Rabu, 16 Juli 2014

Kisah Kota yang Kehilangan Pamor

Ibarat pepatah siapa menanam dia menuai, demikian pula nasib Singkil di Aceh dan Barus di Tapanuli, Sumatera Utara. Pamor kedua kota yang begitu tenar dalam perdagangan internasional berabad lampau kini surut dalam kesunyian.
Waktu seakan berhenti saat mobil kami melalui tikungan terakhir menjelang Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Setelah enam jam berkendara dari Singkil melintasi jalan berkelok menembus hutan bercampur kebun kelapa sawit melalui Manduamas, Tapteng, tidak membawa kami ke tempat lebih ramai. Kota yang begitu metropolis pada masanya kini tak lebih dari sekadar persinggahan pelintas semata. Bahkan, untuk mencari makan malam bagi 13 orang sja, kami harus tiga kali masuk-keluar warung makan.

Komoditas alam
Ya, pamor Singkil dan Barus yang mendunia di pasar internasional berabad lampau berkat lada (Piper nigrum L) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica), kini nyaris tak tersisa. Bumbu masak paling dicari di negeri empat musim, lada, menjadikan pelabuhan Singkil sangat sibuk. Demikian pula khasiat kulit pohon kapur berwarna merah kehitaman yang mengharumkan nama Barus ke seluruh dunia.
Dalam buku Sejarah Sumatera (April 1783), William Marsden, mengisahkan, pedagang Aceh membeli kapur barus dari orang Batak dan menjualnya kepada pedagang dari Eropa dan Tiongkok. Harga kapur barus berkualitas terbaik di tingkat penghasil 6-8 dollar Spanyol per 0,5 kilogram. Harga ii akan melonjak dua kali lipat saat diperdagangkan di pasar Tiongkok di Kanton.
Marsden memperkirakan, perdagangan kapur barus di pantai barat Sumatera ketika itu tak melebihi 50 pikul (setara 3.325 kilogram per tahun). Kelangkaan pohon kapur karena para pencari harus masuk hutan berbulan-bulan membuat komoditas yang berkhasiat sebagai obat ini harganya terus naik.
Kapur barus bukan satu-satunya komoditas yang membuat nama Sumatera terkenal. Inggris sampai mendirikan benteng Marlborough sebagai kantor dagang di Bengkulu untuk memonopoli perdagangan lada.
Gusti Asnan dalam buku Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera (2007) menjelaskan, bukti sejarah menunjukkan, kawasan pantai barat Sumatera cukup hidup pada periode 1819-1906. Pantai barat Sumatera menjadi salah satu kawasan dengan kekayaan alam besar, sumber penghasilan Pemerintah Hindia Belanda, dan terkenal ke seluruh dunia.

Infrastruktur dibangun
Pembangunan infrastruktur berkembang pesat. Para raja membangun pelabuhan dan infrastruktur pendukung untuk menarik investor asing berlabuh. Kemajuan infrastruktur terus terjadi saat kolonialis menemukan potensi tambang dan mengembangkan perkebunan pada akhir abad ke-19. Belanda membangun jalur kereta api sepanjang 155.5 kilometer untuk mengangkut batubara dari Sawahlunto ke Padang sejak 6 Juli 1887 sampai 1 Februari 1894. Mereka juga membangun pelabuhan Teluk Bayur untuk mengekspor batubara atau menjualnya pada kapal uap yang berlayar di pantai barat Sumatera.
Terbukanya jalur pelayaran Selat Malaka menjelang akhir abad ke-19 membuat kegiatan bisnis kota-kota di pesisir barat Sumatera turut surut. Pusat-pusat perdagangan internasional beralih ke pantai timur Sumatera. Sejumlah kota di pesisir pantai timur dan barat Sumatera berkembang menjadi pusat perniagaan internasional. Kerajaan Samudera Pasai di pantai timur Aceh berkembang menjadi kota metropolis pada abad ke-13 berkat perdagangan lada dan beras yang diminati saudagar dari Tiongkok, Arab, dan Eropa.
Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1967) menggambarkan, Sultan Aceh adalah raja Pulau Sumatera yang tidak ada tandingannya pada abad ke-17. Di sebelah timur, dia memerintah Pedir (Pidie), Pacem (Pasai), Tamiang, Deli, Aru, sampai semenanjung Melayu, seperti Johor, Kedah, Pahang, dan Perak. Di barat, ia memerintah mulai dari Meulaboh, Singkil, Barus, Pasaman, Pariaman, sampai Padang.
Pasca kolonialisasi, kota-kota pantai barat yang termasyhur ini tak juga mendapat perhatian memadai. Perputaran sektor riil melambat. Kota-kota yang dulu maju berkat perdagangan internasional, kini hanya ramai kali hari pasaran. Infrastruktur yang memburuk membuat orang enggan berkunjung ke sana.
Pada pertengahan 2013, kami membutuhkan waktu 3 jam berkendara dari Barus ke Sibolga sejauh 70 kilometer. Pemerintah harus menyadari, kemajuan perekonomian kota sangat bergantung pada infrastruktur jalan dan telekomunikasi yang mendorong warga menjadi kreatif.

