Senin, 21 April 2014

Sunan Ampel

Nama aslinya adalah Mohammad Ali Rahmatullah berasal dari Campa, yaitu daerah kerajaan Islam yang sekarang ikut kerajaan Thailand bagian selatan. Sampai sekarang pun penduduknya masih taat beragama Islam.
Sunan Ampel adalah saudara sebapak dengan Maulana Ishaq yaitu anak Ibrahim Samarqandi (sering pula disebut Ibrahim Asmara).
Sunan Ampel datang ke Jawa pada tahun 1421 M untuk mengganti Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 M. Sunan Ampel mempunyai tujuh anak.

Dengan isteri pertama (Dewi Condrowati binti Brawijaya) dikaruniai lima anak:
  1. Siti Syari’ah (isteri Sunan Kudus).
  2. Siti Mutmainnah (isteri Sunan Gunung Jati).
  3. Siti Khafshah (Isteri Sunan Kalijaga).
  4. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), isterinya Dwi Hirroh dari Madura.
  5. Raden Qasim (Sunan Drajat Sedayu), isterinya Dewi Hasanah dari Cirebon.

Dengan isteri kedua (Siti Karimah dari Desa Kembang Kuning, Surabaya) dikaruniai dua anak:
  1. Dewi Murthosiah (isteri Sunan Giri).
  2. Dewi Murthosimah (isteri Raden Fatah, raja Demak).

Asal Mula Kedatangan Sunan Ampel
Setelah wafat Malik Ibrahim tahun 1419 M di Gresik, berpikirlah Maulana Ishaq untuk mendatangkan saudaranya sebapak yaitu cucu raja Campa yang bernama Mohammad Ali Rahmatullah. Setelah berunding dengan wali-wali lain dan mereka menyetujui, berangkatlah Maulana Ishaq ke Campa.
Sesampai di Campa, berundinglah Maulana Ishaq dengan raja Campa. Raja Campa sangat menyetujui rencana Maulana Ishaq itu. Lalu diberangkatkan serombongan utusan persahabatan dari Campa kepada raja Majapahit.
Betapa gembiranya raja Majapahit menerima rombongan itu, karena raja Majapahit mendapat puteri raja Campa yang sangat cantik dan halus budinya untuk dijadikan isteri. Maka diadakanlah jamuan perkawinan raja Brawijaya dengan puteri Campa.
Karena puasnya mendapatkan isteri puteri Campa, maka semua isterinya yang 80 banyaknya diberikan pada adipati dan bupatinya. Adipati Sriwijaya Arya Sedamar yang sudah masuk Islam karena Maulana Hasanuddin, dia mendapat bekas isteri mertuanya. Karena taat pada peraturan Islam, bekas isteri mertuanya yang hamil itu tidak dikumpuli.
Sebelumnya raja Brawijaya berpesan, bila lahir lelaki supaya nyuwita (turut) Brawijaya, tetapi bila lahir perempuan supaya diatur oleh Arya Sedamar sendiri. Dan ternyata lahir kembar lelaki yang diberi nama oleh Arya Sedamar dengan Raden Hasan dan Raden Husain. Keduanya dididik ke-Islaman oleh Arya Sedamar. Yang nantinya disuruh belajar pada Sunan Ampel.
Adapun puteri Campa sangat dicintai dan dituruti raja Brawijaya. Selanjutnya puteri Campa memberitahu: “Bila manusia suka berjudi, maka akan merajalela pencurian, perampokan dan korupsi. Dan bila manusia suka mabuk-mabukan, maka dengan mudah akan membocorkan rahasia pribadinya, temannya dan negaranya. Hal ini sangat berbahaya bila melanda para adipati dan bupati serta anak-anak mereka. Saya mempunyai kemenakan ahli mendidik dalam masalah ini, namanya Ali Rahmatullah.”
Maka didatangkanlah Mohammad Ali Rhmatullah. Ketika Ali Rahmatullah tiba di Majapahit, raja Brawijaya sangat kagum atas ketampanan dan kehalusan budi pekertinya, Raja menyuruhnya memilih di antara puterinya untuk dijadikan isteri. Lalu, Ali Rahmatullah memilih Dewi Condrowati (saudari isteri Adipati  Tuban, Raden Pratikna).
Kemudian Ali Rahmatullah diberi tanah beserta bangunannya di desa Ampel, Surabaya. Para adipati dan bupati diperintah belajar budi pekerti di Ampel. Sedang anak-anak mereka diharuskan menetap di pesantren Ampel untuk belajar. Sejak itulah agama Islam berkembang di Jawa dengan pesatnya, melalui jalur pelajaran budi pekerti yang ditembuskan pada kerajaan Majapahit. Adapun Ali Rahmatullah menamakan Sunan Ampel.
Ternyata yang belajar pada Sunan Ampel bukan hanya anak-anak pembesar Majapahit saja, banyak berdatangan dari rakyat biasa, baik dari wilayah Majapahit maupun dari wilayah lain. Bahkan pada tahu 1470 M datang pemuda Persia (Iran) yang bernama Ali Saksar untuk belajar pada Sunan Ampel. Dia itulah yang kelak menamakan diri Syeikh Siti Jenar.
Adapun raja Brawijaya sangat memuji hasil didikan Sunan Ampel yaitu sama mencegah diri dari lima hal yang mereka sebut Moh Limo:

