Kamis, 19 Desember 2013

Vihara Avalokitesvara Pamekasan

Vihara Avalokitesvara (Klenteng Kwan Im Kiong) merupakan vihara terbesar kedua di Pulau Jawa, yang terletak di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, sekitar 14 kilometer sebelah timur Kota Pamekasan, dan berdekatan dengan obyek wisata Pantai Talang Siring.  Lokasi vihara ini mudah ditempuh dengan moda transportasi darat, baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Dari Kota Pamekasan mengambil jalur ke arah Kota Sumenep nanti akan menemui obyek wisata Pantai Talang Siring, lalu masuk jalan di sampingnya ke arah selatan sejauh 1,7 kilometer. Pengunjung akan melintasi jalan dengan pemandangan mangrove di kiri kanan. Hingga sampai ke vihara tersebut.
Sejarah berdirinya vihara diawali dengan sebelum masuknya agama Islam ke Pulau Madura. Pada sekitar abad ke-14 Masehi di daerah Proppo Pamekasan terdapat kerajaan Buddhist yaitu Kerajaan Jamburingin yang berencana membangun sebuah candi di pusat kerajaan. Kerajaan Majapahit membantu perlengkapan candi berupa arca-arca yang dikirim dengan perahu dan diturunkan di pelabuhan Talang.


Dari pelabuhan Talang, agar sampai di pusat Kerajaan Jamburingin, arca-arca tersebut diangkut dengan kereta kuda. Akan tetapi, pengiriman arca-arca tersebut gagal dikarenakan kereta kuda rusak karena tidak mampu menahan beban. Akhirnya, arca-arca tersebut terlantar di tepi pantai sampai tertimbun tanah. Lokasi rencana pembangunan candi yang gagal tersebut, sekarang dinamakan Desa Candi Burung. Burung dalam bahasa Madura berarti gagal atau tidak jadi, sehingga Candi Burung diartikan sebagai sebuah candi yang gagal dibangun.
Sekitar abad ke-17 Masehi, tanpa sengaja seorang petani menemukan arca-arca tersebut saat mencangkul ladangnya di sekitar Pantai Talang. Kebetulan di daerah bermukim beberapa keluarga keturunan China, kemudian ladang yang terdapat arca-arca tersebut dibeli. Setelah dibersihkan, ternyata arca-arca tersebut adalah arca-arca Buddha versi Majapahit aliran Mahayana yang banyak penganutnya di negeri China.


Salah satu arca berukuran besar yang diketemukan, ternyata arca Avalokitesvara Bodhisatva atau Kwan Im Posat atau Dewi Welas Asih, yang selalu bersifat penolong dan pengayom kita semua. Dengan ukuran tinggi 155 cm, tebal tengah 36 cm dan tebal bawah 59 cm. Arca-arca yang lain adalah Amogasidha, Kencono Wungu, dan Ratna Sambhava (Sam Po Hud), semuanya terbuat dari batu hitam (andesit). Dan sekarang, arca tersebut diwarnai kuning keemasan.
Tempat ditemukan arca-arca tersebut diberi nama Dusun Candi serta dibuatlah bangunan ala kadarnya untuk menampung arca-arca tersebut. Seiring perkembangan, bangunan ini diberi nama Vihara Avalokitesvara (Kwan Im Kiong), dan terus direnovasi dan dilengkapi dengan sarana ibadah yang lain.
Vihara yang memiliki lahan seluas 3 hektar ini, memiliki 5 altar pemujaan ditambah dengan 3 sarana ibadah bagi pemeluk agama lain serta sejumlah fasilitas dan sarana lainnya. Di vihara ini terdapat altar Thian Kong yang berada di depan setelah pintu masuk halaman yang bercorak Bali, lalu altar Kwan Im Thang yang berada di bangunan tengah. Selanjutnya, adalah altar Avalokitesvara (Kwan Im Posat) yang merupakan altar utama bagi vihara ini, yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit abad 14.
Kemudian bangunan di sisi kanan dari ketiga altar tersebut, terdapat Li Thang dipakai untuk altar pemujaan terhadap Nabi Kong Hu Cu dan Nabi Lao Cu, Pura bercorak Bali yang digunakan untuk tempat peribadatan umat Hindu, Tian Cin (Gedung Agung) digunakan untuk altar pemujaan Kwan Kong Jai Shen Ya dan Hok Tek Cin Sin (Dewa), dan Dhamma Sala berbentuk bangunan mirip candi berwarna hitam yang digunakan sebagai altar Sakya Munni Buddha Gautama. Sedangkan di depan bangunan utama vihara semenjak dahulu terdapat musholla, karena di setiap rumah keluarga Madura pada zaman dahulu umumnya terdapat langgar (musholla).


Di lingkungan halaman vihara ini juga terdapat penginapan untuk tamu (peziarah) yang akan beribadah, karena rata-rata pengunjung tidak hanya berasal dari Jawa Timur, akan tetapi ada yang berasal dari Medan, Lampung, Singkawang, Jawa Tengah, Jakarta, dan lain-lain, bahkan ada juga yang datang dari Luar Negeri. Selain itu, ada juga kantin, gedung aula untuk sarana kesenian dan olahraga, pendopo untuk pementasan wayang kulit, dan tempat tinggal para Bhikku yang dinamakan Kuti. Lalu, di depan kompleks altar-altar tersebut, terdapat 2 bangunan pagoda yang menjulang tinggi seolah mengapit pintu masuk ke altar. Kedua pagoda yang didominasi warna merah menambah kemegahan vihara ini dengan ketujuh susunan ruas (lantai) ke atasnya.
Vihara yang dikelola oleh Yayasan Candi Bodhi Dharma ini, pernah menerima 2 kali penghargaan dari MURI (Museum Rekor Indonesia) pada 8 Agustus 2009, yaitu sebagai vihara terunik yang di dalamnya terdapat bangunan ibadah agama lain, yaitu bangunan musholla (Islam) dan bangunan pura (Hindu), sedangkan penghargaan yang satunya, sebagai pemrakarsa dan pelaksana pagelaran wayang kulit dengan pemain pendukung berasal dari 10 negara.
Bagi pengunjung biasa maupun peziarah yang berkunjung di vihara ini, selain mengisi aspek spiritualnya juga bisa menikmati keindahan arsitektur yang bercorak khas China. *** [081213]

0 komentar:

Posting Komentar