Kamis, 08 Januari 2015

Klenteng Liong Hok Bio

Tempo doeloe di sebelah tenggara Alun-Alun Kota Magelang sudah menjadi kawasan yang cukup ramai. Wilayah yang dulu dikenal dengan Grooteweg Zuid Patjinan atau Jalan Raya Pecinan (sekarang Jalan Pemuda) ini merupakan jantung ekonomi masyarakat baik dulu maupun sekarang. Sisa-sisa bangunan kuno yang menunjukkan bahwa daerah tersebut merupakan Pecinan masih dapat ditemui meski yang bisa ditemui hanya beberapa saja. Salah satunya adalah tempat ibadah bagi pemeluk Tri Dharma yang bernama Klenteng Liong Hok Bio.
Klenteng ini terletak di Jalan Alun-Alun Selatan No. 2 Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi klenteng ini berada di sebelah selatan alun-alun, atau di sebelah timur Kantor Mapolresta Magelang dan berdekatan dengan Kantor Pos Magelang.
Berdasarkan catatan sejarah yang tertempel di dinding dekat pintu kantor, Klenteng Liong Hok Bio didirikan pada 8 Juli 1864 oleh Kapiten Be Koen Wie alias Be Tjok Lok. Setelah Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830, seorang warga Tionghoa bernama Be Koen Wie dari Solo yang dianggap telah banyak berjasa selama waktu perang, diangkat menjadi Luitenant oleh Pemerintah Hindia Belanda, dan kemudian dipindahkan ke Magelang. Di Magelang, Luitenant Be Koen Wie dipercaya menjadi pachter candu dan rumah gadai sehingga akhirnya ia menjadi saudagar dan hartawan yang kaya raya di zamannya.


Berkat kepiawaiannya dalam menjalankan bisnis yang dipercayakan kepadanya ini, ia kemudian diangkat menjadi Kapiten bagi masyarakat Tionghoa kala itu. Kesuksesannya mengetuk pintu hatinya untuk berkenan menghibahkan tanahnya untuk didirikan klenteng sebagai tempat ibadah masyarakat Tionghoa di Magelang dan Tua Pek Kong yang berada di Kampung Ngarakan dipindahkan ke klenteng tersebut.
Dilihat dari bangunannya, klenteng yang menghadap ke utara atau ke arah alun-alun ini tergolong besar dan megah, hanya sayangnya bangunan utamanya telah dilalap si jago merah pada 16 Juli 2014. Klenteng ini sengaja dibangun di sudut perempatan jalan, pojok tenggara dari alun-alun, karena menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa bahwa lokasi tersebut berisi segala pengaruh negatif. Pengaruh buruk tersebut akan hilang atau sirna dengan dibangunnya klenteng ini.
Memasuki pagar klenteng ini, peziarah akan menjumpai kantor klenteng yang berada di sebelah kanan atau arah barat. Setelah melewati depan kantor klenteng, peziarah akan menjumpai lantai bekas bangunan utama klenteng yang terbakar itu, dan belum sempat dibangun kembali.


Menoleh ke arah timur dari depan lantai tersebut, akan dijumpai tempat pembakaran kertas-kertas doa berwarna merah dan menyerupai botol. Di tengah tempat pembakaran tersebut terdapat kaligrafi dalam aksara Tionghoa yang berwarna kuning.
Meneruskan langkah ke dalam setelah melewati pagar seng yang dicat merah sebagai penanda batas usai kebakaran, terlihat bangunan klenteng yang tinggi, besar dan megah. Sesungguhnya bangunan ini sebelumnya merupakan bangunan tambahan yang terletak di bagian belakang bangunan utama sebelum terbakar. Di depan bangunan tersebut tampak dua pilar kokoh dengan hiasan qing long (naga biru yang melilit pilar tersebut). Kekokohan ini semakin nampak dengan menyaksikan atap dari bangunan tersebut yang dihiasi oleh dua naga berjalan (xing long) yang saling menghadap huo zhu, mutiara api atau bentuk bola api (mutiara Buddha) terletak di bagian tengah wuwungan dan diglasir. Atap inilah yang menambah eksotisme dari klenteng ini.
Awalnya, klenteng ini hanya memiliki satu Kongco Hok Tik Cing Sien yang merupakan Dewa Bumi, dan sekaligus dewa yang utama dalam klenteng ini. Namun seiring berjalannya waktu, dewa-dewanya pun bertambah jumlahnya hingga puluhan, seperti Kwam Im Poo Sat atau Avalokitesvara (Dewi Welas Asih), Kwang Kong (Dewa Keadilan), Thiang Sian Sing Bo (Dewa Penguasa Air), Kwan Seng Tee (Dewa Perang), dan Thian Siang Tee (Dewa Pembasmi Ilmu Hitam).
Klenteng Liong Hok Bio ini adalah tempat ibadah bagi umat Tri Dharma (Tao, Konghucu, dan Buddha) yang sekaligus menjadi ikon masyarakat Tionghoa yang dapat ditemui di Kota Magelang. Bangunan yang didominasi warna merah ini juga melengkapi kawasan alun-alun dengan nuansa tempat peribadatan dan deretan heritage yang ada di Kota Magelang. *** [171214]

1 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

    BalasHapus