Selasa, 28 Juli 2015

Stasiun Kereta Api Ceper

Stasiun Kereta Api Ceper (CE) atau yang selanjutnya disebut dengan Stasiun Ceper, merupakan salah satu stasiun kereta api yang berada di bawah manajemen  PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta yang berada pada ketinggian + 133 m di atas permukaan laut.
Stasiun ini terletak di Jalan Ngeseng, Dusun Ngeseng, Desa Jambu Kulon, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi stasiun ini berada di sebelah selatan pertigaan perlintasan kereta api yang terletak di Jalan Ceper-Besole (Satria Tronik), dan tidak begitu jauh dengan bekas Pabrik Gula (PG) Ceper Baru.


Bangunan Stasiun Palur ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda. Diperkirakan pembangunan stasiun ini bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Solobalapan-Yogyakarta yang dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik swasta di Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscahppij (NIS) pada tahun 1872 sebagai lanjutan dari proyek jalur Semarang-Vorstenlanden. Jalur sepanjang 58 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Solo di sebelah timur laut menuju ke Yogyakarta di sebelah barat daya.
Jalur Solobalapan-Yogyakarta ini akhirnya diambilalih oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah di Hindia Belanda, dan dilakukan pembenahan pada tahun 1929.  Dari stasiun ini, dulu terdapat percabangan jalur kereta api menuju ke Pabrik Gula (PG) Ceper Baru. Hal ini dilakukan untuk memperlancar arus komoditas gula menuju ke daerah lain melalui Stasiun Ceper.


Stasiun ini memiliki 4 jalur. Jalur 1, jalur 2 dan jalur 3 terhubung dalam persilangan di sebelah selatan maupun utara stasiun. Sedangkan jalur 4 terhubung dengan Gudang Pupuk Sriwijaya (Pusri). Bahkan, mulai Maret 2015, stasiun ini menjadi titik akhir perjalanan kereta api Pupuk Sriwijaya Palembang sebelum didistribusikan ke daerah sekitarnya. Pupuk Sriwijaya ini diangkut dari Stasiun Cilacap Pelabuhan di dekat Pelabuhan Tanjung Intan.
Stasiun Ceper sebenarnya termasuk stasiun yang memiliki bangunan stasiun yang lumayan besar bila ditinjau dari bangunan stasiun di daerah lainnya yang setipe. Mungkin karena Ceper pernah menorehkan sejarah dengan adanya PG Ceper Baru yang pada waktu itu turut andil dalam memberikan masukan keuangan bagi Pemerintah Hindia Belanda sehingga Stasiun Ceper dibangun lebih besar. Sama kasusnya dengan Stasiun Delanggu.
Selain layanan khusus untuk kereta api Pupuk Sriwijaya, stasiun ini masih beruntung karena masih terdapat aktivitas rangkaian kereta api yang berhenti di stasiun ini meski hanya kereta api kelas ekonomi. *** [190715]

1 komentar:

  1. Kangen lori dan bau tebu..kalau ngga salah dekat situ ada pengangkutan tetes ya?

    BalasHapus