Kamis, 15 Januari 2015

Plengkung Lama

Ketika berkunjung ke SMPN 2 Magelang, searah pemandangan ke timur akan terlihat bangunan menyerupai viaduct. Hanya saja di atasnya bukanlah berupa jalan seperti yang ditemukan di Surabaya, namun di Magelang ini di atasnya berupa selokan. Masyarakat setempatnya menyebut bangunan tersebut dengan nama Plengkung Lama atau Plengkung 1.
Plengkung Lama terletak di Jalan Pierre Tendean No. 1 Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi plengkung ini berada di sebelah barat pintu utama Rindam IV Diponegoro.
Plengkung adalah semacam terowongan buatan yang di atasnya biasanya bisa untuk jalan (viaduct) atau saluran air (aquaduct). Untuk kasus plengkung di Kota Magelang ini memiliki kekhasan tersendiri karena di atasnya adalah selokan air yang mengalirkan air yang berhulu dari Kali Manggis, Kampung Pucangsari, Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara. Saluran air ini dalam bahasa Belanda biasa disebut dengan Boog Kota Leiding, yang membelah kota menuju Poncol-Alun-Alun-Bayeman, dan berhilir di Kampung Jagoan, Kelurahan Jurangombo, Kecamatan Magelang Selatan.


Plengkung Lama dibangun pada 1883, seperti yang tertera pada pahatan bangunan kuna ini. Bangunan plengkung ini dibuat dengan konstruksi batu andesit namun pada waktu dilakukan renovasi pada tahun 2008, komposisi ini ditutup dengan semen.
Awal dibangunnya plengkung ini adalah untuk membuka akses antara Grooteweg Noord Pontjol (sekarang Jalan Ahmad Yani) yang disebelah timurnya terdapat Militaire Kampement (kini dikenal dengan Rindam IV Diponegoro) dengan Jalan Plengkoeng (sekarang Jalan Pierre Tendean) menuju Badaan (Nieuws Officer Kampement). Karena bila tak dibuat plengkung, semua transportasi darat akan mengalami kesulitan untuk menaiki gundukan tanah yang menyangga selokan air tersebut yang cukup tinggi. Keadaan ini yang menyebabkan Pemerintah Hindia Belanda menggagas plengkung yang berfungsi sebagai fly river.
Bangunan saluran air yang masing-masing luasnya 65 meter persegi dan tingginya 7 meter ini masih berdiri kokoh, terawat, serta masih berfungsi dengan baik. Bangunan peninggalan Belanda ini merupakan salah satu aset yang ada di Kota Magelang, dan sekaligus menjadi ikon unik di daerah tersebut karena kekhasan bangunannya. Mungkin hanya ada di Kota Magelang ini saja.
Oleh karena itu, sudah sewajarnyalah bila Plengkung Lama ini tetap dijaga kelestariannya sebagai cagar budaya sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 7 Tahun 2013 tentang Cagar Budaya di Kota Magelang. *** [181214]

1 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

    BalasHapus