Rabu, 04 Desember 2013

Kisah Hadrami dari Gujarat

Satu sore di serambi rumahnya di kawasan Dewi Sartika, Jakarta Timur, antropolog Betawi, Yasmine Zaki Shahab (64), menghidangkan samosa. Kudapan mirip pastel berisi daging cincang itu berasal dari Gujarat, India. “Lidah Hadrami, apalagi peranakan Hadrami-Betawi seperti saya, lebih cocok dengan makanan India ketimbang yang asli Arab,” katanya.
Kaum Hadrami, sebutan untuk orang Hadramaut, Yaman Selatan, yang datang ke Indonesia, sebelumnya bermigrasi di Gujarat. Sebagian berasal dari kelompok sayid. Mereka datang ke Indonesia untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam (LWC van den Berg, Orang Arab di Nusantara).
Hadramaut mengenal empat golongan masyarakat, yakni golongan sayid, suku-suku, menengah, dan budak. Golongan sayid adalah keturunan al-Hussain, cucu Nabi Muhammad SAW. Mereka bergelar habib dan membentuk kebangsawanan beragama di mana pun tinggal. Sebagian di antara mereka dikenal sebagai ulama besar yang memiliki jaringan internasional. Kalangan elite Muslim di India, terutama di Gujarat, sangat menghormati mereka.
Para sayid datang ke Nusantara pada akhir abad ke-18. Awalnya, mereka tinggal di Aceh, lalu ke Palembang dan Pontianak. Setelah tahun 1820, kebanyakan mereka mulai menetap di Jawa. Sama seperti saat mereka tinggal di Gujarat, di Nusantara mereka juga sangat dihormati karena posisinya sebagai keturunan dan pewaris nabi.
Dalam buku Orang Arab di Nusantara, menurut sensus penduduk Hindia Belanda tahun 1885, jumlah kaum Hadrami di Batavia mencapai 1.448 orang, di Surabaya ada 1.145 orang, Gresik 867 orang, Cirebon 834 orang, Pekalongan 757 orang, dan Semarang 600 orang.
Di Batavia, golongan sayid menjadi minoritas kaum Hadrami. Di Pekalongan, sebagian besar kaum Hadrami berasal dari golongan sayid. Kalangan sayid menikah dengan anak perempuan pemimpin dan pemuka setempat.
Imigran Hadrami hanya terdiri dari pria. Sebab, istri mereka enggan meninggalkan Hadrami dan meninggalkan Hadramaut dan memilih kembali tinggal bersama orangtuanya. Namun, poligami hanya terjadi dalam perantauan. Menurut LWC van den Berg, poligami tak berakar dalam tradisi Hadrami. Di Hadramaut, jika seorang suami mengambil istri kedua, istri pertama akan pergi dari rumah dan tinggal di rumah orangtuanya. Itu memaksa suami menceraikan istri pertamanya.

Masuk Pekojan
Tahun 1844, komunitas Hadrami di Batavia membengkak, membuat Pemerintah Hindia Belanda menunjuk seorang kapitan Arab yang bakal memimpin kampung Arab. Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen (1619-1622, 1627-1629) setiap kampung di Batavia dipimpin oleh seorang kapitan.
Jaringan kampung ini dikelompokkan menurut suku dan golongan. Tujuannya, seperti disebutkan dalam buku, Batavia 1740, Menyisir Jejak Betawi, membangun kekuatan militer, mengembangkan ekonomi kawasan, serta mengendalikan keamanan lewat penerbitan surat jalan passen stelsel dan wijken stelsel. Surat ini harus dibawa saat warga pergi ke luar kampung.
Pada abad ke-18, VOC menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab atau lebih tepatnya kampung kaum Hadrami. Kala itu, imigran Hadrami ini wajib tinggal di Pekojan. Hanya segelintir orang Hadrami yang kaya bisa tinggal di tengah orang Eropa atau Indo Eropa di Krukut dan Tanah Abang.
Orang Hadrami umumnya berdagang kain katun impor, pakaian, batu mulia, minyak wangi, produk kulit, makanan, atau menjadi rentenir. Sebagian kecil yang sukses menjadi pengusaha property dan memiliki sejumlah pabrik. Di antara Hadrami kaya, tersebutlah Sayid Ali bin Shahab dan Bassalama. Sayid dikenal sebagai tuan tanah kawasan Menteng, sementara Bassalama sebagai tuan tanah di Kwitang Timur.
Setelah sistem pemisahan permukiman dihapus tahun 1919, sebagian besar orang Arab di Pekojan yang sangat padat pindah ke Krukut, Petamburan, dan Tanah Abang. Dari sana, mereka menyebar ke Sawah Besar, Jatinegara, dan Tanah Tinggi (Jakarta Batavia: Esai Sosio-Kultural, suntingan Grijns dan JM Nas).
Saat ini, kampung Arab tersebar di Krukut dan Sawah Besar (Jakarta Barat), Jati Petamburan, Tanah Abang, Kwitang (Jakarta Pusat), Jatinegara, Cawang, dan Condet (Jakarta Timur). Di kantong peranakan Hadrami-Betawi ini berkembang bermacam kesenian dan tradisi yang kemudian menjadi bagian dari kebudayaan Betawi. Kesenian yang tumbuh di sana antara lain musik rebana, orkes gambus, dan tarian zapin.
Musik rebana di beberapa kantong Betawi berkembang menjadi rebana hadrah, rebana burdah, dan rebana maukhid. Rebana hadrah menjadi arena adu zikir. Dua kelompok rebana hadrah bergantian membawakan syair Diwan Hadrah.
Rebana burdah dikembangkan keluarga Hadrami, Ba’mar. Penggagasnya adalah Sayid Abdullah Ba’mar, seorang tuan tanah dan peternak sapi. Rebana burdah mendendangkan karya Al-Busyiri berupa syair puji-pujian bagi Nabi Muhammad SAW.
Di Batavia, orkes gambus mulai popular tahun 1940-an. Orkes yang semula hanya tampil di kalangan kaum Hadrami ini kemudian muncul di hamper setiap acara hajatan, seperti khitanan dan pernikahan di kalangan masyarakat Betawi. Salah satu musisi gambus yang ternama kala itu adalah Syech Albar, ayah penyanyi rock Ahmad Albar.
Dalam konteks kuliner, makanan bercita rasa Timur Tengah, seperti nasi kebuli yang nikmat, juga tumbuh subur di kantong-kantong Hadrami. {WINDORO ADI]

Sumber:
KOMPAS Edisi Sabtu, 29 Juni 2013

0 komentar:

Posting Komentar