Minggu, 01 Desember 2013

Masa Lalu di Bingkai Barat Nusantara

Kemolekan Pulau Sumatera tak hanya diakui masyarakat Indonesia. Keindahan alam yang terdapat di sisi barat Nusantara ini telah menjadi magnet bagi wisatawan internasional. Di antaranya, sejumlah obyek seperti Danau Toba, Air Terjun Sipiso-piso, dan Dataran Tinggi Berastagi, menjadikan Sumatera Utara berbeda dengan daerah wisata lainnya.
Tak hanya berhenti pada keindahan alamnya, decak kagum akan semakin terasa bila mau mengulik Sumatera Utara lebih jauh lagi. Di sana akan dijumpai segudang atraksi budaya yang menyimpan kenangan masa lalu, zaman kolonial .
Medan yang menjadi ibu kota Sumatera Utara memegang peranan penting roda perekonomian serta menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah yang bernilai tinggi. Kota peninggalan Sultan Deli ini dapat dibuktikan dengan keberadaan peninggalan yang masih tersisa.
Perjalanan sejarah kota ini masih jelas terpatri lewat beberapa bangunan lawas bekas kolonial yang masih terawatt, seperti Balai Kota Medan yang dibangun pada 1908. Balai ini merupakan pusat dari Kota Medan. Pada bangunan depannya terdapat jam besar yang disumbangkan seorang kaya dan pengusaha sukses keturunan Tionghoa, Tjong A Fie, pada 1913.
Di tengah kota terdapat salah satu ruas jalan yang meninggalkan jejak peninggalan masa lalu, Jalan A Yani. Di jalan tersebut berdiri sebuah bangunan besar dan unik yang memiliki perpaduan budaya China, Eropa, dan Melayu. Tidak lain dan tidak bukan, kediaman Tjong A Fie, sang pemilik rumah tersebut.
Selain kediaman saudagar kaya, di jalan ini terdapat sebuah restoran yang masih kental dengan nuansa tempo doeloe, Tip Top Restaurant. Nasi goreng, gado-gado, steak, sup, hingga es krim tersedia di restoran yang bercirikan kanopi merah di sisi depannya. Banyak kawula muda yang memanjakan lidahnya denga bersantap di tempat ini. Tidak sedikit pula kaum veteran yang tengah bernostalgia mengenang masa lalu dengan menikmati secangkir kopi panas yang ditemani kue sus dan penganan lezat lainnya.
Aura masa silam semakin terasa dengan mengunjungi salah satu bangunan heritage di pusat kota Medan, yaitu Istana Maimun yang merupakan istana peninggalan Sultan Deli. Perpaduan gaya Timur Tengah, Eropa, India, dan Melayu menciptakan hasil kreasi seni yang mengagumkan.
Bangunan ini ditopang tiang batu dan tiang kayu dengan lengkungan berbentuk lunas perahu terbalik-yang banyak digunakan di Turki, India, dan Eropa, serta di bawahnya berbentuk ladam kuda. Pada atap kubah terdapat ornamen bulan sabit yang merupakan ciri khas kesenian Islam Timur Tengah dan India lainnya.
Di lantai atas terdapat sebuah singgasana berbentuk empat dengan kubah sebagai atapnya. Singgasana penuh warna ini dilengkapi lampu Kristal khas Eropa. Goresan seni bermotif pada bidang-bidang segi empat dan segi delapan dapat dilihat di bagian atas ruangan ini.
Dekat dari istana terdapat Masjid Raya Al-Mashun, masjid megah yang merupakan masjid kesultanan yang didirikan pada 1906 dan selesai pada 1909. Masjid yang dirancang oleh seorang berkebangsaan Belanda ini memiliki model arsitektur unik, berbentuk octagonal denga gaya klasik yang memiliki pengaruh dari Eropa, Moghul India, dan Arab. Hingga kini masjid tersebut masih digunakan umat Muslim untuk menjalankan ibadah.
Tempat ibadah lainnya juga dapat ditemukan di pusat kota ini adalah Wihara Gunung Timur, klenteng Tionghoa (Taoisme) yang dibangun pada 1930-an. Bangunan ini terletak di Jalan Hang Tuah dan berada di sisi sungai Babura. Sementara itu, di Kampung Madras atau yang dikenal dengan Kampung Keling berdiri Kuil Shri Mariamman yang dibangun pada 1884 dan merupakan kuil Hindu tertua di Medan. [BYU]

Sumber:
KOMPAS Edisi Sabtu, 23 November 2013

0 komentar:

Posting Komentar