Selasa, 05 Mei 2015

Makam Kandang XII

Makam kuno di Kota Banda Aceh tersebar di beberapa tempat. Keberadaan makam kuno tersebut tidak terlepas dari kenyataan bahwa Banda Aceh pernah menjadi ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam. Salah satunya adalah Makam Kandang XII.
Makam ini terletak di Jalan Perwira, Kelurahan Keuraton, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi makam ini berada di samping masjid Al Fitroh Keuraton, dan tidak jauh dari Meuligo, Gedung Juang, Museum Negeri Aceh, dan Pinto Khop.
Dalam bahasa Aceh, kandang berarti kuburan atau pusara. Sesuai dengan namanya, di dalam Makam Kandang XII ini terdapat dua belas makam atau kuburan sultan Aceh Darussalam dan keluarga dekatnya (kandang dua blaih), di antaranya Sultan Syamsu Syah bin Munawwar Syah yang memerintah 1497-1514, Sultan Ali Mughayat Syah bin Sultan Syamsu Syah yang memerintah 1514-1530, Sultan Salahuddin Ibnu Ali Mughayat Syah yang memerintah 1530-1537, Sultan Ali Riayat Syah Al Qahar yang memerintah 1537-1568, Sultan Husain Syah Ibnu Sultan Ali Riayat Syah Al Qahar yang memerintah 1568-1575, dan makam Malikul Adil yang hidup pada masa pemerintahan Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam.
Sultan Ali Mughayat Syah merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam dan pemersatu  wilayah yang kemudian hari dikenal sebagai Aceh. Beliau juga dikenal  sebagai musuh besar Portugis yang kala itu berkeinginan membuat koloni di Bumi Aceh. Ketika Portugis melakukan invasi ke Pasai, Pidie, dan Kerajaan Daya, Sultan Ali Mughayat Syah menyerangnya dan berhasil memukul mundur Portugis ke Peureulak maupun ke Aru sebelum akhirnya melarikan diri ke Malaka.


Sultan Salahuddin adalah anak sulung dari Sultan Ali Mughayat Syah dan diangkat menjadi sultan setelah ayahandanya mangkat pada 7 Agustus 1530. Sultan Salahuddin melanjutkan cita-cita ayahandanya dalam melakukan pengusiran terhadap bangsa Portugis yang ingin bercokol di Malaka. Namun, Sultan Salahuddin tidak berhasil menaklukkan Malaka sebagai pusat perdagangan yang banyak dihuni para pedagang Portugis.
Atas kegagalan inilah, Sultan Salahuddin dianggap lemah dan digantikan oleh adiknya, Pangeran Ali Riayat Syah Al Qahar. Setelah diangkat menjadi sultan, Pangeran Ali Riayat Syah Al Qahar bergelar Sultan Ali Riayat Syah Al Qahar. Sebagai anak bungsu Ali Mughayat Syah, ia merupakan seorang Sultan Aceh yang bisa disebut Homen Cavaleiro kedua setelah ayahandanya. Pada awalnya, pemerintahan Sultan Ali Riayat Syah Al Qahar berjalan dengan gemilang namun harus berakhir ketika dua putranya melakukan kudeta. Sedangkan, Sultan Husain Syah adalah anak laki-laki dari Sultan Ali Riayat Syah Al Qahar. Beliau merupakan Sultan Aceh keempat yang memerintah dari tahun 1568 hingga 1575.
Masuk ke dalam kompleks makam ini, kita akan disambut dengan deretan nisan yang teratur. Pada Makam Kandang XII ini, bentuk nisannya pada umumnya didominasi oleh nisan persegi panjang dengan pola garis geometris dan ada ruangan-ruangan yang diisi dengan pahatan ayat-ayat Al Qur’an. Pola ini merupakan bentuk tradisi batu nisan tipe Pasai.
Kekhasan batu-batu nisan tersebut merupakan bukti betapa Aceh sangat kaya akan seninya. Pahatan-pahatan kaligrafi pada batu nisan yang terdapat di Makam Kandang XII ini cukup rumit dan terkenal akan keindahannya.
Kompleks makam seluas 214 m² ini pernah dipugar oleh Pemerintah pada tahun 1978. Di atas pusara bernisan tersebut didirikan bangunan berangka besi dan beratap seng. Hal ini dimaksudkan agar supaya kebersihan nisan tetap terjaga atau tidak lekas menjadi hitam karena terserang lumut. Sehingga, di kemudian hari tinggalan arkeologis bernafaskan budaya awal Islam ini masih bisa disaksikan oleh generasi berikutnya. *** [300315]

0 komentar:

Posting Komentar