Kamis, 07 Mei 2015

Makam Raja-Raja Aceh Keturunan Bugis

Mengunjungi Museum Negeri Aceh tanpa melihat makam kuno yang berada di pelataran museum, terasa belum lengkap. Makam kuno tersebut bukanlah seonggokan batu yang dibentuk, akan tetapi sesungguhnya juga menyimpan memori sejarah tersendiri. Makam kuno tersebut dikenal sebagai Makam Raja-Raja Aceh Keturunan Bugis.
Makam ini terletak di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah No. 12 Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi makam ini tepat berada di depan auditorium Museum Negeri Aceh.
Sesuai dengan petunjuk tulisan berwarna kuning yang ditorehkan pada marmer hitam, dikebumikan jasad raja-raja Aceh keturunan Bugis maupun keluarganya, yakni: Sultan Alauddin Ahmad Syah, Sultan Alauddin Johan Syah, Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903), dan Pocut Muhammad.
Sultan Ahmad Syah adalah Sultan pertama dari Dinasti Aceh-Bugis dan sekaligus merupakan Sultan yang ke-23 dari Kesultanan Aceh Darussalam yang memerintah dari 1727 sampai 1735. Sebelum tahun 1727, beliau bergelar Maharaja Lela Melayu.
Sultan Alauddin Johan Syah adalah anak dari Sultan Alauddin Ahmad Syah. Sebelum diangkat menjadi sultan, beliau dikenal sebagai Pocut Aoek. Beliau memerintah Kesultanan Aceh Darussalam dari 1735 hingga 1760.


Sultan Muhammad Daud Syah merupakan Sultan Aceh yang ke-35 dan sekaligus menjadi Sultan Aceh yang terakhir. Beliau dinobatkan menjadi sultan di Masjid Indrapuri pada 1878 sampai menyerah kepada Belanda pada 10 Januari 1903. Beliau diasingkan ke Ambon, dan terakhir dipindahkan ke Batavia hingga wafatnya pada 6 Februari 1939. Beliau dikenal sebagai Sultan Aceh yang bertahta tanpa istana. Sedangkan Pocut Muhammad, sesuai dengan hikayat yang berkembang merupakan adik laki-laki dari Sultan Muda.
Berdasarkan catatan sejarah yang ada, awal dari Sultan Aceh berdarah Bugis dimulai dengan pernikahan Sultan Iskandar Muda dengan Putroë Suni, anak Daeng Mansyur. Daeng Mansyur sendiri merupakan menantu dari Teungku Chik Di Reubee. Sultan Iskandar Muda memerintah dengan sangat bijak sehingga Kesultanan Aceh Darussalam mencapai masa gemilang.
Perkawinannya dengan Putroë Suni, beliau dikaruniai seorang anak perempuan bernama Safiatuddin Syah. Setelah dewasa, Safiatuddin Syah dipersunting oleh Iskandar Thani dari Pahang. Dari sinilah, permulaan adanya pemerintahan Sultan dan Sultanah Aceh keturunan Bugis di Kesultanan Aceh Darussalam.
Dilihat batu nisan yang terdapat pada makam tersebut, tampak sedikit berbeda dengan Makam Kandang Meuh dan Makam Kandang XII. Hal ini disebabkan adanya perpaduan corak nisan Aceh dengan corak nisan Bugis yang silindrik berbentuk piala.
Keberadaan makam tersebut di pelataran kompleks Museum Negeri Aceh, secara nyata juga dengan sendirinya menjadi salah satu koleksi museum in situ. *** [020415]

0 komentar:

Posting Komentar