Minggu, 26 Januari 2014

Sejarah Singkat Desa Tutul

Desa Tutul merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran sedang, yaitu sekitar 30 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan data BPS Kabupaten Jember tahun 2010, curah hujan rata-rata mencapai 1.257 mm dengan suhu antara 28° - 37°C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Tutul tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 9.989 orang dengan jumlah 2.713 KK. Dilihat dari penyebaran etnis yang mendiami Desa Tutul, terdapat suku Jawa, suku Madura, dan sebagian kecil suku yang lainnya. Secara umum mata pencaharian masyarakat Desa Tutul dapat teridentifikasi ke dalam beberapa sektor, yaitu pertanian, industri, jasa, perdagangan, dan lain-lain. Akan tetapi, sebagian besar penduduknya masih bermatapencaharian sebagai petani.
Jarak tempuh Desa Tutul ke ibu kota Kecamatan Balung yaitu sekitar 3 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Jember adalah sekitar 25 kilometer.
Secara administratif, Desa Tutul dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Balung Lor, Desa Karang Semanding, dan Desa Karang Duren. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Karang Semanding, dan Desa Bagon, Kecamatan Puger. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Jambe Arum, Kecamatan Puger, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Balung Kulon dan Desa Balung Lor.
Dalam Profil Desa Tutul, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2011 – 2015, dikisahkan bahwa Desa Tutul berdiri sekitar tahun 1842, dan ketika itu, Desa Tutul masih merupakan hutan belantara. Pada saat itu, R. AryoTarongso beserta adiknya yang bernama R. Suryo mulai melakukan penebangan sejumlah pohon hutan (babat alas) guna dijadikan tempat tinggal mereka bersama keluarganya.
Hingga 4 tahun bermukim di daerah tersebut, penghuni desa tersebut masih sekitar 30 KK yang terdiri dari keturunan serta sanak keluarga R. Aryo Tarongso. Pada waktu itu, desa hasil babat alasnya sekitar 25 hektar.
Desa hasil babat alas tersebut awalnya diberi nama Sukosari. Dalam bahasa Jawa, suko berarti senang atau gembira, dan sari berarti rukun. Jadi, harapannya dulu, desa baru yang mereka usahakan tersebut kelak akan menyebabkan warganya senantiasa gembira dan rukun tenteram.
Kemudian, sekitar tahun 1853 ketika di bawah kepemimpinan kepala desa yang kedua pengganti R. Aryo Tarongso, yaitu Sarminten (1848-1859), mereka mulai membabat alas kembali untuk perluasan lahan karena semakin bertambah penduduknya. Saat membabat alas kali ini, mereka menjumpai banyak harimau yang bernoktah hitam besar dan banyak. Masyarakat setempat menyebutnya macam tutul. Sehingga, akhirnya R. Aryo Tarongso yang ketika menjadi demang, mengganti nama Desa Sukosari menjadi Desa Tutul, yang wilayah pemerintahannya meliputi pedukuhan Karangsemanding, dan pedukuhan Karangduren. Namun sekarang, Desa Tutul terdiri atas empat dusun, yaitu Dusun Maduran, Dusun Krajan, Dusun Kebon dan Dusun Karuk. ***

0 komentar:

Posting Komentar