Untuk sementara, Kesultanan dimandatkan kepada Pangeran Wangsakerta, putra termuda.
Undangan yang semula dikira sebagai rasa rindu orang tua terhadap anak menantu, ternyata sebagai hukuman atas kecurigaan Mataram kepada Cirebon. Sunan Amangkurat I menahan Panembahan Girilaya untuk tidak kembali ke Cirebon selama-lamanya sampai akhir hayatnya dikubur di Bukit Wonogiri pada 1667 M. Lokasi pembaringan terakhir Panembahan Ratu II ini menyebabkan Panembahan ini juga dikenal sebagai Panembahan Girilaya. Dengan rasa menyesal dan penuh kesedihan, kedua putranya kembali ke Cirebon untuk meneruskan tampuk kepemimpinan.
Kenyataan setelah sampai di Cirebon, ketiga orang putra itu masing-masing merasa berhak menggantikan ayahnya. Maka atas kebijakan Sultan Banten, An Nasr Abdul Kohar yang sudah dianggap seketurunan, dipecahlah Kesultanan Pakungwati menjadi tiga bagian. Masing-masing putra Pangeran Karim mendapatkan bagian kraton. Kraton Kasepuhan dipegang oleh Pangeran Martawijaya, Kanoman oleh Pangeran Kertawijaya, dan Kacirebonan dipegang oleh Pangeran Wangsakerta. Pembagian wewenang dan kekuasaan tersebut terjadi pada 1667 M.
Untuk lebih menampakkan keislaman, Pangeran Martawijaya kemudian bergelar Sultan Raja Syamsudin. Pangeran Kertawijaya bergelar Sultan Mohammad Badridin, dan Pangeran Wangsakerta mendapat sebutan Panembahan Tohpati.



Ihwal Berdirinya Kraton Kanoman
Kraton Kanoman adalah hasil pemekaran Kraton Pakungwati setelah Pangeran Karim atau Panembahan Ratu II atau Panembahan Girilaya wafat pada 1667 M. Atas kesepakatan dan kemufakatan melalui kebijaksanaan Sultan Banten, An Nasr Abdul Kohar atau dikenal dengan Sultan Haji, maka Kraton Kasepuhan diperuntukkan bagi Pangeran Syamsudin Martawijaya sebagai Sultan Sepuh I, dan Kraton Kanoman dengan Pangeran Mohammad Badridin Kertawijaya sebagai Sultan Anom I. Pelantikan keduanya terjadi pada tahun 1678 M.

Kompleks Kraton Kanoman
Bangunan Kraton Kanoman persisnya menghadap ke utara. Di luar bangunan Kraton terdapat sebuah bangunan bergaya Bali yang disebut dengan Balai Maguntur yang terbuat dari batu merah. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat kedudukan saat Sultan berpidato atau menghadiri upacara, seperti apel prajurit atau menyaksikan penabuhan gamelan Sekaten.


Di kraton ini masih terdapat peninggalan Sunan Gunung Jati, seperti dua buah kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum. Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem atau pendopo untuk menerima tamu, juga tempat penobatan Sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Di bagian tengah kraton, terdapat kompleks bangunan bernama Siti Hinggil.
Di depan kraton juga terdapat alun-alun yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya warga sekitar, atau tamu yang hendak menghadap Sultan Anom.
Kraton Kanonam terletak di Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Kanoman Utara, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, atau berada di belakang Pasar Kanoman. Kraton Kanoman hanya berjarak sekitar 600 m sebelah utara dari Kraton Kasepuhan. Akses jalan masuk melalui Pasar Kanoman, sebuah pasar tradisional yang di dalamnya masih banyak dijumpai berbagai macam barang yang syarat produk untuk buah tangan atau oleh-oleh. Sehingga, pamor pintu gerbang utama atau gapura menuju ke Kraton Kanoman yang sebenarnya menunjukkan kemegahan Kraton Kanoman, harus rela “tersembunyi” di balik keramaian Pasar Kanoman tersebut. *** [271013]

Kepustakaan:
Hasan Basyari, 1989, Sekitar Kompleks Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya, Cirebon: Zul fana Cirebon

0 komentar:

Posting Komentar