Senin, 04 Mei 2015

Pinto Khop

Banda Aceh merupakan kota tua yang menorehkan sejarah. Banyak peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam bertebaran di seantero kota ini. Salah satunya adalah Situs Cagar Budaya Pinto Khop.
Situs Cagar Budaya Pinto Khop terletak di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lokasi situs ini berada di belakang Pendopo Gubernuran (Meuligo) yang tidak begitu jauh dengan Situs Cagar Budaya Taman Sari Gunongan, Situs Cagar Budaya Sentral Telepon Belanda, Kerkhof Peutjoet, serta Museum Tsunami.
Menurut catatan sejarah yang terpampang di etalase dekat pintu masuk Taman Putroe Phang, Taman ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang diperuntukkan bagi permaisurinya, Putroe Phang, yaitu seorang putri dari Kerajaan Pahang, Malaysia. Pada masa itu, pada tahun 1613 dan tahun 1615, tentara laut dan darat Sultan Iskandar Muda melakukan penyerangan dan berhasil melakukan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Utara Melayu.


Sebagaimana tradisi pada zaman dahulu, kerajaan yang kalah perang harus menyerahkan upeti, pajak tahunan, maupun rampasan perang lainnya. Termasuk juga menyerahkan putri kerajaan untuk diboyong sebagai tanda takluk. Putri kerajaan yang diboyong ini biasanya diperistri oleh raja dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan dari kerajaan yang ditaklukannya, sehingga kerajaan pemenang menjadi semakin besar dan semakin kuat kedudukannya.
Putri boyongan dari Pahang itu terkenal dengan paras yang sangat cantik dan memiliki budi bahasa yang sangat halus, sehingga membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri.
Demi cintanya yang sangat besar kepada sang putri, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan sang permaisuri untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri sang permaisuri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya bisa terpenuhi. Selain sebagai tempat bercengkerama, gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di sungai yang mengalir di tengah-tengah istana.


Untuk menuju ke taman ini, Sultan membangun sebuah pintu gerbang sebagai penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu ini dinamakan Pinto Khop (Pintu Biram Indrabangsa) atau secara bebas dapat diartikan pintu mutiara keindraan atau kedewaan/raja-raja) yang berukuran panjang 2 meter, lebar 3 meter, yang terbuat dari bahan kapur. Hanya anggota keluarga istana kerajaan yang diizinkan melewati pintu gerbang ini.
Pinto Khop berdiri megah dan indah yang dikelilingi kolam yang airnya sangat jernih dan bersih yang airnya dialiri dari Krueng Daroy, atau yang dikenal juga sebagai Sungai Darul Ashiqi. Sungai ini bukan sungai alam akan tetapi sungai yang sengaja dibuat panjangnya sekitar 5 Km dari pegunungan Mata Ie yang berada di Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar.
Pada masa kerajaan dulu, Pinto Khop atau gerbang ini berada dalam satu kompleks dengan Taman Sari Gunongan, sehingga bentuk dan pola hias yang ada di Pinto Khop seirama dengan relif yang ada di gunongan.
Area lokasi Pinto Khop ini yang memiliki luas sekitar 4.760 m² ini, saat ini dijadikan sebagai taman rekreasi wisata yang dikelola oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh. Lokasi ini tidak pernah sepi dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun manca negara. Taman yang hijau dan asri serta kolam yang luas memberi kesejukan dan keteduhan tersendiri, dan yang tak kalah pentingnya adalah nilai historis yang ada pada taman ini sendiri. *** [020415]

1 komentar:

  1. artikelnya bagus, ijin share di http://ksmtour.com ya, terima kasih

    BalasHapus