Jumat, 08 Mei 2015

Pohon Köhler

Pohon Köhler (Köhlerboom) merupakan pohon besar dan menjulang yang tumbuh di halaman Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Lokasinya berada di dekat pintu masuk ke halaman masjid dari Pasar Aceh yang berada di sebelah utara masjid.
Terdengarnya memang agak aneh namun sesungguhnya pohon tersebut banyak dijumpai di Indonesia. Ada yang menyebutnya dengan nama pohon kepuh atau pranajiwa (Jawa), halumpang (Batak), kepah (Bali), kelompang (NTT), kalupa (Bugis),dan kailupa furu (Maluku Utara). Sedangkan, masyarakat Aceh mengenal pohon tersebut dengan nama pohon geulumpang.
Pohon geulumpang dalam bahasa Latin disebut Sterculia foetida Linn. Pohon geulumpang mempunyai batang yang tinggi hingga mencapai 40 meter dengan diameter batang bagian bawah hingga mencapai 3 meter. Cabang-cabang tumbuh mendatar dan berkumpul pada ketinggian yang sama, serta bertingkat-tingkat. Daunnya berupa daun majemuk menjari berbentuk jorong dengan ujung dan pangkal yang runcing. Panjang daunnya berkisar antara 10-17 cm. Bunganya terdapat di ujung batang, dan buah dari tanaman ini besar agak lonjong sekitar 7-9 cm dengan lebar sekitar 5 cm. Kulit buahnya tebal dan keras dengan warna merah kehitaman.
Habitat pohon geulumpang ini adalah dataran rendah hingga ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut, terutama di daerah kering. Persebaran pohon geulumpang ini sangat luas, mulai  dari Afrika bagian timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Australia.
Pohon geulumpang ini memiliki pelbagai khasiat, mulai untuk obat-obatan, kosmetika, pewarna alami, korek api hingga bahan untuk biofuel.


Namun siapa sangka, bila pohon geulumpang yang terdapat di halaman Masjid Baiturrahman tersebut melegenda dengan nama pohon Köhler. Hal ini tidak terlepas dari catatan sejarah dalam Perang Aceh.
Madelon Hermine Szekely Lulofs dalam bukunya, “Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh” (2010), mengisahkan bahwa 22 Maret 1873 merupakan hari yang paling menentukan dalam sejarah Aceh. Di lepas pantai Ulee Lheue terlihat empat buah buah kapal sedang lepas jangkar. Awalnya, penduduk di sana berpikir bahwa kapal itu membawa bala bantuan dari Turki yang dijemput oleh Habib Abdurrahman untuk menghadapi Belanda. Setelaj melihat bendera tiga warna berkibar di kapal itu, barulah rakyat menyadari jika yang datang adalah kapal Belanda.
Sebelum melakukan penyerangan, pihak Belanda mengirim surat kepada Sultan Aceh, Mahmud Syah. Setelah proses surat menyurat gagal memperoleh kesepakatam, akhirnya pada 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen ang dipimpin ole Komisaris Niewenhuyzen. Kemudian Niewenhuyzen  mengirim tentaranya pada 8 April 1873 di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler. Köhler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira.
Setelah berhasil merangsek masuk, akhirnya pasukan Belanda tiba di tembok tinggi yang merupakan gerbang Masjid Raya Baiturrahman. Mereka mengira bahwa gerbang itu adalah bagian dari istana. Upaya mereka untuk memasuki gerbang itu dihalang-halangi oleh pejuang Aceh. Kemudian pasukan Belanda menembaki masjid itu dengan peluru api,a akhirnya masjid kebangggan rakyat Aceh saat itu terbakar pada 14 April 1873. Pagi itu pula Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler yang sedang berdiri di atas tembok sumur masjid yang telah terbakar, dengan menginspeksi dari jurusan mana untuk menggempur Kraton Daruddunya (Jantung Hati Kerajaan Aceh).
Konon, pada saat menginspeksi inilah, Köhler kena tembak oleh salah seorang pejuang Aceh. Teuku Njak Radja Lueng Bata, anak murid Tgk. Chik Lueng Bata, dalam posisi merunduk melepaskan tembakan dari jarak 100 meter dan mengenai jantung sang Mayor Jenderal. Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, sebelum menghebuskan nafas terakhirnya di bawah pohon geulumpang sambil berucap “Oh God, Ik ben getroffen” (Oh Tuhan, Aku kena).
Untuk menandai peristiwa tewasnya Köhler ini, pada 14 Agustus 1988 Guberrnur Aceh, Ibrahim Hasan, membuat sebuah monumen peringatan di tempat tewasnya Köhler, yaitu di bawah pohon geulumpang di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Bermula dari lokasi tewasnya Köhler ini pula, pohon geulumpang yang menjadi saksi bisu meninggalnya Köhler dikenal sebagai pohon Köhler. *** [020415]

0 komentar:

Posting Komentar