Rabu, 16 Juli 2014

Situs Megalitikum Dusun Sokoliman

Bagi masyarakat awam, Dusun Sokoliman II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, hanyalah perdusunan biasa. Namun, setelah mendengar latar belakang sejarahnya, terungkap jelas kalau dusun itu adalah mata rantai dari sejarah peradaban manusia, khususnya pada masa-masa kehidupan prasejarah.
Dusun Sokoliman II dan sekitarnya memang dikenal sebagai “gudang penyimpanan” berbagai jenis peninggalan zaman megalitikum. Di wilayah itu, kita bisa menemukan ratusan menhir atau tiang batu serta sejumlah kubur batu yang diyakini ada minimal 2.000 tahun sebelum Masehi. Peninggalan bersejarah itu bisa ditemukan di lahan-lahan pertanian atau pekarangan rumah warga.
Sejak masa kanak-kanak, Sugito (41) sudah taka sing dengan batu-batu besar peninggalan zaman megalitikum atau peradaban neolitik yang tersebar di ladang pertanian milik keluarganya. Kala itu, dia kerap diajak ayahnya berkeliling ladang untuk menemani para akademisi yang meneliti batu-batu tersebut.
“Secara tak langsung, sejak kecil saya sudah dididik bahwa batu-batu itu merupakan peninggalan bersejarah,” kata warga Dusun Sokoliman II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu, Selasa (17/6).
Bahkan, sebagaimana diungkapkan Wartoyuwono (62), selain memiliki peninggalan berupa batu menhir dan kubur batu, Sokoliman juga masih memiliki lima sumur peninggalan zaman megalitikum yang hingga saat ini masih memiliki simpanan air. Sumur tersebut oleh warga setempat dinamai Sumur Kecil, Besar, Kajar, Kembangarum, dan Krambilsawit. Keselamatan sumur dari kerusakan karena warga setempat menganggap sumur itu keramat. Mereka tak berani sembarangan terhadap sumur tua tersebut.
Sugito mengatakan, sejak 1978, pemerintah mulai meneliti peninggalan batu-batu besar itu. Karena jumlahnya banyak, pemerintah mulai berpikir untuk mengumpulkan peninggalan bersejarah di satu tempat guna memudahkan pelestarian dan penelitian. Itulah kenapa pada 1988 pemerintah mulai membebaskan lahan seluas 2.000 meter persegi di Dusun Sokoliman II guna menampung ratusan menhir dan beberapa kubur batu.
“Lalu, mulai 1992, dimulailah pengumpulan menhir dari sejumlah wilayah dusun ini dan sekitarnya ke sebuah tanah lapang,” kata Sugito.
Tanah lapang seluas 2.000 meter persegi itu kini menjadi area cagar budaya Situs Megalitikum Sokoliman yang dikelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. Areal situs itu dipagari dengan kawat di sekelilingnya. Sejak tahun 2000, Sugito menjadi juru pelihara Situs Megalitikum Sokoliman menggantikan ayahnya, Mento Prawiro, yang telah meninggal.
Selain Sugito, yang sudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, ada seorang tenaga honorer yang bertugas membersihkan situs tersebut. Berbeda dengan beberapa tahun silam, kondisi situs saat ini tergolong bersih dan tertata.

Terus bertambah
Memasuki situs tersebut, kita akan melihat jejeran menhir yang ditata rapid an sudah dipagari dengan batu-batu kecil. Di beberapa bagian terdapat jalan setapak untuk pengunjung, taman rumput, beberapa pohon besar, dan sejumlah pohon asparagus yang mengenakkan mata. Di bagian belakang situs juga terdapat beberapa bangku yang terbuat dari semen.
Sugito menuturkan, jumlah batu-batu bersejarah yang dimasukkan ke area situs terus bertambah setiap tahun. Saat ini, di situs tersebut terdapat lima batu kubur dan 183 menhir. Selain itu, ada juga sebuah arca batu besar serta sebuah punden berundak. Dari Sokoliman kita melihat betapa Gunung Kidul memiliki perjalanan sejarah yang ritmis. Kehidupan manusia di goa-goa  dengan peradaban batu kasar, kemudian kehidupan di alam bebas yang didukung manusia prasejarah di Sokoliman yang memiliki peralatan batu halus sampai perunggu.
Keberadaan punden berundak menandakan kehidupan yang lebih modern lagi. Meski masih diwarnai peradaban megalitik, sudah sangat modern karena telah mengenal tulisan. Keberadaan candi juga menandakan juga menandakan munculnya peradaban Hindu di kota tersebut.
“Punden berundak itu memang berbeda dengan zaman megalitikum karena dulu di punden itu ada sebuah prasasti beraksara Sanskerta. Sayangnya, prasasti itu sudah dicuri orang,” ujar Sugito yang memang sudah mendapatkan pembekalan tentang dunia arkeologi, khususnya di Sokoliman.
Arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Indah Asikin Nurani, menyatakan, situs Sokoliman memang unik, bukan hanya di Indonesia, melainkan juga dunia. Banyak sudah arkeolog melakukan penelitian, bahkan sejak masa kolonial. Seperti arkeolog dari Belanda, Van Koningwaltz, sekitar 1941 pernah melakukan penelitian di tempat ini.
Dari penelitian tersebut memberikan kesimpulan bahwa manusia berbudaya menhir batu telah mengenal benda perunggu. Dalam penelitian itu, Koningwaltz menemukan peralatan upacara kubur di kuburan batu Sokoliman.
Dia menambahkan, saat ini masih banyak menhir dan kubur batu yang berada di luar areal situs. Kondisi batu-batu di luar situs itu mengkhawatirkan karena tidak diawasi secara langsung. “Banyak batu yang rusak karena faktor alam dan ulah manusia, misalnya tak sengaja terkena cangkul,” kata dia.
Warto Yuwono (62), warga Dusun Sokoliman II, menuturkan, warga setempat tak banyak paham soal makna sejarah batu-batu tersebut. Warga justru masih kerap beranggapan batu-batu besar itu sebagai benda keramat.
Oleh karena itu, beberapa warga masih enggan memindahkan batu-batu di ladang mereka ke tempat lain. Hal itu sebenarnya “menguntungkan” karena warga tak berani menjual batu-batu tersebut.
Namun, keengganan warga tersebut juga membuat pengawasan terhadap peninggalan bersejarah kadang lebih susah dilakukan. “Karena itu, kadang kalau warga khawatir menhir di lahan mereka rusak, mereka minta supaya batu tersebut dipindahkan ke areal situs,” kata Warto.
Sugito menambahkan, warga juga ikut berpartisipasi menjaga berbagai peninggalan bersejarah di areal situs. Caranya dengan mewaspadai kedatangan orang-orang yang mencurigakan ke wilayah itu. “Kalau ada orang malam-malam datang ke areal  situs, warga pasti membuntuti karena takut mereka mau mencuri atau bagaimana,” kata dia.
Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung yang mendatangi situs itu hanya sekitar 50 orang per bulan. Sebaliknya, pada masa liburan sekolah, jumlah pengunjung melonjak menjadi ratusan orang.
“Kebanyakan yang berkunjung ke sini memang para pelajar, baik SD, SMP, maupun SMA. Biasanya mereka datang berombongan,” kata dia. [THOMAS PUDJO WIDIJANTO]

Sumber:
KOMPAS Edisi Sabtu, 5 Juli 2014

0 komentar:

Posting Komentar