Senin, 23 Juni 2014

Monumen dan Museum PETA

Kesepakatan para founding father, yaitu Soekarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantoro, Ki Ageng Suryomataram, Gatot Mangkuprojo, K.H. Mas Mansyur, K.H. Agus Salim, agar bangsa Indonesia mendapat latihan kemiliteran merupakan ide pembentukan  tentara pembela tanah air (PETA). Secara de facto dan de jure pembentukan PETA berdasarkan maklumat Osamu Seirei No. 44 tanggal 3 Oktober 1943 yang diumumkan Panglima Tentara ke-16 Jepang Letnan Jenderal (Letjen) Kumakichi Harada untuk membantu tentara Jepang sebagai kekuatan cadangan.
Pelatihan tentara PETA dipusatkan di Boei Gyugun Resentai Bogor dengan materi taktik dan teknik tempur dari tingkat Daidancho (Danyon), Chudanco (Danki) dan Shodancho (Danton) dengan instruktur Jepang. Bila ditelisik sudah banyak peran yang dilakukan tentara PETA, dalam proses mempersiapkan, merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan RI. Hal ini dapat dilihat di mana pada 16 Agustus 1945, PETA mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok karena di Jakarta diisukan akan terjadi revolusi. Pada saat proklamasi kemerdekaan RI, PETA berperan mengamankan wilayah, sarana telepon, dan Chudancho Latief Hendraningrat dipercaya sebagai pengibar bendera Merah Putih. PETA juga berperan dalam mempertahankan kemerdekaan RI dan berbagai pertempuran seperti Palagan Ambarawa yang dipimpin Kolonel Sudirman, dibantu komandan lapangan (Letkol Gatot Subroto, Mayor A. Yani, Mayor Soeharto dan Mayor Sarwo Edhie Wibowo), Palagan Surabaya (Dr. Mustopo, Letkol Sungkono), Palagan Palembang (Bambang Utoyo, Makmun Murod, Ratu Alamsyah Prawiranegara), Palagan Bali (I Gusti Ngurah Rai). Adapun tentara PETA yang berhasil menjadi tokoh TNI AD dan pemimpin bangsa, antara lain Jenderal Sudirman, Jenderal A. Yani, Jenderal Soeharto, Jenderal Umar Wirahadikusumah dan Letjen Sarwo Edhie Wibowo.
Untuk menghormati dan mengabdikan nilai-nilai kepahlawanan, patriotism, nasionalisme, militansi perjuangan PETA, atas prakarsa Yayasan (YAPETA) PETA Bogor dan mantan PETA, situs yang ada pada masa kolonial Belanda digunakan sebagai Markas Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL), pada masa pendudukan Jepang digunakan sebagai Boei Gyugun Kanbu Kyo Iku Tai (Markas Komando Pusat Pendidikan Perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa) dan pada tanggal 15 April 1950 diserahkan oleh KNIL kepada Indonesia dan difungsikan sebagai Sekolah Genie yang kemudian dirancang dan direnovasi sebagai Monumen dan Museum PETA.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh mantan PETA Jenderal TNI (Purn) Umar Wirahadikusuma yang pernah menjabat Wakil Presiden RI tanggal 14 November 1993. Selanjutnya Monumen dan Museum PETA diresmikan oleh Presiden RI ke-2 Jenderal Soeharto tanggal 18 Desember 1995 dan dibuka untuk umum.
Pada tanggal 9 Agustus 2010 dilaksanakan serah terima Monumen dan Museum PETA dari YAPETA Bogor kepada Pemerintah, dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Monumen dan Museum PETA oleh Ketua YAPETA Bogor, H. Tinton Soeprapto, diserahkan kepada Menteri Pertahanan (Menhan) RI cq Dirjen Kuanthan Kemhan Mayjen TNI (Purn) Suryadi, M.Sc dan dari Dirjen Kuanthan Kemhan dierahkan kepada Kasad cq Kadisjarahad Brigjen TNI Marsono. Dilanjutkan dengan peresmian patung Shodancho Supriyadi dan penandatangan prasasti oleh Menhan Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro.


Monumen dan Museum PETA terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 35 Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Monumen dan Museum PETA ini berada di sebelah utara Markas Kodim 0606 Bogor.
Monumen dan Museum PETA ini menempati bangunan peninggalan Belanda. Bangunan ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Istana Bogor pada tahun 1745. Dulu bangunan ini merupakan gedung yang dipergunakan pengawal Gubernur Jenderal dan pegawai yang lainnya.
Kemudian penggunaan bangunan ini silih berganti beralih penggunaannya seiring perkembangan zaman. Bermula dari tangsi militer bagi pengawalan Gubernur Jenderal menjadi zeni Belanda atau militair kampement, lalu berganti menjadi tangsi atau pusat pelatihan tentara PETA dan kini menjadi zeni Indonesia.
Dari keseluruhan lahan yang digunakan oleh Zeni AD ini seluas 13,7 hektar, hanya 2,150 m² lahan yang dipakai untuk Monumen dan Museum PETA di mana luas bangunan untuk museumnya sendiri seluas 1.733,59 m².
Di halaman depan museum terdapat patung Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Shodancho Supriyadi, batu prasasti serta 2 unit tank AMX-13. Lalu, memasuki pintu gerbang yang cukup besar terdapat lorong sebelum memasuki Museum PETA. Pada lorong yang dikenal dengan sebutan lorong among tamu, dinding kanan terdapat relief pembentukan PETA, tokoh-tokoh PETA dan Daidan PETA Blitar; Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945; mantan PETA yang menjadi tokoh nasional, sedangkan pada dinding kiri lorong terdapat relief perjuangan dan pemberontakan PETA di Blitar, Palagan Ambarawa, dan PETA sebagai salah satu cikal bakal TNI.
Ada 2 bangunan cagar budaya (BCB) yang difungsikan sebagai Museum PETA, Di bagian sayap kanan gedung utama museum merupakan Ruang Supriyadi, dan bagian sayap kiri gedung utama museum merupakan Ruang Sudirman.
Pada Ruang Supriyadi, koleksi yang dipamerkan sebagai bukti sejarah perjuangan para tokoh bangsa Indonesia dan pendiri tentara PETA berupa diorama, vitrin, foto-foto maupun maket Markas KNIL, sedangkan pada Ruang Sudirman, koleksi yang dipamerkan berupa diorama sejarah perjalanan cikal bakal TNI, vitrin, foto-foto mantan PETA dan sebagainya.
Usai melihat pajangan koleksi yang dipamerkan di dalam museum, pengunjung bisa menuju ke halaman belakang. Di sana terdapat Monumen PETA yang berbentuk dinding oval di atas selasar bundar. Pada dinding dalam memuat organisasi dan nama Perwira PETA yang dididik di Boei Gyugun Renseitai Bogor dan dinding luar berupa relief sejarah perjuangan PETA. *** [140514]

Kepustakaan:
Brosur Monumen dan Museum PETA yang dikeluarkan oleh Dinas Sejarah Aangkatan Darat

0 komentar:

Posting Komentar