Rabu, 12 Februari 2014

Sejarah Singkat Desa Paningkaban

Desa Paningkaban merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa dataran tinggi yang berbukit-bukit, yaitu sekitar 250 meter di atas permukaan air laut. Berdasarkan keadaan geografis desa, curah hujan rata-rata mencapai 2.500 mm dengan suhu udara rata-rata 37° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Paningkaban tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 5.105 orang dengan jumlah 1.440 KK dengan luas wilayah 536,010 hektar. Desa Paningkaban terdiri atas tiga dusun, yaitu Dusun I, Dusun II dan Dusun III. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani, baik yang memiliki lahan sendiri maupun buruh tanah, yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian.
Jarak tempuh Desa Paningkaban ke ibu kota Kecamatan Gumelar yaitu sekitar 10 kilometer. Sedang jarak ke ibu kota Kabupaten Banyumas adalah sekitar 33 kilometer.
Secara adminstratif, Desa Paningkaban dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Gancang. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Karangkemojing, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Darmakeradenan, Kecamatan Ajibarang.
Dalam Profil Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2011 – 2015, dikisahkan bahwa dahulu kala ada dua orang pengembara dari daerah Gumelem yang sedang menimba ilmu kebatinan di daerah Jawa Barat sekitar tahun 1850. Secara kebetulan salah satu dari pengembara itu dicintai oleh putri dari Guru Padepokannya. Karena pada awalnya kedua pengembara tersebut bertujuan untuk menimba ilmu, sehingga seiring berjalannya sang waktu, kedua pengembara tersebut berhasil menyelesaikan dalam menempuh ilmu. Lalu, keduanya mohon pamit untuk kembali ke kampung halamannya di wilayah timur Banyumas, yang konon kabarnya dari daerah Gumelem.
Dengan kepulangan kedua pengembara itu, menimbulkan rasa sakit hati terhadap putri Sang Guru Padepokan tadi, yang telah terlanjur mencintai salah satu pengembara tersebut, sehingga yang terjadi di dalam perjalanan pada malam hari, salah seorang pengembara yang dicintai putri dari Guru kebatinan itu, dikirimi santet atau teluh oleh gurunya sendiri hingga menyebabkan pengembara yang dicintai meninggal di malam itu juga. Dengan meninggalnya salah seorang pengembara tersebut, sebelum dikuburkan ditutup dengan daun talas.
Sehingga siang harinya, setiap warga datang dan penasaran terhadap jasad tersebut. Setiap orang yang datang melayat pada saat itu merasa penasaran ingin melihat (dalam bahasa Jawa, menyingkab) dengan cara membuka dan menutup mayat tersebut.
Selesai dimakamkan, warga sekitar member nama tempat tersebut dengan istilah Penyingkaban dengan berjalannya waktu warga menamai Peningkaban yang saat ini dikenal dengan Desa Paningkaban. ***

0 komentar:

Posting Komentar