Kamis, 31 Juli 2014

Masjid Sememen

Keberadaan Kampung Kauman terkait erat dengan pembangunan Masjid Agung yang didirikan oleh Paku Buwana II usai Geger Pecinan di Kartasura. Wilayah Kauman bermula dari adanya Kawedanan Yogiswara/Kapengulon yang tugasnya mengurusi keagamaan dan kemakmuran Masjid Agung, di mana pengelolanya para ulama yang bertempat tinggal mendekati Masjid Agung. Gugusan tempat tinggal para kaum/ulama biasa disebut dengan Kampung Kauman.
Sebagai perkampungan tua, Kauman memiliki banyak bangunan kuno dengan peninggalan sejarah yang tinggi nilainya, di antaranya adalah Masjid Sememen.


Masjid Sememen terletak di Jalan Trisula 6 No. 1 Kampung Sememen, Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini berada di sebelah barat sekolah NDM (Nahdlatul Muslimat).
Awalnya, masjid ini merupakan langgar atau mushalla yang terdapat di daerah Kauman yang dibangun pada tahun 1890 oleh Ketib atau Khotib Sememi, dan kemudian diwakafkan kepada umat Islam. Langgar ini baru diresmikan sebagai masjid pada hari Jumat, 29 Agustus 2003 yang bertepatan dengan 1 Rajab 1424 H setelah dilakukan renovasi. Ketib Sememi adalah seorang penghulu agama yang bergelar Kanjeng Kiai Penghulu (KKP) Tafsir Anom yang makamnya berada di Pajang, satu kompleks dengan makam para penghulu lain dari Kauman.
Kampung Sememen yang merupakan nama kampung di wilayah Kauman adalah toponim pemberian dari Susuhunan (sebutan untuk Raja Surakarta) berdasarkan aktivitas masyarakatnya di mana di kampung tersebut sebagai tempat tinggal ulama Sememi dan sekaligus sebagai tempat berdirinya Masjid Sememen.


Bangunan masjid ini berarsitektur Indies Jawa Klasik di mana gaya arsitekturanya merupakan perpaduan antara gaya Eropa abad pertengahan dengan gaya Jawa yang berornamen kayu ukiran. Di sebelah utara dari bangunan utama masjid terdapat menara adzan yang menyerupai Panggung Sanggabuana yang ada di Kraton Surakarta. Berbentuk heksagonal yang memiliki arti arah mata angin dan empat unsur alam, yakni air, angin, api, dan tanah.
Dilihat dari segi ukurannya, bangunan masjid ini tergolong kecil, dan tidak memiliki halaman sama sekali. Maka, dari Jalan Trisula 6 langsung menuju ke serambi masjid yang berada di bagian paling depan diberi pagar teralis besi. Dari serambi depan, langsung dihubungkan ke ruang utama masjid melalui pintu sebanyak tiga buah. Sedangkan, di sebelah kanan dan kiri ruang utama masjid terdapat pintu besar dan beberapa jendela besar yang dipasangi teralis besi.
Masjid yang tergolong tua nan eksotis ini merupakan heritage yang menyisakan jejak masa lalu yang perlu dilestarikan. *** [270714]

0 komentar:

Posting Komentar