Senin, 27 Januari 2014

Sejarah Singkat Desa Tulakan

Desa Tulakan merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa perbukitan kapur. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 2.549 mm dan suhu rata 26°C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Tulakan tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 3.959 orang dengan jumlah 1.187 KK dengan luas wilayah 496,51 hektar. Desa Tulakan terdiri atas lima dusun, yaitu Dusun Krajan, Dusun Dlopo, Dusun Gesingan, Dusun Sepang, dan Dusun Tembelang
Secara adminstratif, Desa Tulakan  dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Losari. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Wonoanti. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Bungur, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Bungur.
Dalam Profil Desa Tulakan, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan diceriterakan bahwa alkisah dari para sesepuh Desa Tulakan, pada masa penjajahan Belanda dulu di wilayah Pacitan bagian timur (termasuk daerah Tulakan dan sekitarnya) tak berbeda dengan daerah lainnya hampir semua terjangkit wabah penyakit. Penyakit itu sukar disembuhkan. Bisa diibaratkan pagi sakit siangnya mati, siang sakit sorenya mati, malam sakit paginya mati. Betapa ganasnya penyakit yang menimpa masyarakat pada waktu itu. Berbagai usaha dari beberapa tokoh masyarakat untuk mengobati penyakit ini tidak membawa hasil, sehingga kemiskinan dan penderitaan masyarakat semakin merajalela. Dalam kondisi seperti ini ada suatu keanehan, ada sekelompok penduduk yang tidak tertimpa wabah, yakni penduduk yang tinggal ditepi sungai Tulakan.
Pada masa kolonialis Belanda, Onderan Tulakan  (sekarang Kecamatan Tulakan) terbagi menjadi beberapa kademangan. Salah satunya adalah Kademangan Tulakan. Wilayah Kademangan Tulakan ini masih sangat luas (bila dibandingkan dengan wilayah desa-desa yang ada sekarang ini).
Sekitar tahun 1850 M datanglah seorang pengembara dari Kraton Solo. Banyak hal yang menjadi perhatian pengembara ini. Salah satunya adalah adanya kelompok masyarakat yang terhindar dari wabah penyakit. Karena terhindarnya masyarakat ditepi sungai Tulakan ini merupakan suatu yang aneh, maka pengembara tadi berkata: “ Kanggo pangeling-eling daerah kang luput saka bebenduning Kang Murbeng Dumadi, yaiku wiwit saka perengan wetan sadawaning pinggir kali iku, tumeka poporing gunung kidul kae tak jenengake TULAKAN, mergo ditulak saka sakabehing bebendhu. “
Berdasarkan pernyataan pengembara dari Kraton Solo itu wilayah Kademangan Tulakan dipersempit menjadi daerah di sepanjang tepi sungai Tulakan. Sejak itulah wilayah Kademangan Tulakan ditetapkan meliputi sekitar tepi sungai yang kemudian dalam perkembangannya disebut sebagai Desa Tulakan sebagaimana yang ada sampai sekarang ini.
Adapun yang menjadi Kepala Desa Tulakan pertama kalinya adalah Sarponen. Akan tetapi periodisasi tidak ada catatan yang jelas. ***

0 komentar:

Posting Komentar