Jumat, 11 Juli 2014

Kraton Kasepuhan Cirebon

Cirebon merupakan salah satu kota yang ada di wilayah Jawa Barat. Letaknya berada di pesisir pantai utara bagian ujung timur, dan lebih dekat ke wilayah Jawa Tengah ketimbang ke arah ibu kota Provinsi Jawa Barat, Bandung karena memang letaknya berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sehingga, di Cirebon tidaklah mengherankan bila di daerah tersebut ditemui sejumlahnya masyarakatnya ada yang menggunakan bahasa Sunda maupun bahasa Jawa. Inilah salah satu yang membentuk kekhasan Cirebon sesuai dengan istilah Cirebon itu sendiri.
Istilah Cirebon, yang termaktub dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang disusun oleh Pangeran Arya Carbon pada tahun 1720, disebutkan berasal dari kata Caruban kemudian Carbon dan akhirnya menjadi Cirebon. Awalnya Cirebon hanya merupakan sebuah tempat pemukiman beberapa keluarga yang dikenal dengan nama Tegal Alang-alang, yang kini menjadi Lemahwungkuk. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari laut, memungkinkan daerah disinggahi oleh beberapa suku bangsa yang melintas di kawasan laut ini. Lama-kelamaan karena seringnya menjadi tempat persinggahan dari kapal-kapal yang berlabuh kala itu maka kemudian daerah tersebut acapkali disebut sebagai Caruban yang berarti campuran. Campuran di sini bermakna sebuah percampuran dari beberapa suku bangsa yang pernah singgah di daerah ini.
Selain kekhasan Cirebon tersebut, Cirebon dikenal juga sebagai Kota Udang karena pada zaman dulu, sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai pencari ikan dan membuat petis dari air udang atau dalam bahasa Sundanya dinamakan Cai Rebon, maka masyarakat menyebutnya juga dengan Cirebon hingga sekarang.. Tidak hanya itu saja, Cirebon juga memiliki keunikan lain yang tak kalah menariknya. Sebagai kota yang tidak begitu besar, Cirebon memiliki tiga istana atau kraton yang tidak dijumpai di tempat lain di Indonesia. Salah satunya adalah Kraton Kasepuhan Cirebon.
Kraton Kasepuhan Cirebon terletak di Jalan Kraton Kasepuhan No. 43 Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat.
Dulu sebelum menjadi Kraton Kasepuhan, istana ini bernama Istana Pakungwati. Istana Pakungwati yang bercorak Islam didirikan oleh Pangeran Cakrabuana sepulang dari menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada abad 15 (1456-1479). Pangeran Cakrabuana adalah nama lain dari Raden Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Ratu Subanglarang dari Kerajaan Pajajaran, dan dinamakan Istana Pakungwati diambil dari nama putrinya yang lahir ketika Pangerang Cakrabuana pergi berhaji. Usai menunaikan haji, Pangeran Cakrabuana disebut Haji Abdullah Iman, dan tampil menjadi raja Cirebon pertama yang memerintah Istana Pakungwati sembari menyebarkan dakwah Islam.
Ketika memunaikan ibadah haji, sesungguhnya Pangeran Cakrabuana berangkat dengan adik perempuannya yang bernama Ni Mas Rarasantang. Di Kota Mekkah, kedua kakak beradik itu bermukim beberapa bulan di rumah Syekh Bayamillah sambil menambah ilmu agama Islam. Di sinilah terjadi peristiwa penting, yaitu dinikahinya Ni Mas Rarasantang oleh seorang pembesar Kota Isma’iliyah bernama Syarif Abdillah bin Nurul Alim dari suku Bani Hasyim. Pada masa itu, Pusat Pemerintahan Islam berada di Turki (Istambul). Agar lebih dekat dengan lingkungannya, maka Syarif Abdillah mengganti nama Rarasantang dengan nama Syarifah Muda’im. Dari perkawinan itu kemudian dikaruniai dua orang anak, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah.
