Senin, 20 Januari 2014

Sejarah Singkat Desa Krisik

Desa Krisik merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Dilihat dari topografi dan kontur tanah, secara umum daerah ini berupa persawahan dan perbukitan yang berada pada ketinggian antara 656 meter sampai dengan 718 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata berkisar antara 17° sampai dengan 20° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Krisik tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 9.152 orang dengan jumlah 1.913 KK dengan luas wilayah sekitar 428,030 hektar. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian.
Jarak tempuh Desa Krisik ke ibu kota Kecamatan Gandusari yaitu sekitar 12 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Blitar adalah sekitar 39 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Krisik dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Tulungrejo. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Tulungrejo, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Tegalasri, Kecamatan Wlingi.
Dalam Profil Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2010 – 2014, dikisahkan bahwa konon, wilayah Desa Krisik awalnya adalah hutan belantara, alas gung lewang-lewung, jalmo moro jalmo mati  (bahasa Jawa) yang artinya hutan belantara di mana orang yang datang akan mati karena sangat angker. Mbah Sukoboyo yang terkenal dengan kesaktiannya, dengan bersenjatakan sebilah keris memberanikan diri untuk memasuki hutan belantara tersebut.
Ternyata Mbah Sukoboyo selamat, tidak meninggal karena memasuki hutan belantara tersebut, kemudian Mbah Sukoboyo berinisiatif untuk menjadikan areal hutan menjadi lahan yang dapat tempat tinggal dan bercocok tanam. Setelah hutan tersebut dapat dihuni, maka berdatanganlah orang-orang untuk ikut bertempat tinggal di lahan yang telah dijadikan pemukiman.
Mbah Sukoboyo akhirnya wafat karena usia yang sudah uzur (konon usianya lebih dari 100 tahun ketika wafat) dan dimakamkan di sebuah bukit kecil di Desa Krisik. Penduduk sangat menghormati dan menghargai jasa-jasa Mbah Sukoboyo yang telah membabat hutan belantara menjadi sebuah desa. Penduduk juga sangat meyakini bahwa sebilah keris yang dimiliki Mbah Sukoboyo itu masih ada keberadaannya walaupun Mbah Sukoboyo sudah wafat, karena itu penduduk sering berkata “Kerise Isik” (dalam bahasa Jawa). Kemudian karena adanya semangat pembaharuan, maka pada sekitar tahun 1875, Djasari menamakan desa ini dengan nama Krisik (dari kata “Kerise Isik”), dan Djasari dipercaya penduduk untuk memimpin Desa Krisik dan diangkat menjadi lurah (1875-1890).   ***

0 komentar:

Posting Komentar