Senin, 26 Mei 2014

Gedung Balai Penelitian Tanah Bogor

Bogor memang terkenal memiliki banyak peninggalan sejarah di bidang pertanian maupun kehutanan. Banyak gedung peninggalan kolonial Belanda terkait hal itu terdapat di Bogor. Salah satunya adalah Gedung Balai Penelitian Tanah.
Gedung ini terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 98 Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi bangunan gedung ini tepat berada di depan Balai Besar Industri Agro (BBIA), atau bersebelahan dengan Gedung Badan Planologi Kehutanan.
Gedung Balai Penelitian Tanah ini dibangun pada tahun 1905. Dulunya, gedung ini bernama Laboratorium Voor Agrogeologie en Grond Onderzoek, sebagai bagian dari Lands Plantentuin atau yang kini kesohor dengan nama Kebun Raya Bogor.
Dalam perjalanannya, gedung ini pernah berganti-ganti nama. Gedung ini sempat menjadi Bodemkundig Instituut hingga masa pendudukan Jepang pada tahun 1942. Oleh Jepang, gedung tersebut diganti namanya menjadi Dozyoobu. Namun, setelah Indonesia merdeka, nama Bodemkundig Instituut kembali digunakan.


Pada tahun 1950, nomenklatur Bodemkundig Instituut diganti menjadi Balai Peneyelidikan Tanah, dan pada tahun 1961 menjadi Lembaga Penyelidikan Tanah. Setahun kemudian, namanya berubah lagi menjadi Lembaga Penyelidikan Tanah dan Pemupukan, dan pada tahun 1976 diganti lagi menjadi Lembaga Penelitian Tanah, dan menjadi Pusat Penelitian Tanah pada tahun 1981.
Pada 29 September 1988, gedung ini juga pernah diresmikan berdirinya Museum Tanah yang bekerjasama dengan International Soil Reference and Information Centre (ISRIC) Wageningen Belanda.
Pada tahun 1990 mandat penelitian diperluas ke bidang agroklimatologi. Konsekuensinya, nama institusi ini  dirubah menjadi Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (Puslittanak). Setelah Otonomi Daerah, yakni pada tahun 2001 nama ini berubah lagi menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslitbangtanak). Pada tahun 2002 Puslitbangtanak mempunyai tiga balai penelitian. Salah satunya adalah Balai Penelitian Tanah (Balittanah).
Balai Penelitian Tanah (Balittanah) bertugas melakukan penelitian untuk menghasilkan teknologi dan informasi sumberdaya dan pengelolaan tanah serta memberikan pelayanan dalam bidang analisis tanah, air, tanaman, dan pupuk, pemetaan, analisis data penginderaan jauh (inderaja), pelayanan basis data tabular dan spasial (menggunakan GIS), serta berbagai pelayanan lain yang berhubungan dengan informasi dan teknologi pengelolaan tanah. Sehingga, bangunan gedung ini boleh dibilang masih digunakan sebagai balai penelitian yang sama seperti ketika gedung ini didirikan.
Gedung yang memiliki luas bangunan 544,5 m² di atas lahan seluas 1.028 m² ini bergaya arsitektur kolonial Belanda, yang ditandai dengan jendela-jendela tinggi yang masih asli berbentuk persegi panjang dan terbuat dari kayu.
Pada bagian depan gedung, tepatnya di atas pintu masuk utama terdapat tulisan angka tahun dibangunnya gedung ini, dan sekaligus nama dari bangunan gedung ini. *** [120514]

0 komentar:

Posting Komentar