Rabu, 18 Desember 2013

Museum Mandhilaras Pamekasan

Museum Mandhilaras merupakan salah satu Museum Umum Daerah yang berada di Pulau Madura. Museum ini terletak di Jalan Cokroaminoto No. 1 (Kompleks Area Monumen Arek Lancor) Kelurahan Barurambat Kota, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi museum ini menempati salah satu gedung milik bekas perpustakaan milik Taman Siswa yang diresmikan oleh Ki Hajar Dewantara.
Museum mungil yang berada di jantung Kota Pamekasan ini, diresmikan pada 18 Maret 2010 oleh Bupati Pamekasan, Drs.  KH Kholilur Rahman, M.Si. Berdirinya museum ini tidak terlepas dari prakarsa beberapa tokoh masyarakat yang berasal dari beberapa bidang seperti dari seniman dan budayawan serta bekerjasama dengan Dinas Pemuda, Budaya dan Olahraga khususnya yang bergerak di bidang budaya, seksi pelestarian dan pemiliharaan kepurbakalaan.
Museum ini dinamakan Mandhilaras, mengambil dari sejarah kebesaran yang ada di Kabupaten Pamekasan yang representasinya adalah Kraton Mandhilaras yang dikenal pada abad ke-16 ketika Panembahan Ronggosukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandhilaras.


Memasuki museum ini, pengunjung akan disambut oleh patung Topeng Gethak (salah satu seni tari unggulan Kabupaten Pamekasan. Kendati bangunan Museum Mandhilaras tergolong kecil namun sekitar 200 benda koleksi yang dimilikinya mempunyai nilai sejarah tinggi. Museum ini memiliki beberapa koleksi, diantaranya jenis senjata, peralatan dan perkakas rumah tangga, numismatika, fosil, filologika, alat tranportasi maupun diorama.
Koleksi senjata yang ada di museum ini berupa keris dan tombak. Keris sebanyak 6 buah di antaranya adalah keris Madura. Keris ini terbuat dari besi, dapurnya baru rambat Pamekasan dengan pamor biji pala. Keris Madura ini diciptakan oleh seorang empu yang bernama Citra Nala (murid Ki Murkali) di zaman Ronggosukowati. Keris Mataram, dapur semampir dengan luk 11, pamor tirto tumetes dan tangguh Madura. Keris Mataram ini diciptakan pada zaman Sultan Agung ketika berkuasa di tanah Madura, dan keris dengan dapur Majapahit yang memiliki pamor kuku tancang kinata emas. Selain itu, terdapat 2 koleksi tombak di museum ini. Tombak Ki Aryo terbuat dari kulit kertas dan berukuran pendek. Tombak Ki Aryo ini merupakan peninggalan Aryo Menak Senoyo yang senantiasa menemani selama melakukan syiar Islam di Parupuh, Pamekasan. Sedangkan, tombak Madura yang terbuat dari besi memiliki ukuran yang lebih panjang dibandingkan dengan tombak Ki Aryo. Tombak Madura ini, dibuat di daerah Pekong pada zaman awal Majapahit, yang merupakan senjata pengawal kerajaan.


Koleksi peralatan rumah tangga yang ada di museum ini meliputi lesung dan penumbuk padi lainnya, batu perkakas untuk membuat ramuan obat, tungku dari tanah liat, periuk kecil, baki (talam), lépér (tadha), centhong bathok, tempat bahan untuk menginang masa lalu (minangan), alas cangkir yang terbuat dari kristal (lophor Kristal), cangkir untuk minum jamu masa lalu (changkolo), dakon hingga lèncak gerbhung. Lèncak gerbhung yang ada di museum ini, mempunyai nilai filosofis yang sangat tinggi. Pada bagian tengah badan lèncak gerbhung ini berongga yang dapat digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga. Kemudian pada bagian tepinya dikelilingi oleh ukiran bermotifkan fauna yang mempunyai makna suka cita, artinya si penghuni dapat menikmati istirahatnya dengan suka cita dengan mimpi yang indah. Kemudian pada sisi kiri benda ini, terdapat simbol kehormatan sang penghuni berupa bulatan kayu besar kecil yang terletak di bagian atas ukiran yang memiliki makna posisi tidur suami dan isteri. Suami berada di sisi luar, sedangkan isteri berada di kiri suami, karena bersifat melindungi.
Koleksi numismatika merupakan koleksi yang terdiri atas uang kuno. Koleksi numismatika yang ada di museum ini, terdiri atas koleksi uang kertas dan benggol. Sedangkan, koleksi fosil yang menghuni museum ini adalah fosil moluska yang banyak ditemukan di perairan Pamekasan yang menghadap ke Selat Madura.


Koleksi filologika yang berada di Museum Mandhilaras berupa naskah kuno maupun al-Qur’an tua. Kitab Layang Sejarah Nabi-nabi yang ditulis di atas daun lontar ini merupakan salah satu koleksi naskah kuno yang ada di Madura. Kitab layang ini pernah digunakan oleh Ki Aryo Menak Senoyo dalam melakukan syiar agama Islam di Parupuh (Proppo), sebuah kecamatan tertua yang berada di Pamekasan, di mana pada saat itu penduduknya masih menganut agama Buddha.
Koleksi alat transportasi yang dipajang di museum ini berupa kereta kuda atau andong yang pernah dikendarai oleh KH Fauzi dari Batuampar. Andong ini memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan andong pada umumnya, yaitu kusir yang akan mengendalikan kudanya justru berada di belakang andong tersebut. Biasanya kusir yang mendampingi KH Fauzi dalam berdakwah, adalah santri utama yang menjadi kepercayaannya.
Diorama yang ada di Museum Mandhilaras terdiri atas 3 bagian. Bagian pertama, menggambarkan suasana penobatan Raden Aryo Seno atau Ronggosukowati. Raden Aryo Seno dinobatkan menjadi Raja Pamekasan pada 3 November 1530, sebagai pengganti ayahandanya Panembahan Bonorogo. Raden Aryo Seno kemudian bergelar Ronggosukowati. Bagian kedua, menceritakan Karapan Sapi, sebuah adu ketangkasan balapan sapi khas Madura, dan bagian ketiga, mengisahkan pembuatan garam (padharan). Kala itu, Bupati Pamekasan, Raden Abdul Jabbar yang memerintah dari tahun 1922 hingga 1933 telah menggunakan lori untuk mengangkut garam dari ladang garam ke gudang.
Selain itu, Museum Mandhilaras memiliki koleksi batik terpanjang di dunia. Batik in terbuat dari kain mori dengan panjang 1530 meter yang bercorak dominan dengan warna merah. Batik ini merupakan hasil karya pengrajin batik se-Kabupaten Pamekasan yang telah mencapai rekor MURI pada tahun 2009.
Perintisan Museum Umum di Kabupaten Pamekasan ini merupakan terobosan yang konstruktif bagi pengembangan pariwisata yang ada di Pulau Madura. Meski bangunan museum ini masih berstatus pinjam dari Taman Siswa akan tetapi gebrakannya sudah menunjukkan eksistensi Kota Pamekasan sebagai salah satu kota tua di Pulau Madura yang masih menawan. *** [071213]

1 komentar: