Jumat, 16 Januari 2015

SMA Negeri 3 Magelang

SMA Negeri 3 Magelang, atau yang biasa disingkat menjadi SMAN 3 magelang merupakan salah satu sekolah menengah atas negeri yang berada di Kota Magelang. SMA ini biasa disebut juga sebagai SMANAGA atau Medang High School.
SMA ini terletak di Jalan Medang No. 17 Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi SMA ini berada di daerah central business Kota Magelang dan tidak terlalu jauh dengan Gedung Bundar.
Dilihat dari kesejarahannya, SMAN 3 Magelang masih tergolong belum tua bila dibandingkan dengan “induknya”, yaitu SMAN 1 Magelang. Pada waktu itu, Drs. Wahono, Kepala SMAN 1 Magelang, pada 15 Juli 1985 mendapat tugas untuk membuka SMAN 3 Magelang, dan menempati gedung yang dulunya pernah digunakan oleh Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) dengan membayar uang sewa kepada pihak KODIM yang ketika itu status gedung SMAN 3 Magelang masih dianggap milik KODIM. Baru pada tahun 1990, status tersebut dilimpahkan, dan menjadi milik SMAN 3 Magelang.


Pada waktu penerimaan siswa baru di awal tahun ajaran 1985/1986, jumlah siswa yang diterima adalah 131 siswa yang terbagi menjadi 3 kelas dengan jumlah tenaga guru yang masih terbatas, yaitu sebanyak 7 orang guru yang kesemuanya masih berstatus Guru Tidak Tetap (GTT) seperti Drs. Umar Yunoto, Drs. Rustam Bambang, Drs. Sugiyanto, Drs. Sulistyo Pribadi, Dra. B. Rimbawati, Drs. V. Naryoso, dan Pudyastuti serta dibantu 5 guru dari SMAN 1 Magelang ditambah dengan Achmad Soetrisno selaku Wakil Kepala SMAN 3 Magelang.
SMA yang memiliki lahan seluas 1.400 meter persegi ini, memiliki sisi menarik dilihat rancang bangun dari gedung bagian depannya atau aula SMAN 3 Magelang. Gedung tersebut, awalnya merupakan sekolah khusus orang Tionghoa yang dikenal dengan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) atau Rumah Perkumpulan Tionghoa. Sekolah THHK ini didirikan, karena pada masa pemerintahan Belanda, golongan yang bisa bersekolah hanyalah golongan elit dan ningrat saja. Sehingga, karena kondisi tersebut, sejumlah warga Tionghoa memutuskan untuk mendirikan sekolah khusus orang Tionghoa tersebut.
Dengan didirikannya sekolah THHK tersebut, menimbulkan kekhawatiran Pemerintah Kolonial Belanda terhadap gerakan Tionghoa di Hindia Belanda. Tak ingin merebak lebih besar, Belanda akhirnya mendirikan sekolah untuk anak-anak Tionghoa dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, Hollandsche Chineseche School (HCS) pada tahun 1913 di Magelang.


Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) adalah sekolah pertama yang diperuntukkan untuk mengedukasi anak-anak Tionghoa, dan sekaligus sebagai lembaga transfer kultur dan pemikiran Tionghoa. Akan tetapi, sekolah THHK pada masa kemerdekaan dan paska kemerdekaan tidak lagi dipertahankan (sekitar tahun 1965).
Lalu, gedung tersebut berubah menjadi gedung bioskop yang bernama Mutiara Theater hingga tahun 1980-an. Setelah Mutiara Theater tutup, gedung tersebut digunakan untuk SPGN untuk beberapa tahun.
Setelah ditinggalkan SPGN karena SPGN menempati gedung baru di Jalan Senopati, Magelang, gedung tersebut kemudian dipakai untuk STM 45 hingga STM tersebut menempati gedung baru di Jalan Pahlawan. Kemudian kekosongan gedung ini, akhirnya dipinjam untuk digunakan sebagai Kantor Kelurahan Rejowonangun Utara dari KODIM. Setelah itu, sejak tahun 1985, gedung tersebut dipergunakan oleh SMAN 3 Magelang sampai sekarang.
Menyimak perjalanan penggunaan aula SMAN 3 Magelang yang terletak di bagian depan, mempelihatkan bahwa gedung tersebut layak mendapat predikat sebagai cagar budaya. Tidak semua warisan budaya ketika ditemukan sudah berfungsi dalam kehidupan masyarakat pendukungnya (living society). Terbukti cukup banyak yang digunakan di dalam peran baru atau tetap seperti semula. SMAN 3 Magelang meski merupakan pengguna terakhir bangunan heritage tersebut, sesungguhnya bangunan ini permulaannya juga memang digunakan untuk lokasi proses belajar mengajar juga. *** [191214]

1 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

    BalasHapus