Jumat, 20 Maret 2015

Museum Sudirman

Beberapa koleksi milik Jenderal Sudirman tersebar di sejumlah museum yang ada di Indonesia. Hal ini dikarenakan perjalanan gerilya yang pernah dijalankan oleh Jenderal Sudirman di beberapa tempat. Di Purbalingga, rumah tempat kelahirannya menjadi semacam museum yang menyimpan permulaan riwayat hidup Jenderal Sudirman. Di Yogyakarta, ada dua museum yang menampilkan koleksi Jenderal Sudirman, yaitu Sasmitaloka dan Monumen Jogja Kembali. Di Pacitan juga terdapat rumah yang pernah menjadi basis gerilya Jenderal Sudirman menjadi monumennya, dan juga ada beberapa koleksi Jenderal Sudirman yang dipajang di Museum Satria Mandala Jakarta. Sedangkan, di Kota Magelang, rumah yang pernah menjadi kediamannya dan sekaligus sebagai rumah wafatnya juga dijadikan menjadi sebuah museum. Museum tersebut dikenal dengan Museum Sudirman.
Museum ini terletak di Jalan Ade Irma Suryani C.7 Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi museum ini tepat berada di selatan Taman Badaan (Badaan Plein).


Dulu, di daerah Badaan ini dikenal sebagai kawasan perumahan untuk para perwira militer Hindia Belanda di Magelang (Nieuwe Officiers Kampement). Rumah dinas para perwira militer tersebut didirikan pada tahun 1930. Pada waktu itu, kawasan ini masih banyak ditumbuhi pohon cemara yang tinggi menjulang, dan dari rumah tersebut masih bisa melihat keindahan Gunung Sumbing di sebelah barat. Keindahan ini semakin terasa, ketika di kawasan perumahan tersebut juga dibangun Taman Badaan. Sehingga, Taman Badaan itu bisa dikatakan pembangunannya seusia dengan Nieuwe Officiers Kampement.
Pada masa perang kemerdekaan, salah satu rumah dinas perwira Hindia Belanda tersebut pernah menjadi kediaman Jenderal Sudirman. Sudirman mengawali kariernya sebagai guru di HIS Muhammadiyah Cilacap pada tahun 1930. Kemudian kedatangan Jepang di Tanah Air, menyebabkan Sudirman ikut terpanggil untuk mengangkat senjata dengan bergabung ke dalam Pembela Tanah Air (PETA). Ia pernah diangkat sebagai Daidanco PETA di Kroya.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Sudirman diangkat menjadi Kepala Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk wilayah Karesidenan Banyumas. Pada 5 Oktober 1945, ia diangkat sebagai Kepala Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Banyumas Divisi V Purwokerto dengan pangkat Kolonel. Ia kemudian terpilih menjadi Panglima Besar TKR pada 12 November 1945 berpangkat Jenderal sebagai peletak dasar-dasar moral, mental, serta kepemimpinan dan kepribadian TNI.
Pada Clash II, Sudirman pernah memimpin dalam Pertempuran Ambarawa, dan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Ia memilih memimpin gerilya dengan keluar masuk hutan, turun naik gunung dan jurang ketimbang menyerah kepada Belanda kendati mengalami sakit parah. Jenderal Sudirman adalah sosok patriot yang tidak kenal menyerah. Walaupun dalam keadaan sakit dan harus ditandu namun sebagai Panglima Besar, beliau senantiasa menanamkan semangat juang yang tinggi. Ia pernah dirawat di Rumah Sakit (RS) Panti Rapih di Yogyakarta sebelum kemudian beristirahat di Magelang hingga menghembuskan nafas terakhir pada 29 Januari 1950.


Sesuai catatan yang ada di museum ini, Museum Sudirman diresmikan oleh Walikota Magelang pada tahun 1986 dan pengelolaan awalnya dikelola oleh Seksi Kebudayaan pada Dinas Pendidikan Kota Magelang. Pada tahun 2000, museum ini dikelola oleh Kantor Kebudayaan dan Pariwisata, dan saat ini dikelola oleh Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Magelang.
Museum yang memiliki luas bangunan 285 m² di atas areal tanah seluas 1.329 m² ini, memiliki beberapa ruangan di bangunan utamanya. Ruang paling depan merupakan ruang tamu yang berisi satu set meja tamu yang dilatarbelakangi riwayat hidup Jenderal Sudirman. Di sebelah kiri, terdapat ruang kerja. Ruang kerja ini merupakan ruang kantor yang digunakan oleh Jenderal Sudirman untuk memegang garis komando gerilya. Bersebelahan dengan ruang kerja, terdapat ruang perawatan yang di dalamnya ada tandu gotongan dari kursi yang dipergunakan untuk bergerilya. Kemudian mengarah ke pintu belakang dari bangunan utama ini terdapat kamar pribadi. Kamar pribadi ini digunakan sebagai kamar tidur, yang di dalamnya terdapat tempat tidur hingga meninggalnya beliau.
Di belakang ruang tamu, terdapat ruang istirahat yang digunakan Jenderal Sudirman untuk bersantai, dan yang terakhir adalah ruang makan yang digunakan untuk makan bersama anak buahnya. Pada ruang tamu, ruang istirahat dan ruang makan banyak terpampang lukisan maupun foto-foto di masa perjuangan beliau serta Magelang tempo dulu.
Setelah bangunan utama, di belakangnya terdapat bangunan penunjang. Bangunan penunjang ini merupakan deretan ruangan yang berada di belakang bangunan utama dan dihubungkan oleh teras penghubung. Dari deretan ruangan tersebut terdiri atas perpustakaan, wisma tamu (dulu merupakan Kamar Soperdjo Roestam, ajudan Jenderal Sudirman), kamar mandi, dan dapur. *** [201214]

2 komentar:

  1. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

    BalasHapus
  2. Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Sri Rahayu asal Surakarta, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS. saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil di daerah surakarta, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat Jl. Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Muh Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalanan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL, alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya tahun ini sudah keluar, bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi bapak Drs Muh Tauhid SH.MSI, siapa tau beliau bisa membantu anda

    BalasHapus