Rabu, 16 Juli 2014

Padukan Corak Arsitek Jawa-Sumatera

Saat menjalani masa pengasingan di Bengkulu, Soekarno selalu bersalat di Masjid Jamik. Masjid itu menjadi tempat favorit presiden pertama Republik Indonesia untuk beribadah. Bahkan, Soekarno ikut merehabilitasi bangunan Masjid Jamik.
“Saat diasingkan di Bengkulu pada 1938-1942, beliau senantiasa salat berjamaah di masjid ini. Soekarno juga menilai masjid ini masih perlu direnovasi. Hingga kemudian, diperbaikilah kerusakan masjid,” kata imam besar Masjid Jamik Bengkulu Ahmad Shadikin.
Masjid Jamik didirikan saat Islam masuk di Bengkulu pada abad ke-19. Hanya, belum jelas siapa sebenarnya yang membangun masjid berukuran 4.000 meter kubik tersebut. Berdasar cerita, tempat itu dibangun wali dari Pulau Jawa yang menyebarkan agama Islam di Bengkulu.
Masjid Jamik, menurut catatan sejarah, mulanya berada di Kelurahan Bajak. Yakni, di sekitar makam Sentot Alibasyah Prawirodirjo (panglima perang lascar Pangeran Diponegoro). Sekitar awal abad ke-18, masjid dipindahkan ke Jalan Soeprapto.
Awalnya, bentuk Masjid Jamik sangat sederhana. Pada saat itu, bahan atau materialnya berupa kayu, beratap daun rumbia, dan berlantai sangat sederhana. Karena itu, jika musim hujan tiba, seringkali daerah sekitar masjid becek dan kotor.
“Hancur karena sekian ratus tahun tidak lagi terurus. Makin banyak kuburan sehingga lokasinya sempit. Bangunan surau lamo itu sangat sederhana dengan ukuran 6 x 8 meter,” jelas Ahmad.
Masjid Jamik tersebut merupakan satu-satunya masjid pertama dan terbesar di Bengkulu. Sejak pertama dibangun sampai saat ini, Masjid Jamik tidak berubah, terutama bentuk dan ciri khas. Hanya ukurannya yang diperluas.
Masjid tersebut terdiri atas tiga bangunan inti yang saling menyatu. Yakni, bangunan inti, serambi, dan tempat wudhu. Bangunan inti berukuran 14.65 x 14,64 meter dengan 3 pintu masuk. Dalam bangunan inti terdapat mihrab (tempat imam) dengan lebar 1,60 meter dan panjang 2,50 meter.
Bangunan tempat wudhu berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 8,80 x 5,55 meter. Bangunan tersebut terbuat dari pasangan batu dengan fondasi batu karang.
Di bagian kanan mihrab terdapat mimbar dari pasangan batu dengan dua atap kubah. Kubah itu terbuat dari seng aluminium dengan empat anak tangga.
“Ada sedikit perubahan ukuran. Tapi, bentuk tekstur bangunannya tetap asli, itu ciri khas Masjid Jamik. Sampai sekarang, tiang dan dinding masjid masih menggunakan material dari tanah liat campuran batu karang,” papar Ahmad.
Sebagian yang lama tetap dipertahankan. Dinding ditinggikan 2 meter, sedangkan lantai dinaikkan 30 senitmeter. Desain rancangan khusus Soekarno adalah atap dan tiang-tiang masjid.
Ciri khas masjid tersebut adalah atapnya berbentuk dan bertingkat tiga yang melambangkan iman, Islam, dan ihsan. Masjid itu memadukan corak arsitek Jawa dan Sumatera. Pada bagian tertentu, tampak pilar dengan ukiran ayat-ayat suci atau pahatan kuning emas berbentuk sulur di bagian atas.
Halaman masjid tersebut berbentuk segitiga sesuai dengan lahannya dan dipagar besi dengan pilar pasangan batu berwarna hitam. Memasuki halaman itu, suasana hijau dan sejuk akan terasa. Sebab, berbagai taman yang indah membuat umat muslim betah berlama-lama.
Tiang masjid dibuat dari tanah liat dengan kerang-kerang kecil yang dihaluskan. Perekatnya memakai putih telur. Meski tidak mengunakan semen dan sudah dua kali diguncang gempa berskala tinggi. Masjid Jamik tidak roboh atau retak. (tew/JPNN/c14/diq)

Sumber:
JAWA POS Edisi Kamis, 10 Jul 2014

0 komentar:

Posting Komentar