Rabu, 30 Juli 2014

Masjid Sholihin Solo

Menuju Stasiun Solo Balapan dari arah Monumen Pers, terlihat sebuah bangunan masjid yang khas. Atap bangunan masjid beratap warna hijau bersusun tiga dengan puncak mustaka berbentuk bulatan-bulatan meruncing ke atas. Masjid tersebut dikenal dengan sebutan Masjid Sholihin.
Masjid Sholihin terletak di Jalan Gajah Mada No. 97 Kelurahan Punggawan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi masjid ini tepat berada di pojok barat daya lampu merah pertemuan antara Jalan Gajah Mada dengan Jalan Raden Mas Said.
Menurut prasasti beraksara dan berbahasa Jawa yang terpasang di pintu kedua menuju ruang utama masjid, disebutkan bahwa Masjid Sholihin dibangun oleh R. Ngt T. Prawirodirdjo yang diresmikan beliau sendiri pada hari Kamis Kliwon tanggal 16 Jumadilawal Jimmawal 1885 atau bertepatan dengan tanggal 21 Januari 1954. Kemudian masjid ini langsung diwakafkan untuk keperluan Islam dan kaum muslimin untuk selama-lamanya.


Sebelum pembangunan Masjid Sholihin dilaksanakan, terlebih dahulu telah dipasang pondasi dari masjid, serambi, dan pelampahan. Setelah itu mengalir bantuan dari para muslimin dan muslimat berupa pasir, batu gamping, kayu, dan lain-lain. Sedangkan, selaku orang yang bertanggung jawab dalam proses pembangunan masjid secara utuh dilakukan oleh R. Ng. Tjondrodiprodjo dan yang mengerjakan adalah R. Sutedjo. Pada waktu, masjid ini dibangun, yang menjadi Ketua Pengurus Masjid Sholihin adalah R. H. Muhammad Adnan.
Dilihat dari ukurannya, Masjid Sholihin tidaklah begitu besar atau luas, akan tetapi memiliki tampilan gaya bangunan yang menawan. Mengadopsi dari arsitektur bangunan masjid kuno Jawa pada umumnya, masjid ini memiliki atap bergaya arsitektur tajug tumpang tiga. Atap tumpuk berbentuk piramida yang menutupi ruangan dalam masjid ini sebenarnya tidaklah lazim digunakan pada bangunan-bangunan yang bercirikan seni Islam sebagaimana yang biasa dijumpai di negara-negara yang juga mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Arab Saudi, Turki, Iran, Mesir, Maroko, dan Syiria, di mana kubah menjadi pilihan utama sebagai penutup ruang utama bangunan masjid. Di sinilah letak keunikan dari Masjid Sholihin ini yang pada akhirnya menjadi corak arsitektur masjid Jawa pada umumnya.


Model tajug tumpang tiga pada atap bangunan masjid ini, konon melambangkan tingkatan-tingkatan dalam ajaran tasawwuf, yaitu syari’at, thariqat, dan ma’rifat. Kemudian puncak mustaka berbentuk bulatan-bulatan yang meruncing ke atas menujukkan tingkatan keempat atau tingkatan yang tertinggi, yaitu haqqiqat.
Menilik dari usia, bangunan Masjid Sholihin tergolong sebagai masjid kuno yang ada di Kota Solo yang masih berdiri dengan kokoh di lokasi yang strategis, dan sudah layak sebagai peninggalan budaya (heritage) *** [270714]

0 komentar:

Posting Komentar