  1. Moh main (Tidak mau main judi)
Main judi itu bila kalah akan menyusahkan dirinya, keluarganya, atau negaranya. Dan bila menang berarti membikin susah pada yang dikalahkan. Kalau tidak ada harta di rumah, keluarganya, timbullah mencuri, merampok dan korupsi akibat dorongan ingin main judi.
  1. Moh minum (Tidak mau minum yang memabukkan)
Minum yang memabukkan adalah melemahkan akal, mematikan pertimbangan baik-buruk. Waktu mabuk dapat membuka rahasia dirinya atau rahasia temannya atau rahasia negaranya, sehingga membuat marah temannya atau dipecat dari jabatannya.
  1. Moh maling (tidak mau mencuri atau korupsi)
Maling atau mencuri itu jelas merugikan yang dicuri. Tak terpikir bagi dirinya bagaimana bila dirinya kecurian, betapa kecewanya. Menabung sedikit demi sedikit untuk suatu keperluan ternyata uangnya dicuri orang.
  1. Moh madat (Tidak mau merokok candu)
Madat atau candu itu suatu perbuatan yang kelihatannya menguntungkan, namun sebenarnya sangat merugikan. Badan jadi kurus, suka berkhayal dan pemalas.
  1. Moh madon (Tidak mau berzina)
Madon atau berzina itu menimbulkan penyakit yang dapat merusak dirinya dan keturunannya. Sekarang penyakit itu dinamai orang Sipilis atau Gonorho (kencing nanah).

Itulah alasan Sunan Ampel yang sangat disukai dan disetujui raja Brawijaya, sehingga bantuan material (uang) dari raja Brawijaya terus mengalir banyak. Raja Brawijaya menganggap agama Islam adalah didikan budi pekerti. Maka ketika Sunan Ampel mengumumkan bahwa ajarannya adalah agama Islam, raja Brawijaya tidaklah marah dan masih tetap member bantuan. Raja Brawijaya sudah sangat mempercayai dan mencintai Puteri Campa dan kemenakannya. Maka musyawarah para wali tahun 1436 M ditempatkan di Ampel, Surabaya.

Riwayat Sunan Ampel dan Siti Karimah
Di desa Kembang Kuning, Surabaya, ada seorang gadis cantik bernama Siti Karimah. Dia anak Ki Ageng Supa Bukul. Ketika Siti Karimah berjalan di tepi sungai Bukul (sekarang Kalimas), buah delimanya terjatuh ke sungai dan terapung. Sesampai di rumah barulah dia ketahui. Karena pada waktu itu telah malam, Siti Karimah tidak berani mencari sendiri. Lalu dia bernadzar, bila yang memberikan buah delima itu lelaki akan diminta menjadi suaminya. Dan bila perempuan akan diminta menjadi saudaranya.
Pada waktu Subuh, kebetulan ketika Sunan Ampel mau berwudlu dia dapati buah delima yang terapung di sungai. Diambilnya buah itu, dalam hatinya berkata: “Bila buah ini kuberikan pada yang punya, tentulah senang hatinya.”
Setelah shalat Subuh, berjalanlah Sunan Ampel menyelusuri hulu sungai. Beliau menanyakan pada penghuni tiap-tiap rumah siapa yang kehilangan buah delima. Sesampai di rumah salah satu muridnya yaitu Ki Ageng Supa, Sunan Ampel diberitahu, bahwa anaknya memang kehilangan buah delima. Dan dia bernadzar, bila yang memberikan buah delima itu lelaki diharap mau jadi suaminya. Sunan Ampel menerima permintaan Siti Karimah dan ayahnya. Kemudian menikahlah Sunan Ampel dengan Siti Karimah.
Lalu di desa Kembang Kuning, Sunan Ampel membangun masjid dan pesantren sebagai cabang Ampel. Sampai sekarang masjid itu dinamai Masjid Rahmat. Adapun Siti Karimah dengan Sunan Ampel dikaruniai dua putrid, Dewi Murthosiah dan Dewi Murthosimah.
Sunan Ampel wafat pada tahun 1481, dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Sunan Ampel. Kompleks makam tersebut terdapat puluhan makam yang mempunyai kisah unik dan menarik, seperti makam mBah Sholeh dan makam mBah Shonhaji.

Kepustakaan :
K.H. Dachlan, 1989, Wali Songo, Kenang-kenangan Haul Agung Sunan Ampel ke-544: Surabaya

0 komentar:

Posting Komentar