Rabu, 21 Mei 2014

Stasiun Kereta Api Bogor

Stasiun Kereta Api Bogor atau biasa disebut dengan Stasiun Bogor merupakan salah satu stasiun yang berada di bawah kewenangan Daerah Operasi (DAOP) 1 Jakarta, dan terletak pada ketinggian 246 m di atas permukaan laut.
Stasiun ini terletak di Jalan Nyi Raja Permas No. 1 Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini tepat berada di belakang Taman Ade Irma Suryani, atau yang lebih dikenal dengan nama Taman Topi.


Pembukaan jalur rel kereta api dari Batavia menuju Buitenzorg (nama lampau Bogor) dilakukan oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatspoorwegen, pada tahun 1872 dan mulai digunakan dalam tahun 1873. Pembuatan jalur ini dimaksudkan untuk mempersingkat perjalanan Batavia menuju Buitenzorg yang ketika itu masih menggunakan kereta kuda untuk dapat melayani penumpang yang terus meningkat jumlahnya diperlukan ruangan-ruangan yang lebih besar, baik untuk ruangan bekerja maupun ruang tunggu. Untuk keperluan itu pulalah maka dibangun stasiun yang lebih representatif untuk memfasilitasi orang-orang Belanda yang akan beristirahat di Buitenzorg. Pembangunan stasiun dilakukan pada tahun 1875 dan baru selesai pada tahun 1881.
Bangunan stasiun ini memiliki luas bangunan 5.995 m² di atas lahas seluas 43.267 m² dan berfungsi sebagai fasilitas perhubungan umum serta sepenuhnya menjadi milik PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI). Stasiun ini tergolong megah bila dibandingkan dengan stasiun-stasiun yang ada di jalur Batavia-Buitenzorg.


Pada tampak depan stasiun ini, terdapat relung-relung dengan atap tinggi, gevel atau atap segitiga pada bagian depan dan bertuliskan angka tahun dibangunnya stasiun ini. Bangunan stasiun ini memiliki dua lantai dengan gaya arsitektur Indische Empire yang ditandai dengan teras depan yang luas, gevel depan yang menonjol dan kolom-kolom gaya Yunani yang menjulang ke atas.
Salah satu ruangan di stasiun ini terdapat prasasti yang terbuat dari marmer untuk mengenang David Marschalk yang memasuki masa pensiun atas jasanya mengembangkan perkeretaapian di Pulau Jawa.
Seperti stasiun lainnya, bangunan stasiun ini memiliki hall atau vestibule yang beratap tinggi sehingga mampu menyimpan sirkulasi angin, loket, fasilitas administratif (kantor kepala stasiun dan staf), fasilitas operasional (ruang sinyal, ruang teknik), musholla, kantin dan toilet umum.
Hanya saja sayangnya halaman depan atau front area terkesan kumuh lantaran dijadikan lokasi komersial untuk grosir, seperti garmen maupun sepatu atau sandal. Seandainya, front area dikembalikan seperti semula, bukan mustahil kenangan Wilhelmina Park akan menjadi kenyataan lagi, dan kemegahan tampak depan stasiun ini akan bisa disaksikan dari keempat sudut taman tersebut. *** [120514]

0 komentar:

Posting Komentar