Sisa kejayaan tambang
Kisah kota lain yang kehilangan pamor adalah Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Sumut, dan Bangka, Bangka Belitung. Pangkalan Brandan menjadi kota petro dollar berkat sumur-sumur minyak yang melahirkan PT Pertamina (Persero).
Pada era kejayaan pertambangan minyak Indonesia tahun 180-an, kompleks perumahan pegawai Pertamina di Tangkahan Lagan dan Pangkalan Brandan menjadi tolok ukur kemewahan bagi masyarakat di sekitar. Lapangan golf, kolam renang, rumah sakit, sampai gedung bioskop berstandar Jakarta menjadi fasilitas gratis penghuni kompleks. Sektor riil bergerak kencang. Singkat kata, orang bisa menjual barang dengan mudah di Pangkalan Brandan.
Ketika sumur minyak mongering dan aktivitas pengeboran terhenti, selama lima tahun terakhir, Pangkalan Brandan pun semakin sepi. Perumahan karyawan Pertamina beserta fasilitasnya tak lagi berpenghuni. Kompleks permukiman di Tangkahan Lagan yang dilengkapi lapangan golf kini dihuni pasukan Brigade Infanteri Marinir. Aktivitas ekonomi Pangkalan Brandan kini sepi dan hanya mengandalkan keramaian lalu lintas jalan kintas timur Sumatera.
Nasib Bangka, pusat pertambangan sejak zaman kolonial yang berhias danau-danau sisa penambangan timah, berubah terbawa oleh Belitung yang menjadi lokasi pembuatan film Laskar Pelangi.
Laskar Pelangi berhasil menampilkan keindahan Belitung dan jumlah kunjungan turis ke “Negeri Laskar Pelangi” meningkat. Paket-paket wisata baru juga ikut dikemas. Mulai dari mengunjungi gugusan batu raksasa, pantai berpasir putih, sampai pulau menara suar buatan Belanda yang memiliki lokasi menyelam atau snorkeling.
Pariwisata menjadi motor baru penggerak perekonomian Bangka-Belitung karena pertanian tidak terlalu menjanjikan di sana. Danau-danau bekas galian tambang timah yang menampung air bening kehijauan menjadi atraksi wisata. Seusai menikmati keindahan laut, turis akan diajak melihat danau-danau yang sebagian terlantar tidak direklamasi.
Sambil melihat keropeng bekas eksploitasi timah, pemandu wisata menuturkan kisah kejayaan masa lampau.
Kota-kota yang pernah jaya dan kemudian mati disebabkan pemerintah kota dan masyarakat gagal menemukan keunikan yang kemudian menjadi kekuatan.
Bukan tak mungkin kota-kota di atas akan bangkit kembali. Kita sedang melihat perjuangan itu di Bangka dan Belitung. Yang diperlukan adalah kepemimpinan yang kuat serta memiliki visi dan komitmen. [HAMZIRWAN]

Sumber:
KOMPAS Edisi Jumat, 27 Juni 2014

0 komentar:

Posting Komentar