Sabtu, 12 Juli 2014

Rumah Wafat WR Supratman

Di tengah pemukiman penduduk yang lumayan padat di sekitar belakang Taman Mundu, terdapat rumah mungil yang tampak lain dengan rumah yang ada kebanyakan berdiri di daerah itu. Rumah yang berdinding tembok dan beratap kayu membentuk meruncing ke atas tersebut menyimpang banyak memori historis yang dikenang oleh anak bangsa ini. Rumah tersebut tak lain adalah Rumah Wafat WR Supratman.
Rumah ini terletak di Jalan Mangga No. 21 Kelurahan Tambaksari, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Lokasi rumah ini berada di sebelah barat Gelora 10 November Surabaya, atau tepatnya berada di sebelah barat daya dari Taman Mundu.
Menilik nama rumah ini memang tampak aneh, akan tetapi bila menelusuri sejarah terhadap orang yang menempati terakhir rumah ini akan salut. Alkisah, disebutkan bahwa WR Supratman lahir di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) pada hari Senin Wage tanggal 9 Maret 1903 pukul 11.00 siang. Ia anak ketujuh dari sembilan bersaudara, namun kedua kakak laki-lakinya meninggal ketika masih kecil. Ayahnya bernama DJoemeno Senen Sastrosoehardjo alias Abdoel Moein, seorang serdadu Kompeni KNIL, dan ibunya bernama Siti yang berasal dari Desa Somongari, Purworejo, Jawa Tengah. Sedangkan, kakek dari ayahnya, bernama Mas Ngabehi Notosoedirjo, yang tergolong kaum priyayi kaya dan memiliki tanah persawahan yang luas dan terkenal dalam bidang kesenian, khususnya seni musik dan seni suara Jawa. Jadi tidak salah lagi jika darah seni WR Supratman turun dari kakeknya tersebut.
Ibunya meninggal sewaktu Supratman masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR) di daerah Meester Cornelis. Namun, setelah ayahnya pensiun dari KNIL, Supratman dijemput oleh kakak tertuanya, Ny. Roekijem Soepratijah van Eldik untuk disekolahkan di Makassar pada tahun 1914.
Atas usaha Ny. Roekijem Soepratijah dan suaminya, W.M. van Eldik, Supratman masuk sekolah Belanda Europese Lagere School setelah menambahkan “Rudolf” pada namanya menjadi Wage Rudolf (WR) Supratman, sebagai suatu siasat agar ia diterima di sekolah Belanda tersebut. Karena pada saat itu anak yang tergolong inlander (pribumi) seperti WR Supratman sukar diterima masuk sekolah Belanda.


Tak lama menikmati sekolah Belanda, Supratman ketahuan bahwa dia ternyata bukan anak van Eldik, melainkan adik iparnya. Kenyataan ini membawa Supratman untuk masuk ke sekolah Melayu. Di sekolah ini malah bakat seni Supratman mengalir, hingga menyelesaikan dari Normaal School, yaitu Sekolah Guru.
Sepulang sekolah, Supratman selalu belajar memainkan gitar dan menggesek biola. Kakak iparnya, van Eldik yang pandai dalam bidang seni, baik kesenian Barat maupun Timur, menjadi gurunya bermain gitar dan menggesek biola. Karena WR Supratman memiliki bakat, maka sebentar saja ia sudah pandai memainkan alat musik. Ia bukan saja pandai memetik gitar atau menggesek biola, ia pun mahir melahirkan perasaan seninya dalam bentuk lagu dan kata, bahkan ia dapat menggubah syair.
Melihat adiknya yang sangat berbakat itu, kakaknya menghadiahkan sebuah biola kepada WR Supratman pada tahun 1920, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-17.
Ketika Supratman diangkat menjadi guru bantu untuk ditempatkan di daerah Singkang, yang berada di tepi Danau Tempe, ia tidak diizinkan oleh kakaknya karena di daerah tersebut sering terjadi gejolak yang mengancam jiwanya. Akhirnya ia bersama kawan-kawanya yang berkulit putih mendirikan Jazz Band Black dan White yang kerap tampil dalam berbagai perhelatan yang digelar di Makassar, dan menjadikannya semakin dikenal di kalangan inlander maupun Belanda. Dalam menekuni di bidang musik, Supratman pernah bekerja sebagai clerk pada Firma Nedem, dan terakhir di sebuah kantor pengacara milik Mr. Schulten, teman baik van Eldik.
Pada tahun 1924, Supratman berlayar dari Makassar ke Surabaya. Ia tinggal di rumah kakaknya yang bernama Roekinah Soepratirah. Kemudian ia bergabung dalam aktivitas pergerakan, akan tetapi lantaran dalam pergerakan itu antar golongan saling bertentangan, Supratman meninggalkan Surabaya, kemudian ke Jakarta. Selang beberapa tahun, Supratman kembali lagi ke Surabaya. Ia mendiami rumah kakaknya tertua, Ny. Roekijem Soepratijah van Eldik di lingkungan Tambaksari.
Selama di Surabaya, Supratman juga tidak bisa lepas dari biolanya. Dengan biola ini, WR Supratman telah berhasil menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dari lagu inilah, Supratman menjadi incaran daftar yang dicari oleh pihak Kompeni.
WR Supratman menghembuskan nafas terakhir pada hari Rabu Wage jam 12 tengah malam tanggal 17 Agustus 1938. Ia meninggal di rumah kakaknya tertua Ny.  Roekijem Soepratijah di Jl. Mangga lingkungan Tambaksari Surabaya.
WR Supratman meninggal dunia tanpa meninggalkan harta. Ia hanya meninggalkan secarik kertas not-not musik lagu ciptaannya yang terakhir kepada bangsanya. Atas sumbangsihnya kepada bangsa inilah, rumah tersebut akhirnya dijadikan sebagai Rumah Wafat WR Supratman.
Bila masuk ke rumah ini, kesan yang nampak adalah seperti sebuah museum. Karena di dalam rumah tersebut terdapat koleksi dari benda-benda yang pernah menjadi milik WR Supratman atau paling tidak terdapat hubungan dengan kehidupan WR Supratman. Seperti foto-foto WR Supratman dengan keluarga yang terpampang di dinding ruang tamu, di pojok terdapat almari berisi replika biola karena biola aslinya saat ini disimpan di Gedung Sumpah Pemuda Jakarta. Biola ini sebagai alat untuk menciptakan persatuan bangsa Indonesia telah dipamerkan di beberapa provinsi di Kalimantan dan Sulawesi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Rumah Wafat WR Supratman ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dalam pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya berdasarkan Surat Keputusan (SK) Walikota Surabaya Nomor: 188.45/251/402.1.04/1996 dengan nomor urut 56. *** [230314]

Kepustakaan:
Anthony C. Hutabarat, 2001, Wage Rudolf Soepratman: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Pencipta Lagu Kebangsaan Republik Indonesia “Indonesia Raya” dan Pahlawan Nasional, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia

0 komentar:

Posting Komentar