Selasa, 20 Januari 2015

GPIB Magelang Alun-Alun

Kota Magelang dikenal memiliki bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial Belanda yang beberapa di antaranya masih terawat dengan baik. Salah satunya adalah GPIB Magelang Alun-Alun (Istilah ini hanya untuk membedakan dengan GPIB Magelang yang berada di Kebon Polo).
GPIB ini terletak di Jalan Alun-alun Utara No. 4 Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi gereja ini berada di sebelah utara Alun-alun Kota Magelang, atau berdekatan dengan Menara Air Magelang.
Dulu, ketika alun-alun ini dibangun oleh Adipati Danuningrat I atas restu Sir Thomas Stamford Raflles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda masa kekuasaan Inggris, merupakan jantung Kota Magelang dan menjelma menjadi medan simbol yang diperebutkan para penguasa. Setelah kembali ke pangkuan Kerajaan Belanda lagi dari hasil Traktat London, kawasan alun-alun berkembang. Pemerintah Hindia Belanda pun memilih  kawasan tersebut untuk mendirikan tempat ibadah bagi penganut agama Kristen. Tempat ibadah tersebut sengaja dibangun guna memenuhi kebutuhan rohani komunitas Eropa yang mukim di sekitar kawasan tersebut. Tempat ibadah tersebut dikenal dengan nama De Protestantse Kerk te Magelang.
Menurut info dari salah seorang staf Kantor GPIB, gereja ini dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda pada 1817. Angka tahun tersebut, didapat dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah yang telah menelitinya, dan telah dipasang di halaman depan gereja dengan tulisan “Magelang Heritage 1817.”


Gereja yang memiliki bangunan seluas 291 m² di atas lahan seluas 2.312 m² dengan tinggi bangunan sekitar 15 m² ini, memiliki langgam arsitektur yang khas , yaitu gaya asitektur Gothic. Beberapa ciri khas yang amat terlihat dari bangunan dengan genre Gothic adalah proporsi tinggi dan lebar bangunan. Bangunan Gothic memiliki tinggi bangunan yang tidak proposional dibanding dengan luas tapak bangunannya, ditandai dengan adanya lebar bangunan yang langsing dengan menara yang tinggi. Selain itu, bagian dalam bangunan gereja juga terdapat ruangan umat di tengah (nave) dengan jumlah jendela yang begitu banyak yang didominasi kaca patri berlukis, sehingga cahaya sinar matahari bisa menerangi ruangan tersebut di kala siang.
Ciri lain yang bisa dilihat dalam arsitektur Gothic ini adalah pada pintu masuk utama dan jendelanya berbentuk melengkung. Meski bentuk lengkung ini telah ada pada arsitektur sebelumnya namun pada arsitektur Gothic ini bentuknya cenderung lebih meruncing.
Sejak bangunan bergaya arsitektur Gothic ini dibangun hingga kini masih berfungsi sebagai Gereja Protestan, hanya terdapat pergeseran nama saja. Sekarang gereja Protestan ini dikenal sebagai Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). GPIB merupakan salah satu gereja yang merangkum warga jemaatnya dalam kemajemukan etnis dan budaya dari seluruh penjuru Nusantara yang sedang berdomisili di wilayah Indonesia Bagian Barat. GPIB adalah bagian dari GPI (Gereja Protestan Indonesia) yang pada zaman Hindia Belanda bernama De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesië, atau ada juga yang menyebut dengan De Indische Kerk. GPIB didirikan pada 31 Oktober 1948 berdasarkan Tata Gereja dan Peraturan Gereja yang dipersembahkan oleh proto Sinode kepada Badan Pekerja Am (Algemene Moderamen) Gereja Protestan Indonesia.
GPIB Magelang memang sangat cantik. Sebuah seni arsitektur yang telah dilabeli sebagai Magelang Heritage ini telah menjadi salah satu ikon tersendiri bagi Kota Magelang. *** [171214]

1 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

    BalasHapus