Kamis, 01 Mei 2014

Prasasti Wukiran

Prasasti Wukiran berangka tahun 784 Çaka atau 862 M, dengan menggunakan aksara Jawa Kuno dan memakai dua bahasa, yaitu bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa Kuno. Bagian awal prasasti menggunakan bahasa Sansekerta sebanyak 6 baris yang berisi puji-pujian terhadap Śiwa dan Walaing. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno sebanyak 9 baris. Di baris ke 17 kembali menggunakan bahasa Sansekerta yang berisi puji-pujian terhadap Kumbhayoni. Dua baris terakhir ditutup dengan bahasa Jawa Kuno.
Prasasti yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni ini, terbuat dari batu andesit (upala praśasti) yang berbentuk blok dengan puncak setengah lingkaran atau membulat. Secara keseluruhan, prasasti Wukiran mempunyai tinggi 84 cm yang diukur dari bawah hingga hingga ujung puncak prasasti. Tinggi bagian badan prasasti adalah 71,5 cm dan bagian puncak 12,5 cm. Panjang prasasti adalah 35,5 cm dengan ketebalan batu yang berbeda yaitu antara 10-12 cm.
Prasasti Wukiran ditemukan di Desa Pereng, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah pada tahun 1890, sehingga kadang-kadang prasasti ini dikenal juga dengan nama prasasti Pereng. Lokasi penemuan ini berada di kaki pegunungan selatan antara kompleks Kraton Ratu Boko dan Candi Sojiwan, sekitar 2 kilometer dari Kompleks Candi Prambanan. Kini, prasasti Wukiran disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D.77 di dalam museum gedung baru lantai 2.
Prasasti Wukiran menyebutkan bahwa pada tanggal 3 Suklapaksa bulan Magha 784 Ç, Rakai Walaing Pu Kumbhayoni, cicit Sang Ratu Halu memberikan sebidang sawah di Wukiran seluas dua tampah untuk persembahan bagi Sanghyang Winaya. Disusul dengan daftar pejabat yang bertindak sebagai pelaksana dan saksi penetapan sīma itu, yang ditutup dengan kutukan terhadap mereka yang berani menghapuskan status sīma tersebut.
Baris berikutnya berisi keterangan dalam bahasa Sansekerta yang memuat puji-pujian terhadap Kumbhayoni yang membangun sebuah candi yang bernama Bhadraloka demi kesejahteraan anak cucunya dan rakyatnya dengan pengharapan semoga selanjutnya di dunia ini selalu ada kebahagiaan, ketaatan terhadap dewa-dewa, kebijakan, keluhuran budi, dan kemurahan hati, termasuk bagi para pendeta dan raja. Serta adanya keinginan agar tidak ada permusuhan, penyakit, dan kebencian. Sebagai penutup kembali menggunakan bahasa Jawa Kuno yang berisi daftar daerah kekuasaan Kumbhayoni, yaitu daerah Tunggang, Dawĕt, Langka, Sĕrĕh, air terjun Walā, Walaing, Lodwāng.

