Senin, 21 Juli 2014

Tangga Masjid Menandakan Jumlah Rakaat

Setiap daerah memiliki masjid tertua untuk membuktikan sejarah di daerah masing-masing. Belum lama ini, hariam Jambi Ekspres (Jawa Pos Group) sengaja berkunjung ke Dusun Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo. Di sana terdapat masjid tertua di Kabupaten Bungo. Namanya adalah Masjid Al Falah.
Masjid yang dibangun atas perintah Pangeran Anom tersebut punya arsitektur yang indah dengan bangunan bergaya Melayu. Masjid kuno itu didirikan pada 1812 serta dikerjakan bertahap. Hingga akhirnya, bangunannya berbentuk cukup megah seperti sekarang. Masjid tersebut terus direnovasi.
Beberapa tokoh masyarakat setempat menjelaskan, Dusun Empelu pernah dipimpin seorang Rio Agung Niat Tuanku Kitab. Dia disebut-sebut adalah Rio pertama di wilayah tersebut.
Rio Agung mengajak masyarakat Desa Empelu bergotong royong mengambil kayu di hutan. Tujuannya, membangun sebuah rumah ibadah yang pada saat itu kali pertama disebut Surau Falah. Pendirian awal Masjid Al Falah dikerjakan Rio Agung bersama masyarakat atas titah Pangeran Anom. Ketika didirikan, bangunan Masjid Al Falah masih berbentuk rumah panggung yang terdiri atas beberapa tiang.
“Dulu masjid itu beratap daun rumbia, berdinding kayu, dan berlantai bilah (buluh, Red). Bentuknya biasa menyerupai rumah adat Bungo. Kata orang dulu, nama masjid masih disebut sebagai rumah surau. Bentuknya sangat sederhana, jauh dari bentuk saat ini,” kata tokoh masyarakat Dusun Empelu, Rifa’i.
Masjid tersebut digunakan untuk kepentingan kemasyarakatan dan pemerintahan. Pada 1827, Surau Al Falah direhabilitasi menjadi bangunan berbatu dengan tembok dari semen. Pengerjaan dilakukan Abu Kasim dari Pulau Jawa dan telah lama tinggal di Malaysia. Saat itu nama Surau Al Falah diubah menjadi Masjid Al Falah oleh Pangeran Anom di bawah pimpinan Raja Demak.
Pada 1837, bangunan masjid kembali direhabilitasi. Rehabilitasi bangunan masjid dikerjakan seorang pekerja dari Bukittinggi bernama Mangali. Ketika itu bangunan mulai tampak indah dengan seni arsitektur bangunan serta interior yang cukup menarik. Selain itu, terkandung simbol-simbol atau makna-makna yang cukup luas dari bentuk fisik bangunan.
Bila dihitung, tangga di sekitar masjid berjumlah 17 sebagai tanda jumlah rakaat dalam salat lima waktu. Kemudian, ada 5 tangga mimbar yang menandakan salat 5 waktu sehari semalam. “Sekarang tidak lagi lima karena sudah dipotong,” ujar Rifa’i.
Pada 1850, kembali dilakukan pemugaran untuk memperbarui dua menara rendah. Menara itu terletak di sudut depan masjid seperti saat ini. Saat ini masjid juga terus dalam proses renovasi. (fth/JPNN/c14/diq)

Sumber:
JAWA POS Edisi Kamis, 17 Juli 2014

0 komentar:

Posting Komentar