Minggu, 13 Juli 2014

Makam Belanda Peneleh

Sebagai perkampungan kuno yang sudah ada semenjak zaman Singorsari, kawasan Kampung Peneleh ini memiliki banyak potensi yang sebagian besar merupakan pusaka kota. Salah satunya adalah Makam Belanda Peneleh.
Makam Belanda Peneleh terletak di Jalan Peneleh, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi makam kuno ini tepat berada di belakang Puskesmas Peneleh.
Makam Belanda Peneleh merupakan kompleks makam tua peninggalan Belanda yang ada sejak tahun 1814. Nama aslinya adalah De Begraafplaats Peneleh Soerabaja. Makam ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengebumikan warga Belanda yang tinggal di Surabaya pada masa itu.


Konon, makam yang memiliki luas sekitar 4,5 hektar ini merupakan salah satu dari pemakaman modern tua yang ada di dunia. Bahkan diperkirakan lebih tua dari Mount Auburn Cemetery di Cambridge (1831), Arlinton National Cemetery di Washington DC (1864), dan Fort Cannin Park di Singapura (1926), atau berkisar 20 tahun sesudah Kebon Jahe Kober (sekarang dikenal dengan Museum Taman Prasasti) di Batavia dibangun pada tanggal 28 September 1795 serta berkisar 26 tahun sebelum Kherkof Peutjoet di Banda Aceh didirikan.
Pintu gerbang dari makam ini tampak sederhana, tidak seperti pintu gerbang yang ada di Kebon Jahe Kober maupun Kherkof Peutjoet yang sama-sama merupakan kuburan orang Belanda. Akan tetapi, makam Peneleh ini memiliki tata letak yang rapi berdasarkan blok yang dibuat. Setiap makam memiliki identitas jenazah, di beberapa makam juga dilengkapi dengan silsilah yang ditulis dalam bahasa Belanda. Di dalam makam ini juga banyak ditemui patung bergaya Romawi, ornamen makam bergaya Gothic maupun Doric serta krematorium.


Berapa jumlah jenazah yang dikebumikan di makam ini, penulis tidak mendapat informasi yang jelas ketika mengunjungi makam kuno ini. Mungkin karena banyak makam yang sudah berlubang di bagian bawahnya, karena jasad yang bersemayam di situ sudah dipindahkan oleh ahli warisnya ke Belanda. Namun demikian, batu nisan yang dibiarkan begitu saja oleh ahli waris masih menyiratkan kemegahan dari makam tersebut. Sebut saja, makam dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-47, Pieter Merkus, Residen Surabaya, Daniel Francois Willem Pietermaat, Pendeta Pioner Ordo Yesuit Surabaya, Martinus van den Elsen, Komandan Perang Indo China, Neubronner van der Tuuk, Pilot pertama Hindia Belanda, Rambaldo, Suster Kepala Ursulin Surabaya, Moeder Louise, Suster Kepala Ursulin Bogor, Mere Aldengonde, Wakil Kepala Mahkamah Agung, PJN de Perez, dan arsitek jembatan Porong, Ibrahim Simon Heels Berg.
Sayangnya, kompleks makam kuno ini kelihatan kurang terawat, kumuh dan berlumut sehingga menjadi kurang enak dipandang ketika pengunjung mulai melangkah masuk ke areal pemakaman. Diperparah lagi dengan jemuran-jemuran pakaian warga sekitar yang ada di area pemakaman, membuat suasana terasa kurang nyaman. Sebenarnya, kalau makam Peneleh ini dilakukan revitalisasi dan direnovasi bagian yang rusak akan meningkatkan De Begraafplaats Peneleh sebagai tujuan wisata heritage yang cukup manarik di Surabaya, seperti foto pre-wedding, syuting video clip, dan ajang lomba fotografi berlatar belakang bangunan ala Eropa. Memang, selain fungsi preservasi nilai historis dari pemakaman ini, juga terdapat fungsi sosial dan pelestarian alam di mana makam sebagai ruang terbuka nan luas ini bisa difungsikan sebagai paru-paru kota yang menghasilkan kesejukan dan keasrian. *** [080214]

0 komentar:

Posting Komentar