Alih aksara:
// yata ° utpan=na vi ś=va yatra ca jâ taṁ vilīnam api yatra
tas=mai namo bhagava te śivāya śivakāriṇe tu bhyam
pathagāpidū raduritāśū n=yāpihitapradānimiṣa pū rᶇ =nā
śivira vŗtāp=yatipū tā śilā yato jan=mibhi pū j=yâ //o//
// yâva t k=he ravi śa śinau yâvad =dhâtri catus=samudra vŗtā
yâvad =daśa diśi vâyus =tâvad= bhak=ti valai nām=nah //o//
// S=was=ti śaka waratīta 784 mâgha mâsa śuk=lapak=a
tŗtīya somawârâ tat=kâla rake walaiŋ pu ku m=bhayo-
-ni puyut saŋ ratu °I halu pak=wia=nira °I jaŋlu ran ma-
-we sawa °I wu kiran tampa ali °I tam=wâhuraŋ aran=ni
kanaŋ sawa d=mak carua saŋ h=ya winâya °uwaŋ saŋ pam=gat
mehakan °I kanaŋ sawa saŋ tuha kalaŋ pu nis=ta gu  =ti
si °u=ga win=kas si manik=a paru jar kâli si ara si=
ma=gah tu=gu kuvu si w=si wahu ta si mit=ra satau=daha
ni °inajarraken =mapati kâli wadihati maku dur ti-
ru °an °asiŋ muput °ikiŋ sīma °upadrawâ br ah=mahat=ya
/o/ vihite kalaśaja nāmnā bhadrālokāh=vaye vivudha ge
he tas=yā tha pu tra potrāḥ bhavan=tu lab=dhe=ta padajīvāḥ
°an=yac=ca jagatāṁ śivam as=tu sadā bho d=vija râj=na tatha sivara tāna
ś=ru ti bhak=ti dâna dharm=ma bhavan=tu nārātirogers=yâḥ
tugaŋ dawĕt =laka sĕ rĕh vu lakan =ni walâ walai
lod=wam wan=wa niraŋ dhīmān ku m=bhayoni aran=nira

Alih bahasa:
// di mana kelahiran dikendalikan, di sana juga pemberian pertumbuhan
(karena itulah) diberikan hormat kepada yang mulia Śiwa dan Durga
meskipun diletakkan jauh dari jalan namun (ia) terisi kekosongan penuh dengan kewaspadaan dan menjauhi keburukan
setelah batu ini dimurnikan (maka ia) mengelilingi (serta) mengendalikan tempat kediaman kerajaan (sehingga) ia patut dihormati oleh semua makhluk //
// ketika matahari dan bulan di langit dan selama (dunia) dijaga dan dikelilingi oleh empat samudra
selama masih ada angin di sepuluh wilayah, maka daerah yang bernama Walaing dihormati //o//
//selamat tahun Śaka telah berlalu 784 pada paro terang bulan Magha
hari senin tanggal 3, ketika Rakai Walaing Pu Kumbhayoni
(yang merupakan) buyut laki-laki dari Sang Ratu i Halu dan kakek buyutnya di Jangluran
memberi sawah di Wukiran dan Tamwahurang masing-masing berukuran satu tampah
itu sawah (merupakan) hadiah dari raja (sebagai) persembahan untuk Sang Hyang Winaya yang menggema . sang pamgat
memberikan itu sawah (untuk) sang tuha kalang yang bernama Pu Nista, gusti (yang bernama)
si Unggah, pembawa pesan (vinkas) (bernama) Maniksa, dua juru bicara (parujar) yaitu Ara
(dan) Manggah, penjaga (tunggu) kuwu bernama Wsi, wahuta bernama Mitra dan pemimpin upacara
(sumpah) diucapkan oleh dua mapatih, yaitu (samgat) wadihati dan (samgat) makudur
(samgat) tiruan (adalah) orang-orang yang menyelesaikan (upacara) sīma ini (dengan membuat sumpah bahwa barang siapa yang menghancurkan sīma akan mendapatkan) bencana (setara dengan dosa) membunuh Brahman
/o/ ketika bangunan yang kuat (bernama?) Bhadraloka didirikan oleh (dia) yang bijaksana dan (terlahir) dari tempayan (Agastya)
kemudian keturunan-keturunannya selalu memperoleh langkah kehidupan dan jadilah apa mereka yang diinginkan
selain itu demikianlah (ia) memiliki seluruh dunia, pendeta raja serta dibahagiakan oleh Śiwa
jadikanlah dharma (kewajiban), sedekah, perhatikan perintah dan bukan (jadikan) musuh, penyakit dan iri
Tunggang Dawet, Langka Sĕrĕh, Wulakan, (air terjun) Walā, Walaing
Lodwang, (adalah) wanwa milik Kumbhayoni yang bijaksana

Kepustakaan:
Tres Sekar Prinanjani, 2009, Prasasti Wukiran 784 S: Suatu Pembacaan Ulang, dalam Skripsi di Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar