Senin, 21 Juli 2014

Pintu Air Manggarai

Melintas dari depan Stasiun Manggarai menuju ke Terminal Manggarai sambil menoleh ke kanan sebelum melewati viaduct, terlihat pintu air tua yang cukup unik. Pintu air tersebut dikenal dengan sebutan Pintu Air Manggarai atau Manggarai Water Gate.
Pintu Air Manggarai terletak di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi pintu air ini berada di sebelah barat laut dari Stasiun Manggarai.
Pintu Air Manggarai terdiri dari dua bangunan pintu air, yaitu Pintu Air Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat (BKB) yang dibangun oleh Departement Waterstaat dari tahun 1920 sampai tahun 1922 dan berfungsi sebagai bangunan pengendali aliran Sungai Ciliwung mengingat Jakarta sering terkena banjir pada waktu itu. Dalam sejarahnya, banjir besar pertama yang melanda Jakarta saat direkam pada tahun 1621, dan diulang pada 1654, 1671, 1699, 1711, 1714, 1854, 1872, 1893, 1918, 1930, 1942, 1976, 1996, 2002, 2007 hingga sekarang.


Pintu Air Ciliwung Lama mengalirkan sebagian kecil aliran Sungai Ciliwung ke arah Sungai Ciliwung Lama dan Pintu Air Banjir Kanal Barat mengalirkan aliran lainnya yang lebih banyak ke arah Banjir Kanal Barat. Pada kondisi air banjir, Pintu Air Ciliwung Lama tidak dibuka maksimal karena untuk menjaga supaya aliran yang berlebihan melalui Sungai Ciliwung Lama tidak menimbulkan banjir khususnya daerah sekitar Pintu Air Ciliwung Lama, Istana Negara dan Masjid Istiqlal. Akibat tidak dibukanya Pintu Air Ciliwung Lama secara maksimal menyebabkan aliran menjadi terkonsentrasi melalui Pintu Air Banjir Kanal Barat yang daya alirnya terbatas sehingga menyebabkan terhambatnya aliran yang menyebabkan terjadinya pengempangan (back water) yang menyebabkan naiknya elevasi muka air banjir di sebelah hulu.
Setelah terendam banjir besar pada awal 1918 yang melumpuhkan Batavia, membuat pemerintah Hindia Belanda memikirkan dan mengupayakan rencana untuk mengatasi banjir. Ditugaskanlah Herman van Breen, seorang insinyur hidrologi yang bekerja pada Burgelijke Openbare Werken yang merupakan cikal bakal dari Departemen Pekerjaan Umum, dan dikerjakan bertahap selama dua tahun.
Konsep van Breen dan rekan-rekannya sebenarnya cukup sederhana, hanya saja diperlukan perhitungan yang teliti dan implementasi serta biaya yang tinggi. Intinya adalah untuk mengontrol aliran air dari sungai hulu dan membatasi volume air masuk kota. Oleh karena itu, saluran perlu dibangun di bagian selatan kota untuk menampung limpahan air, dan kemudian mengalir ke laut melalui bagian barat kota. Saluran penampungan yang dibangun sekarang dikenal  sebagai Banjir Kanal yang memotong dari Pintu Air Manggarai ke Muara Angke.
Dilihat dari sisi historisnya, Pintu Air Manggarai merupakan pintu air yang telah berusia tua sehingga bangunan ini sudah tergolong sebagai bangunan cagar budaya (BCB). Kendati demikian, di kesenjaan umur dari bangunan ini, peran penting sebagai pengendali banjir masih menunjukkan kekokohannya. *** [280514]

0 komentar:

Posting Komentar