Selasa, 10 Juni 2014

Gedung Badan Pertanahan Nasional Bogor

Bogor sebagai kota kolonial berawal ketika Gubernur Jenderal Gustaaf van Imhoff pada tahun 1743-1750 mendirikan tempat peristirahatan di Buitenzorg. Pemilihan lokasi dibangunnya Istana Bogor dikarenakan basis ekologisnya yang sangat kondusif, pemandangan alam yang indah, tanah yang subur, iklam yang sejuk, serta letak geografis yang strategis. Selain itu, setelah Istana Bogor dibangun, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dibuatlah Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang melintasi Istana Bogor dan menghubungkan Batavia dengan Buitenzorg.
Kota Buitenzorg (nama lama Kota Bogor) memiliki makna sebagai kota istirahat sehingga hal ini banyak mempengaruhi berdirinya bangunan kolonial yang digunakan untuk pemukiman orang-orang Belanda yang salah satunya adalah Gedung Badan Pertanahan Nasional Bogor.


Gedung Badan Pertanahan Nasional (BPN) ini terletak di Jalan Salak No. 2 Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi bangunan gedung ini berada di depan Istana Bogor agak ke timur.
Awalnya, gedung BPN ini merupakan bangunan untuk tempat tinggal yang dihuni oleh keluarga Belanda. Diperkirakan keluarga tersebut juga merupakan keluarga yang mempunyai kedudukan di kalangan masyarakat Belanda yang tinggal di Batavia. Bangunan ini didirikan pada tahun 1938, dan dikenal dengan sebutan Gedung Blenong.
Gedung ini memiliki luas bangunan 807,50 m² di atas lahan seluas 1.744,20 m². Bagian atapnya memiliki kubah yang terbuat dari beton, sedangkan bagian depan terdapat tiang penyangga atap yang membentuk serambi.
Gedung Blenong, yang semula merupakan bangunan pemukiman orang Belanda, sekarang ini status kepemilikannya dipegang oleh Negara, dalam hal ini adalah BPN. Sehingga, di halaman depan terpampang Badan Pertanahan Nasional RI sebagai penanda bahwa bangunan gedung ini kini dipergunakan sebagai Kantor BPN Bogor. *** [260514]

0 komentar:

Posting Komentar