Pada saat Syarif Hidayatullah berusia dua puluh tahun, Syarif Abdillah meninggal dunia, maka sebagai puteranya yang tertua Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikannya memerintah Kota Isma’illiyah. Akan tetapi karena dia sudah bertekad untuk melaksanakan harapan ibunya, yaitu menjadi muballigh di Caruban, maka dia melimpahkan jabatan itu kepada adiknya, Syarif Nurullah.
Beberapa bulan setelah pengangkatan Syarif Nurullah sebagai penguasa Kota Isma’illiyah, ibunya Syarifah Muda’im meninggalkannya untuk pulang ke tanah Jawa bersama Syarif Hidayatullah. Dalam perjalanan pulangnya, mereka beberapa kali singgah di beberapa daerah dengan waktu yang cukup lama, seperti di Mekkah, Gujarat, dan Pasai. Dan sekitar tahun 1475, mereka baru sampai di Caruban. Dapatlah digambarkan bagaimana suasana di Istana Pakungwati itu saat menyambut kedatangan Syarifah Muda’im dan puteranya.
Kemudian, Pangeran Cakrabuana di saat yang sudah ditentukan dan sesuai dengan yang sudah direncanakan, menikahkan puterinya, Ratu Ayu Pakungwati dengan Syarif Hidayataullah, yang tidak lain adalah keponakannya sendiri. Selanjutnya pada tahun 1479, karena usianya yang sudah semakin lanjut, Pangeran Cakrabuana mengalihkan kekuasaannya atas Istana Pakungwati Nagari Caruban Larang kepada menantu yang juga keponakannya, Syarif Hidayatullah dengan gelar Susuhunan atau Sunan, dan dalam jajaran Walisongo, beliau dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.
Sejak itu, Cirebon merupakan pusat pengembangan agama Islam di Jawa dengan adanya Walisongo yang kepemimpinannya saat itu dipegang oleh Sunan Gunung Jati. Pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Cirebon semakin pesat ketika tampuk pemerintahan Istana Pakungwati dipegang oleh Syarif Hidayatullah, dan sekaligus beliau diyakini sebagai pendiri dinasti Kesultanan Pakungwati Cirebon dan Banten, serta menyebarkan agama Islam di Majalengka, Kuningan, Kawali Galuh, Sunda Kelapa, dan Banten.
Setelah dirasa cukup, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, memutuskan menjadi muballigh untuk menyiarkan agama Islam di tanah Jawa. Kemudian beliau mengangkat puteranya yang bernama Pangeran Muhammad Arifin dari hasil perkawinannya dengan Nyi Ageng Tepasari, seorang puteri dari Ki Ageng Tepasan mantan pembesar Majapahit, sebagai Sultan Cirebon ke-2 dengan bergelar Pangeran Pasarean. Karena dari hasil perkawinannya dengan Ratu Ayu Pakungwati dan dengan Ong Tien, seorang puteri dari Kaisar Tiongkak tidak dikaruniai putera. Sedangkan hasil perkawinannya dengan Nyi Ratu Kawunganten, puteri dari Adipati Banten, yaitu Pangeran Sabakingking telah dinobatkan sebagai Sultan Banten yang pertama dengan gelar Sultan Maulana Hasanuddin.
Namun malang tak dapat ditolak, pada tahun kelima pengangkatannya sebagai Sultan Cirebon berkahir dengan wafatnya beliau pada tahun 1552. Lalu, atas kebijaksanaan Sunan Gunung Jati yang telah bermusyawarah dengan para sesepuh kraton, diangkatlah Aria Kemuning sebagai Sultan Cirebon ke-3 dengan menyandang gelar Dipati Carbon I. Aria Kemuning adalah anak angkat Sunan Gunung Jati dari Ki Lurah Agung yang pernah menjadi senopati untuk menundukkan Rajagaluh, bekas pusat Kerajaan Pajajaran sebelum pindah ke Pakuan (Bogor). Ia menikah dengan Nyi Ratu Wanawati, puteri Fatahillah (Ki Bagus Pasai) dengan Ratu Wulung Ayu. Sedangkan, Ratu Wulung Ayu adalah puteri Sunan Gunung Jati dengan Nyi Ageng Tepasari, dan Ratu Wulung Ayu sendiri merupakan saudara kandung dari Pangeran Muhammad Arifin.
