Minggu, 22 Desember 2013

Sejarah Singkat Desa Kedungombo

Desa Kedungombo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis, Desa Kedungombo terletak pada posisi 7° 21’ - 7° 31’ Lintang Selatan dan 110° 10’ - 111° 40’ Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran sedang, yaitu sekitar 156 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS Kabupaten Nganjuk, curah hujan rata-rata mencapai 2.400 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga mencapai 405,04 mm.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Kedungombo tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 6.704 orang dengan jumlah 1.846 KK. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian, utamanya adalah sawah beririgasi.
Jarak tempuh Desa Kedungombo ke ibu kota Kecamatan Tanjunganom yaitu sekitar 7 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Nganjuk adalah sekitar 17 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Kedungombo dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Getas dan Desa Malangsari. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Plosoharjo, Kecamatan Pace. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Jati, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Sumberkepuh.
Dalam Profil Desa Kedungombo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2011 – 2015, dijelaskan bahwa Desa Kedungombo berawal dari sejarah perjuangan kemerdekaan melawan penjajah Belanda ketika masih berbentuk kerajaan. Para pejuang kemerdekaan dari wilayah Grobogan, Jawa Tengah, yang berjuang melawan untuk melawan kompeni di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro, kemudian melarikan diri karena terdesak oleh Kompeni Belanda. Di antara pejuang tersebut bernama Ki Musa, yang membuka lahan dengan menebangi hutan, yang kelak menjadi Desa Kedungombo sekitar abad 18. Pada awal berdirinya, Desa Kedungombo dahulu masih menyatu dengan Desa Plosoharjo, Kecamatan Pace dan Desa Pace Kulon.
Mengingat wilayah Desa Kedungombo merupakan hamparan air yang disebabkan oleh aliran sungai sebanyak 4 sungai besar sehingga menyerupai sebuah kedung, maka dinamakan Kedungombo. Lalu, melihat peta wilayah adanya keempat sungat tersebut, daerah ini dimekarkan menjadi Desa Kedungombo dari desa induknya, yaitu Desa Plosoharjo.
Pada masa Agresi Belanda ke 2, pusat pemerintahan Kabupaten Nganjuk pernah berada di Desa Kedungombo dalam masa pengungsian. *** [091213]

0 komentar:

Posting Komentar