Sabtu, 07 Juni 2014

Pasar Bogor

Semasa Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra berkuasa di Hindia Belanda dari 15 Mei 1761 hingga 28 Desember 1775, ia membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin menyewa tanah milk VOC untuk urusan ekonomi. Pada saat itu, sebenarnya Bogor dirancang sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan para pegawai tinggi kolonial, sehingga masyarakat selain Eropa tidak diizinkan untuk tinggal maupun melakukan kegiatan di kawasan elit Eropa. Akan tetapi, melihat bisnis sewa tanah yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal sebelumnya laku keras dan mendatangkan pemasukan yang lumayan besar, Van der Parra kian bersemangat dan mengabulkan pendirian sebuah pasar di Buitenzorg (nama lawas Bogor).
Pasar Bogor tersebut terletak di Jalan Surya Kencana No. 3 Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Lokasi pasar ini berada di seberang Kebun Raya Bogor, atau tepatnya berada di sebelah selatan Vihara Dhanagun (Klenteng Hok Tek Bio) atau di sebelah barat rumah luitenant Lie Beng Hok maupun Hotel Pasar Baroe.


Diperkirakan Pasar Bogor sudah mulai beroperasi sekitar tahun 1770. Pada waktu itu lokasi pasar tersebut berdekatan dengan Kampung Bogor yang sudah membentuk sebuah pemukiman, dan tidak jauh dengan Kantor Kabupaten Kampung Baru. Sehingga, pasar tersebut dinamakan Pasar Bogor karena selain pemukiman Kampung Bogor dan Istana Buitenzorg, di daerah sekitarnya masih berupa hutan.
Awalnya, pasar ini merupakan pasar pekan yang hanya dibuka seminggu sekali. Namun, seiring menggeliatnya perekonomian kala itu, waktu operasi pasar ini pun mulai ditambah menjadi dua kali seminggu, yaitu setiap hari Senin dan Jumat. Dari hasil bisnis sewa tanah ini, Gubernur Jenderal Van der Parra meraup keuntungan yang lumayan besar. Pada waktu itu, walaupun hanya dibuka dua kali seminggu, Gubernur Jenderal berhasil mendapatkan keuntungan sebesar 8.000 ringgit dari hasil sewa pasar ini. Karena semakin ramai, Pasar Bogor ini menarik banyak orang untuk berdagang, termasuk dari orang-orang Tionghoa.
Kemudian sejak rampungnya jalur kereta api yang menghubungkan Batavia-Buitenzorg sepanjang 60 kilometer pada tahun 1873, menjadikan status pasar ini meningkat dari pasar pekan menjadi pasar lokal dan kemudian menjadi pasar regional. Waktu operasi pasar pun sudah berubah menjadi setiap hari. Hal ini menyebabkan semakin tingginya kegiatan perekonomian yang ada di Pasar Bogor. Komoditas yang ada di Pasar Bogor yang diangkut ke Batavia adalah hasil bumi, seperti kopi, gula, kentang, kacang, beras, tepung, minyak sayur, minyak, dan kina. Sayur-sayuran segar yang berasal dari perkebunan di Puncak merupakan komoditi yang terkenal juga di pasar ini.


Magnet dari pasar ini yang kemudian membuat para pedagang untuk memutuskan menetap di daerah sekitar Pasar Bogor. Awalnya, masyarakat dari berbagai daerah tinggal di daerah sekitar pasar, akan tetapi karena keuletan pedagang dari kalangan orang Tionghoa semakin mendominasi maka daerah sekitar Pasar Bogor ini lambat laun membentuk sebuah perkampungan Tionghoa, atau yang dikenal sebagai Pecinan. Ciri khas kawasan Pecinan ini adalah bangunan rukonya yang berdempet rapat dengan chimcay di dalamnya dan tidak adanya halaman pada bangunan. Menurut Setiadi Sopandi (2008), Chimcay sendiri pada awalnya merupakan area umum yang berfungsi sebagai pusat dari berbagai aktivitas sehari-hari seperti memasak, mandi, mencuci, bersosialisasi, maupun praktek ritual dan tradisi (dengan keberadaan altar leluhur). Karena berubahnya pandangan mengenai kebersihan dan kesehatan maka fungsi-fungsi yang ‘kotor’ dan ‘basah’ (seperti dapur, jamban, dan kamar mandi) akhirnya dipindahkan ke bagian belakang. Selain sebagai pusat kegiatan, chimcay merupakan elemen yang esensial karena berfungsi sebagai tempat pertukaran udara dan masuknya sinar matahari ke bangunan ruko yang gelap. Chimcay juga kadang berfungsi sebagai tempat sumur dan penampungan air hujan. Fisik ruko pun bervariasi seiring dengan perkembangan waktu dan letak geografis. Karena tingginya curah hujan di Bogor, misalnya, mengakibatkan chimcay yang sering dijumpai di ruko-ruko di kota lain jarang ditemukan. Sebagai gantinya, ‘ruang tengah’ ditutupi oleh atap yang diangkat untuk tetap membiarkan aliran udara dan sinar matahari tetap masuk.
Bila dilihat dari kaca mata tempo doeloe, bangunan pasar ini sudah tidak ada lagi. Karena, telah didirikan Plaza Bogor yang telah berlantai lima yang menggantikan Pasar Bogor lama sebagai pusat aneka perniagaan. Akan tetapi, bila kita menyusuri keberadaan Plaza Bogor ke arah belakang, kita masih menemukan suasana tempo doeloe. Suasana ini bisa dirasakan ketika kita menyaksikan deretan ruko-ruko yang dulunya merupakan kios-kios milik orang Tionghoa yang melingkungi pasar tersebut, dan tentunya bau busuk yang menyengat manakala menyusuri kawasan pasar tersebut. *** [240514]

0 komentar:

Posting Komentar