Rabu, 11 Juni 2014

Museum Etnobotani Indonesia

Indonesia ditinjau dari segi iklim memiliki iklim yang kisaran yang besar, sehingga memungkinkan tingginya keanekaragaman tumbuhan yang hidup di kawasan ini. Selain itu, Indonesia juga dihuni lebih dari 500 entri atau lema. Lema-lema itu sendiri bervariasi dalam kategori suku bangsa, sub suku bangsa, kelompok sosial yang khas, komunitas yang mendiami suatu pulau kecil, dan sebagainya. Tiap lema itu memiliki kebudayaan yang berbeda sesuai dengan adat dan tatanan yang berlaku antara lain dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.
Pesatnya perkembangan teknologi modern memungkinkan mudahnya hubungan antar pulau di Indonesia, bahkan antar Negara di dunia. Teknologi modern ini sering kali dapat mempengaruhi kehidupan dan kebudayaan suku bangsa di Indonesia. Sebagai akibatnya pengetahuan tradisional tentang tumbuhan mengalami erosi, sehingga dirasakan perlu untuk mempelajari serta mendokumentasikan yang masih tertinggal. Oleh karena itu, didirikanlah Museum Etnobotani Indonesia.


Museum Etnobotani Indonesia terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 22-24 Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi museum ini berada satu kompleks dengan Herbarium Bogoriense, atau tepatnya berada di sebelah selatan Perpustakaan Pusat milik LIPI (Bibiliotheca Bogoriensis).
Gagasan pendirian museum ini mula-mula dicetuskan oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo yang ketika itu menjabat sebagai ketua LIPI, bertepatan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung baru Herbarium pada tahun 1962. Tetapi gagasan tersebut baru mulai dipikirkan serta dimanfaatkan kembali ketika Dr. Setijati Sastrapradja memegang jabatan Direktur LBN (Lembaga Biologi Nasional) pada tahun 1973. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya museum tersebut dapat terwujud dan diresmikan pada tanggal 18 Mei 1982 oleh Menristek Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, dengan tema Museum Etnobotani Indonesia, yaitu: “Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia”.
Penamaan museum ini didasarkan kepada cabang keilmuan dalam bidang biologi yang berhubungan dengan tanaman, yaitu etnobotani. Etnobotani adalah cabang ilmu tumbuh-tumbuhan yang mempelajari hubungan antara suku-suku asli suatu daerah dengan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Istilah etnobotani pertama kali diperkenalkan oleh seorang antropologi Amerika yang bernama Harsbeger pada tahun 1895.


Dari aspek botani, etnobotani dapat member bantuan dalam penentuan asal mula suatu tumbuhan, penyebaran, penggalian potensi tumbuhan sebagai sumber kebutuhan hidup, makna dan arti tumbuhan dalam kebudayaan serta tanggapan masyarakat setempat terhadap suatu suatu jenis tumbuhan.
Bangunan yang digunakan untuk museum ini berlantai empat dengan memiliki luas bangunan 1.463 m² dan berdenar persegi. Dari tampak depan tiap lantai bangunan terdapat jendela-jendela berbentuk persegi panjang dan atap bangunan datar.
Lokasi ruang pameran sebelum diisi dengan artefak yang menjadi koleksi museum ini, dulunya adalah ruangan koleksi batu mineral yang sekarang berada di Museum Geologi Bandung. Letak ruang pameran museum ini berada di lantai dasar gedung Herbarium Bogoriense atau Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Koleksi Museum Etnobotani Indonesia
Koleksi  Museum Etnobotani Indonesia saat ini berjumlah 1.700 nomor, berasal dari seluruh Nusantara. Mulai dari Aceh hingga Papua. Artefak dalam etnobotani ini dipamerkan berdasarkan jenis tumbuhan dan pemanfaatannya, bukan berdasarkan suku bangsa yang memanfaatkannya.
Adapun koleksi yang dipamerkan antara lain terdiri dari koleksi kayu, pemanfaatan rotan, bambu, aren, labu, koleksi basah, tanaman obat, alat rumah tangga, alat berburu, permainan anak, dan masih banyak lagi yang lainnya. *** [140514]

Kepustakaan:
Brosur Museum Etnobotani Indonesia: Temukan Inspirasi Melalui Kearifan Budaya Lokal, yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bogor

0 komentar:

Posting Komentar