Rabu, 16 Juli 2014

Rumah Sembahyang Keluarga Han

Kehadiran orang-orang Tionghoa di Surabaya sudah ada sejak zaman Kerajaan Singosari, namun membentuk sebuah masyarakat yang hidup secara berkelompok diperkirakan baru eksis pada masa kolonial  seiring berkembangnya Surabaya menjadi sebuah daerah perniagaan yang cukup maju.
Sebelum tahun 1451 diindikasikan bahwa permukiman orang Tionghoa di Surabaya berada di sekitar aliran Sungai Brantas atau Sungai Porong. Setelah itu pindah ke aliran Sungai Brantas kanan atau sepanjang aliran Kali Mas dan Kali Pegirian di Ampel. Permukiman ini berdekatan dengan permukiman orang-orang Arab dan Benggala yang berada di Kampung Sasak. Pada akhir abd ke-17, wilayah permukiman orang-orang Tionghoa di Surabaya bergeser ke selatan Ampel, tepatnya di Jalan Bibis yang kemudian dikenal dengan nama Pecinan Kulon. Lalu, meluas Jalan Karet yang kemudian menjadi jalan utama perkembangan daerah Pecinan di Surabaya.


Di Jalan Karet ini terdapat deretan rumah orang Tionghoa yang masih menyisakan pesonanya. Salah satunya adalah rumah sembahyang keluarga Han yang terletak di Jalan Karet No. 62 Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah inti tidak terlalu jauh dan masih satu jalan dengan Rumah Abu Keluarga The dan Rumah Abu Keluarga Tjoa.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, rumah sembahyang keluarga Han dibangun pada tahun 1876 oleh Han Bwee Koo. Ayahnya bernama Han Siong Kong, dan ibunya bernama Tan Bie Nio. Ayahnya bermigrasi ke Nusantara, dan pada awal kedatangannya mendarat di Lasem. Han Siong Kong yang berasal dari prefektur Tian Bao di Fu Jian merupakan cikal bakal keluarga Han di Surabaya. Keluarga mereka di Tiongkok termasuk keluarga berada. Anak-anaknya berpindah ke Surabaya dan mengembangkan usahanya di perkebunan tebu, pabrik gula, monopoli candu dan penarik pajak. Keluarga ini nantinya akan melahirkan beberapa bupati di daerah Pasuruan, Probolinggo dan Panarukan.
Han Bwe Koo yang merupakan keturunan ke-6 dari Han Siong Kong, memutuskan menetap di Surabaya. Ia diangkat menjadi Kapitein der Chineezen. Istilah kapitein (kapitan dalam bahasa Indonesia) berasal dari bahasa Spanyol untuk “kapten” tapi dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan urusan militer. Kapten adalah sebuah gelar yang diberikan kepada kelompok etnis (dalam hal ini kelompok Tionghoa). Seorang kapten diberikan kekuasaan oleh pemerintah kolonial untuk mengatur urusan kelompok etnis tersebut yang berkenaan dengan agama dan adat istiadat. Ia yang diharapkan untuk menyelesaikan pertikaian di antara kelompok etnisnya sehubungan dengan hukum adat, dan sekaligus menjadi wakil pemerintah kolonial Belanda untuk menjadi pemimpin masyarakat Tionghoa di Surabaya.


Rumah sembahyang ini dikenal sebagai Han Sie Lok Hian Tjok Biauw, dan ada juga yang menyebutnya sebagai Rumah Abu Keluarga Han Bwee Koo seperti yang terpampang di dinding rumah. Kendati dikenal sebagai Rumah Abu Keluarga Han, di rumah ini tidak menyimpan abu orang yang sudah meninggal ataupun tentang abu lainnya. Rumah ini hanya untuk berkumpul pada hari-hari tertentu, kegiatan bersembahyang dan menghormati leluhur dari keluarga bermarga Han. Dalam rumah ini ada altar leluhur yang berisikan sinci (papan arwah) leluhurnya, dan silsilah keturunan keluarga Han Siong Kiong sampai dengan keturunan ke-7. Kebanyakan generasi yang baru tidak mau menempati rumah tinggal ini sehingga akhirnya dipakai sebagai rumah sembahyang oleh keturunan Han pada waktu-waktu tertentu.
Rumah seluas 1.000 meter persegi ini, pada denah tampak depannya merupakan gabungan antara arsitektur Tionghoa dan Belanda (Indische Empire).
Bangunan ini menghadap ke barat. Tatanan denahnya tidak memiliki sumur langit di tengah tetapi diletakkan di sebelah kiri dan kanannya. Tiang di bagian dalam rumah diimpor dari Glasgow, Inggris. Lantainya terbuat dari marmer yang diimpor dari Italia. Hirarkhi ruang dari pintu masuk sangat terasa, mulai ruang penerima yang agak terbuka hingga masuk ke ruang sembahyang utama yang agak tertutup. Di bagian depannya memiliki gaya bangunan Indische Empire dengan teras yang melebar serta adanya kolom-kolom besar.
Meskipun rumah ini sudah tidak digunakan untuk rumah tinggal, beberapa generasi Han masih tetap mengurus dan memeliharanya. Sampai saat ini rumah sembahyang ini masih dalam kondisi utuh dan terawat dengan baik, masih tetap dipakai untuk tempat bersembahyang bersama dan menjadi tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga Han pada acara-acara hari peringatan tertentu. *** [020314]

0 komentar:

Posting Komentar