Rabu, 16 Juli 2014

Cikal Bakal Islam Masuk Pulau Timor

Masjid Al-Baitul Qadim berdiri kukuh di tengah perkampungan Airmata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tempat tersebut merupakan bukti sejarah masuknya Islam kali pertama ke Pulau Timor.
Menurut imam Masjid Al-Baitul Qadim H. Mustafa Al-Baitul Qadim, bangunan itu dibangun kali pertama oleh Syah Ban bin Sanga pada 1806. Dia, kata Mustafa, adalah orang pertama yang memimpin umat Islam di daerah daratan Timor.
Dia berasal dari Kesultanan Mananga di daerah Solor, Flores Timur. Syah Ban bin Sanga bersama pengikutnya hijrah ke Pulau Timor lantaran terdesak oleh ekspansi penjajah Portugis di Solor. Sikapnya yang tidak mau tunduk dan bekerja sama dengan penjajah membuat Syah Ban bin Sanga dan pengikutnya berarah ke selatan menuju ke Pulau Timor.
Saat di Kupang, Sanga dan pengikutnya mula-mula tinggal serta berdiam di Oeba, Kelurahan Fatubesi. Namun, Belanda yang juga sementara memperluas ekspansi daerah jajahannya ke Pulau Timor lagi-lagi memaksa mereka untuk pindah dari Oeba ke Airmata.
“Di Airmata itulah pada 1806 Masjid Al-Baitul Qadim didirikan. Enam tahun lamanya masjid ini dibangun. Baru pada 1812 untuk kali pertama masjid ini dijadikan sebagai tempat sholat,” ujar Haji Mustafa kepada Timor Express (Jawa Pos Group).
Dalam perkembangannya, lanjut Mustafa, imam masjid turunan ketujuh pada 1984, Birando bin Tahir, mulai memugar masjid bersejarah itu. Tujuannya, melestarikan keberadaannya sebagai pusat penyebaran Islam di Pulau Timor.
Menurut Mustafa, Masjid Agung Al-Baitul Qadim telah menurunkan tujuh imam kepala. Di antaranya, Birando bin Syahban, Ali bin Birando, Djamaludin, Abdul Gani, Tahin bin Ali Birando, dan Birando bin Tahir.
Pemugaran yang dilakukan Birando bin Tahir atas persetujuan jamaah setempat dilatarbelakangi sejumlah alasan. Yakni, semakin bertambahnya jamaah dan kondisi bangunan yang tidak layak lagi. Meski dipugar, dinding-dinding bangunan masjid tersebut hingga kini tetap asli.
Dalam perjalanan waktu, kampung tua Airmata telah menjadi sebuah destinasi wisata religi di Kota Kupang. Pemerintah Kota Kupang di bawah pimpinan Wali Kota Jonas Salean telah mengusulkan perda tradisi di masjid agung itu untuk menjadi objek wisata rohani.
Kekhasan perayaan Maulid Nabi Muhammad dengan perarakan Siripuan menjadi tradisi yang khas. “Peringatan Maulid Nabi di sini juga ditandai dengan aneka hidangan yang dihiasi aneka warna. Ada nasi merah dan kuning. Ada telur ayam rebus serta pisang rebus yang juga diberi aneka warna da dihidangkan dalam nampan bersama nasi tadi,” ujar Mustafa. (lon/JPNN/c15/diq)

Sumber:
JAWA POS Edisi Sabtu, 12 Juli 2014

0 komentar:

Posting Komentar