Rabu, 25 Desember 2013

Sejarah Singkat Desa Getas

Desa Getas merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran rendah, yaitu sekitar 46 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 157 mm.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Getas tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 5.572 orang dengan jumlah 1.652 KK dengan luas wilayah 324,710 hektar. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, utamanya adalah sawah beririgasi.
Jarak tempuh Desa Getas ke ibu kota Kecamatan Tanjunganom yaitu sekitar 7 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Nganjuk adalah sekitar 17 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Getas dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Sonobekel. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Plosoharjo, Kecamatan Pace. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Plosoharjo, Kecamatan Pace, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Malangsari.
Dalam Profil Desa Getas, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2011 – 2015, dikisahkan bahwa Desa Getas mulai timbul semenjak pemerintahan Kerajaan Mataram, yang mana waktu itu ada wilayah Kujonmanis yang dipimpin oleh Ki Ageng Paniten. Karena Ki Ageng Paniten dianggap mbalelo terhadap Kerajaan Mataram, maka Kerajaan Mataram mengirim utusan dengan segenap prajurit yang dipimpin oleh Pragolopati. Ketika sampai di daerah Kujonmanis, terjadilah perang.
Seluruh prajurit Kerajaan Mataram merasa kewalahan karena tidak seimbang, akhirnya mundur. Namun, terus dikejar oleh prajurit yang dipimpin oleh Ki Ageng Paniten ke arah barat hingga mendekati Sungai Badog, dan terus menyeberangi sungai tersebut. Setelah sampai di tepi barat Sungai Badog, prajurit Ki Ageng Paniten berhenti karena kelelahan. Mereka bertahan di situ secara berkelompok.
Melihat gelagat seperti itu, Ki Ageng Paniten mengganggap bahwa prajuritnya telah putus semangat. Kondisi seperti ini, dalam bahasa Jawa disebut getas atau patah semangat, dan untuk mendorong semangat para prajurit, Ki Ageng Paniten berkata “Prajurit ojo sok getasan, lan yen ono rejane zaman sak teruse papan panggonan iki keno disebut Deso Getas.” (Prajurit jangan mudah patah semangat, dan bila ramainya zaman kelak dan seterusnya, tempat ini dinamakan Desa Getas).
Peristiwa ini terjadi pada pertengahan abad 18, dan yang menjadi Kepala Desa pertama adalah Kromo Donakatelah alias Palang Ogel. *** [091213]

0 komentar:

Posting Komentar