Minggu, 27 April 2014

Kunstkring Jadikan Menteng Lebih Bermakna

Berusia 100  tahun tidak membuat Tugu Kunstkring Paleis renta dan kumal. Tua-tua keladi, gedung tua di Jalan Teuku Umar Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat, kini justru teramat cantik dan anggun. Di sini, segala sesuatunya bukan hanya seni, melainkan juga antik, bernilai historis, ekslusif, dan menawan luar biasa.
Selasa (15/4), tiba kesempatan untuk menikmati Kunstkring. Sore itu, hujan baru saja lewat. Segelas besar wedang jahe disajikan dengan gula merah cair. Pilihan tepat untuk mengawali perjalanan wisata sejarah dan lidah.
Kunstkring dibuka pertama kali pada 17 April 1914 dan menjadi pusat ekshibisi seni dan restoran mewah. Berada di sana menjalin tren baru bagi masyarakat kelas atas kala itu.
Tahun 1914 hingga awal 1939, banyak pergelaran untuk menunjukkan penghargaan tertinggi pada seni di Kunstkring, yang dalam bahasa Indonesia berarti lingkaran seni.
Lukisan karya Pablo Picasso dan Vincent van Gogh termasuk yang pernah dipamerkan di gedung dua lantai ini.
Gedung yang dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu kini disewa dan dikelola Grup Hotel Tugu dan Restoran. Dengan semangat yang sama, grup ini mengembalikan Kunstkring seperti fungsinya dulu.

Menoleh ke belakang
Anhar Setjadibrata, pendiri Grup Hotel Tugu dan Restoran, mengajak berkeliling di gedung yang sempat dijadikan kantor imigrasi. Gedung ini pada 4-5 tahun lalu pernah dijadikan bar kontrovesi. Pernah juga dibiarkan terbengkalai.
Perlahan, setiap pengunjung ditarik merambati waktu menuju masa silam negeri ini. Di tangan Anhar, keaslian gedung tua ini dijaga ketat. Namun, interior di dalam gedung mendadak raya dan bernilai seni tinggi setelah pria ini mengerahkan koleksi warisan keluarga besar Raja Gula Oei Tiong Ham sebagai penghias Kunstkring.
Ruang Pangeran Diponegoro yang menjadi ruang utama restoran mungkin menjadi satu-satunya tempat trah dua kerajaan di Surakarta, Jawa Tengah, yaitu Mangkunegaran dan Pakubuwono, bisa berlama-lama bersama dalam satu ruangan. Saat melangkah masuk, pengunjung akan melewati pintu keemasan dengan lambing MN alias Mangkunegara. Di dinding dalam ada sederet peninggalan PB atau Pakubuwono. Di ruangan yang luas ini, ada lukisan “The Fall of Java” karya Anhar. Lukisan sepanjang 9 meter ini mengisahkan Pangeran Diponegoro dan penangkapannya akibat kelicikan penjajah.
“Ini semua pemberian langsung dari yang bersangkutan kepada keluarga Oei Tiong Ham. Kami punya peninggalan Soekarno yang khusus kami sajikan di Ruang Soekarno. Untuk menghormati Multatuli dan belajar darinya, ada juga ruang khusus dengan namanya,” kata Anhar.
Bagi Anhar, menjadikan Kunstkring seperti dulu butuh perjuangan ekstra. Ia punya pandangan bahwa siapa pun, terlebih masyarakat sebuah bangsa, butuh menengok ke belakang, ke masa lalunya. Banyak hal bisa dipelajari dari setiap benda bernilai seni dan sejarah.
Di Kunstkring, benda seni dijamin memiliki nilai tambah. “Bukan sekadar cantik, tetapi ia pernah dimiliki atau minimal dipegang oleh orang penting. Apa yang ada di sini termasuk benda yang jarang ditemukan di tempat lain,” tambah Anhar.
Namun, demi kemajuan seni budaya di Jakarta, Kunstkring yang berada tepat di jantung kawasan cagar budaya Menteng membuka diri bagi siapa saja yang ingin memamerkan karya seninya. Sebuah aula besar di lantai dua jadi ruang khusus ekshibisi. Anhar berharap, romantisme masa silam saat karya seni dihargai setinggi-tingginya di kota ini akan terulang.

Relaksasi semua indera
Salah satu pintu di lantai dua mengantar tamu masuk ke ruang kecil berisi meja bundar dengan empat kursi. Rasa takjub tiba-tiba menjalar melihat ruang itu tepat di bawah kubah tinggi dengan susunan bata dan balok kayu yang masih kokoh.
Dari ruang berkubah, suasana yang begitu berbeda dirasakan saat berada di The Balcony of Menteng. Sebuah balkon dengan ubin asli berusia satu abad.
Biarkan mata, kulit, telinga, hingga hidung mendapatkan kemewahan. Udara segar dan bersih menyapa dari hamparan rumput hijau tebal. Tajuk pohon-pohon tinggi menjadi tirai alami yang membatasi diri dari keriuhan jalan aspal di seberang sana.
Saat hendak bersantap, kejutan sepertinya enggan berakhir. Ruangan hening dan temaram, lagu “Jali-jali” tiba-tiba mengentak mengiringi 12 pramusaji menari mengelilingi tamu. Mereka membawa serta aneka hidangan. Seusai beratraksi, satu per satu minuman, panganan, hingga makanan inti disajikan. Inilah rasanya menjadi tuan dan nyonya yang dilayani sepenuh hati.
“Ini adalah Tugu Grand Rijsttafel Betawi. Ada pilihan 12, 16, dan 24 menu. Sajian ini khas Kunstkring,” kata Annette Anhar, putri bungsu Anhar.
Duh, jadi susah berhenti mengudap panganan enak dalam potongan kecil seperti kue tok dan onde-onde. Kuah dan isi es selendang mayang nendang sekali di mulut. Belum lagi nasi uduk yang dibungkus daun pisang, semur lidah, dan sate lembut berupa olahan daging sapi cincang yang direkatkan pada bilah-bilah tebu. Alamak lezatnya. [NELI TRIANA]

Sumber: Kompas Edisi Sabtu, 19 April 2014

0 komentar:

Posting Komentar