Kesultanan masa pemerintahan Dipati Carbon I berlangsung lebih kurang dua belas tahun, dan pada tahun 1565 tahta kesultanannya diserahkan kepada puteranya yang baru berusia 18 tahun, yaitu Pangeran Pangeran Mas Zainul Arifin dengan gelar Panembahan Ratu Pakungwati I. Panembahan Ratu Pakungwati I ini memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun. Setelah Panembahan Ratu Pakungwati I meninggal pada tahun 1649, kekuasaan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Karim, karena ayahnya yaitu Pangeran Adiningkusumah meninggal dunia terlebih dahulu. Setelah menjadi Sultan Cirebon ke-6, beliau menyandang gelar Panembahan Ratu Pakungwati II atau yang kemudian hari dikenal sebagai Panembahan Girilaya (1649-1662).
Namun semenjak Panembahan Girilaya meninggal, di dalam Istana Pakungwati mengalami perpecahan politik karena ketiga putera Panembahan Girilaya merasa berhak menduduki tahta ayahandanya. Sehingga atas kebijakan Sultan Banten An Nasr Abdul Kohar yang sudah dianggap saudara tuanya, dipecahlah Kesultanan Cirebon menjadi tiga bagian, yaitu Kraton Kasepuhan, Kraton Kanoman dan Kraton Kacirebonan. Kraton Kasepuhan dipegang oleh anak tertua, yaitu Pangeran Martawijaya yang kemudian bergelar Sultan Syamsudin atau dikenal dengan sebutan Sultan Sepuh I (1662-1697). Kemudian, Kraton Kanoman dipegang oleh anak keduanya yang bernama Pangeran Kertawijaya bergelar Sultan Muhammad Badridin atau yang dikenal dengan sebutan Sultan Anom I (1677-1723), dan anak ketiganya, yaitu Pangeran Wangsakerta menjadi raja di Kraton Kacirebonan dengan mendapat sebutan sebagai Panembahan Tohpati (1677-1713).
Istana yang pada awalnya merupakan Kraton Pakungwati kemudian menjadi Kraton Kasepuhan, sedangkan Kraton Kanoman baru dibangun pada tahun 1688. Kemudian Kraton Kacirebonan baru dibangun pada tahun 1808. Maka bila bila ditinjau dari segi bangunan, Kraton Kasepuhan merupakan kraton tertua di Cirebon.
Lokasi bangunan Kraton Kasepuhan yang berdiri di atas lahan sekitar 25 hektar ini, membujur dari utara ke selatan atau menghadap ke utara. Menghadap ke utara ini diibaratkan menghadap ke magnet dunia seperti yang dilakukan oleh kraton-kraton yang ada di Jawa. Hal ini mengandung makna bahwa sang raja senantiasa mengharapkan kekuatan.
Di dalam lingkungan Kraton Kasepuhan atau yang lebih dikenal dengan istilah baluwarti, terdapat sisa-sisa peninggalan kraton yang cukup menarik., seperti Alun-alun, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Panca Ratna, Panca Niti, Kali Sipadu, Kreteg Pangrawit, Lapangan Giyanti, Siti Inggil, Pengada, Kemandungan, Langgar Agung, Pintu Gledegan, Taman Bunderan Dewandaru, Museum Benda Kuno, Museum Kereta, Tugu Manunggal, Lunjuk, Sri Manganti, Kuncung dan Kutagara Wedasan, Jinem Pangrawit, Pintu Buk Bacem, Gajah Nguling, Bangsal Pringgandani, Langgar Alit, Jinem Arum, Kaputran, Bangsal Prabayaksa, Kaputren, Dalem Arum, Bangsal Agung Panembahan, Pungkuran, Dapur Mulud, dan Pamburatan. Tiap bangunan tersebut memiliki ceritera sendiri-sendiri sesuai dengan peruntukkannya. Gaya arsitektur yang terdapat pada Kraton Kasepuhan mendapat pengaruh arsitektur Islam, Hindu, Buddha, Barat, China dan Jawa. ***

Kepustakaan:
E. Nurmas Argadikusuma, 1998, Baluarti Kraton Kasepuhan Cirebon, dalam Makalah
Hasan Basyari, 1989, Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya, Cirebon: Penerbit Zulfana

0 komentar:

Posting Komentar