Senin, 19 Januari 2015

Gedung Mapolresta Magelang

Sambil menikmati secangkir teh panas di angkringan yang berada di pedestrian alun-alun sebelah selatan, kita bisa menyaksikan gedung Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Jawa Tengah Resor Magelang Kota (Polresta Magelang) yang masih memperlihatkan kekunaannya.
Gedung Kantor Mapolresta ini terletak di Jalan Alun-Alun No. 7 Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gedung ini berada di sebelah selatan Alun-Alun Kota Magelang, atau tepatnya berada di sebelat barat Kantor Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Kota Magelang.
Gedung yang memiliki luas 500 m² di atas lahan seluas 750 m² ini, dulunya merupakan sekolah MOSVIA (Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1878.
MOSVIA merupakan sekolah yang dikhususkan untuk pendidikan bagi pegawai-pegawai bumiputera pada zaman Hindia Belanda yang dilengkapi dengan asrama di belakangnya, dan gedung untuk Direktur berada di sebelah barat gedung utama. Setelah lulus mereka dipekerjakan dalam pemerintahan kolonial sebagai sekolah pamong praja. Sekolah ini dimasukkan ke dalam sekolah ketrampilan tingkat menengah dan mempelajari soal-soal administrasi pemerintahan.


Sebelum menjadi MOSVIA pada tahun 1927, awalnya adalah Hoofden School kemudian berubah menjadi OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren). Masa belajarnya lima tahun, tapi tahun 1908 masa belajar ditambah menjadi tujuh tahun. Pada umumnya murid yang diterima di sekolah ini berusia 12-16 tahun.
Para lulusan sekolah-sekolah umum, seperti HIS (Hollandsch Inlandsche School) dapat melanjutkan ke tingkat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan lulusan MULO dapat melanjutkan ke sekolah MOSVIA. Tentunya ilmu pemerintahan tidak diajarkan secara nyata dan tegas untuk mengurangi dan mengantisipasi rakyat Indonesia (Hindia Belanda) menuntut kemerdekaan. Jadi, tujuan didirikan sekolah pamong praja di Magelang tak lepas dari kepentingan penjajah Belanda untuk memenuhi kebutuhan kader-kader pemerintahan di Hindia Belanda saat itu.
Beberapa alumni MOSVIA Magelang yang dikenal dalam khasanah tokoh dalam perjalanan sejarah di Republik Indonesia ini, antara lain: Prof. Dr. Selo Soemardjan, Supriyadi, dan Abdul Halim Perdanakusuma. Selo Sumardjan menempuh pendidikannya di MOSVIA Magelang pada tahun 1931-1934. Kelak ia dikenal sebagai Bapak Sosiologi Indonesia. Supriyadi adalah pria kelahiran Trenggalek yang pernah menempuh di MULO dan MOSVIA Magelang. Kelak ia menjadi seorang Syudanco yang memimpin gerakan PETA di daerah Blitar, Jawa Timur. Sedangkan, Abdul Halim Perdanakusuma adalah pria kelahiran Sampang, Madura, yang melanjutkan studinya di Magelang ke sekolah Pamong Praja (MOSVIA) yang ditempuh pada tingkat II saja. Lalu, beliau menjalani transisi training navigasi bersama Royal Canadian Air Force di Inggris saat pendudukan Jepang. Kelak ia menjadi penerbang dan namanya diabadikan menjadi salah satu nama bandara udara di Jakarta.


Pada masa pendudukan Jepang, MOSVIA dibubarkan dan gedungnya difungsikan menjadi Kantor Asrama PETA (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang. Kemudian setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan hengkang dari Hindia Belanda, pada tahun 1945-1948 gedung ini digunakan untuk Sekolah Guru yang berasrama.
Ketika terjadi Clash II pada tahun 1948, bangunan utama dari gedung ini digunakan untuk Kantor Pengadilan, dan gedung yang berada di sebelah barat difungsikan sebagai Kantor Asisten Residen. Setelah, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada Desember 1948, gedung di sebelah barat diserahkan kepada Kepolisian Republik Indonesia, dan digunakan sebagai Kantor Mapolresta sampai sekarang.
Gedung Kantor Mapolresta Magelang yang bercorak kolonial ini, seperti yang tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 7 Tahun 2013 tentang Cagar Budaya di Kota Magelang (halaman 38) merupakan bangunan yang memiliki karakter sebagai bangunan cagar budaya (BCB) seperti yang termaktub pada poin 7: “kompleks Mapolresta (eks MOSVIA) sebagai kompleks sekolah yang memakai gaya arsitekur Indis.” *** [191214]

Kepustakaan:
Redaksi Visimedia, 2007. IPDN Uncensored, Inu Kencana: Perlawanan Seorang Dosen, Jakarta Visimedia
http://ntb.ipdn.ac.id/?p=496

1 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

    BalasHapus