Kamis, 17 April 2014

Prasasti Mātaji

Prasasti Mātaji merupakan satu dari empat prasasti yang ditemukan di Desa Bangle, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Prasasti in situ ini sekarang masih berada di tempat penemuannya di areal hutan jati yang terletak di salah satu bukit yang oleh penduduk setempat disebut Gunung Sili.
Prasasti Mātaji berangka tahun 973 Çaka atau 1051 M dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno masa Airlangga dengan gaya penulisan berbeda berupa bentuk dasar persegi tegak, tidak condong ke arah kanan, serta pada beberapa aksara masih dijumpai kuncir yang dikenal pada masa Airlangga dan masih dipertahankan hingga masa Kediri.
Prasasti Mātaji termasuk ke dalam prasasti berbentuk stele dengan puncak lancip, seperti bentuk umum prasasti yang tersebar di Jawa Timur. Prasasti ini terbuat dari batu gamping dengan tinggi 130 cm, lebar atas 105 cm dan lebar bawah 92 cm, serta memiliki ketebalan 44 cm. Lebar puncaknya 67 cm dan ketinggian dari bahu hingga dasar 84 cm dengan lebar bahu 38 cm.
Sebagaimana umumnya prasasti batu, prasasti Mātaji hanya terdiri dari atas satu batu, berbeda dengan prasasti yang dibuat dari emas, perak, atau tembaga yang terdiri atas beberapa lempeng sehingga harus jelas jumlah dan urutan lempengnya.
Prasasti Mātaji dikeluarkan oleh seorang raja yang bergelar Śrī Mahārajyetêndrakara Wuryyawīryya Parakramā Bhakta dan Śrī Mahārajyetêndra Paladewa. Raja Jitêndra memberikan anugerah sīma gaňjaran kepada penduduk desa Mātaji dengan perantaraan (sopana) Sang Hadyan dan disaksikan oleh para Tandha Rakryan riŋ Pakirakiran. Anugerah ini diberikan kepada penduduk Desa Mātaji karena mereka selalu menolong raja mengusir dan menumpas musuh-musuhnya hingga habis. Sayang sekali informasi mengenai unsur-unsur lain yang umumnya dijumpai dalam prasasti sīma tidak diketahui pada prasasti ini karena tulisan yang sudah aus.
Berdasarkan toponimi, desa Mātaji diduga merupakan desa yang terletak di daerah perbatasan Kerajaan Jenggala dan Panjalu, sehingga di desa ini sering terjadi peperangan antara kedua belah pihak. Prasasti Mātaji menyebutkan adanya peperangan yang sering terjadi di desa Mātaji yang secara topografis terletak di daerah pegunungan dan dataran perbukitan.
Panjalu merupakan pecahan kerajaan Airlangga setelah dibagi dua dengan Kerajaan Jenggala. Prasasti Mātaji merupakan prasasti pertama yang memuat informasi mengenai keberadaan Kerajaan Panjalu setelah peristiwa pembagian kerajaan oleh Airlangga. Prasasti ini juga menyebutkan berbagai informasi seperti unsur birokrasi kerajaan, nama raja beserta gelar lengkapnya, serta peristiwa yang kerap terjadi di Kerajaan Panjalu pada masa itu. ***

Kepustakaan:
Shalihah Sri Prabarani, 2009, Prasasti Mātaji: Sebuah Kajian Data Sejarah, dalam Skripsi Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar