Minggu, 10 April 2016

Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution

Menyusuri Jalan Teuku Umar ini sebenarnya tidak termasuk salah satu agenda saya. Kala itu saya bingung mau mencari halte yang dilewati oleh Kopaja P 20 yang ke arah Mampang Prapatan. Dari Tugu Kunstkring Paleis, saya sebenarnya saya ingin memotong jalan jalur Kopaja yang dari arah Pasar Senen menuju ke Lebak Bulus tapi ternyata malah jauh.
Barangkali perjalanan ini tidak setimpal dengan rasa capeknya. Lutut kaki terasa nut-nut. Tapi segera sirna manakala dalam perjalanan tersebut bisa menemukan bangunan lawas yang mempunyai kisah sejarah. Hal ini terasa benar ketika itu saya melintasi bangunan lawas yang di halaman depannya terdapan sebuah patung yang diapit oleh meriam. Ternyata bangunan lawas tersebut adalah Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Museum ini terletak di Jalan Teuku Umar No. 40 Kelurahan Gondangdia, Kecamatan Menteng, Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta. Lokasi museum ini berada di depan kediaman duta besar Vietnam.
Dalam booklet Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution yang diterbitkan oleh Dinas Sejarah Angkatan Darat di Bandung pada Maret 2015, menjelaskan bahwa museum ini semula merupakan kediaman Jenderal Besar DR. A.H. Nasution yang ditempatinya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Di kediaman ini Jenderal Besar DR. A.H. Nasution telah menghasilkan sejumlah karya juang yang beliau persembahkan bagi kemajuan bangsa dan negara.


Sejarah mencatat, bahwa pada tanggal 1 Oktober 1965 di tempat ini telah terjadi peristiwa dramatis yang hampir menewaskan Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Pada peristiwa tersebut, PKI dengan G 30 S-nya berupaya menculik dan membunuh Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, yang saat itu menjabat Menko Hankam/KASAB. Namun beliau berhasil menyelamatkan diri dan luput dari pembunuhan, tetapi putri kedua beliau yang bernama Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya Lettu Czi Pierre Tendean gugur dalam peristiwa tersebut.
Sosok Jenderal Besar DR. A.H. Nasution merupakan tokoh militer dan negarawan yang tidak asing bagi bangsa Indonesia bahkan diakui dunia internasional, karena sepanjang hayatnya beliau telah menorehkan karya juang dan pengabdian serta pengorbanan yang tidak sedikit bagi bangsa dan negaranya. Baik pada masa perjuangan kemerdekaan maupun pada saat mengisi kemerdekaan. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya penghargaan yang telah beliau terima, baik dari dalam maupun luar negeri. Sehingga beliau memiliki berbagai benda-benda koleksi bernilai sejarah tinggi yang patut untuk dipelihara dan dilestarikan, agar generasi penerus bangsa dapat memetik nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Benda-benda peninggalan Jenderal Besar DR. A.H. Nasution tergolong memiliki nilai-nilai historis yang perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, untuk menyimpan, merawat dan memeliharanya diperlukan museum sebagai sarana kegiatan fungsional yang khas sebagai lembaga kultural edukatif, pusat dokumentasi dan informasi, inspiratif serta menjadi pusat studi dan rekreasi bagi kepentingan publik.
Dalam konteks pelestarian koleksi benda-benda bernilai sejarah dari Jenderal Besar DR. A.H. Nasution tersebut, maka Angkatan Darat menjadikan kediaman Jenderal Besar DR. A.H. Nasution sebagai Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Hal ini diperkuat dengan dikeluarkannya Surat Perintah dari Kasad dengan Nomor Sprin 1459/VIII/2007 tanggal 14 Agustus 2007 tentang pembentukan Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution.
Sebagai realisasi dasar surat perintah tersebut maka dimulailah renovasi dan penataan kediamann Jenderal Besar DR. A.H. Nasution sejak bulan Juli 2007 sampai dengan November 2008. Pada tanggal 3 Desember 2008 bertepatan dengan hari kelahiran beliau, yaitu pada tanggal 3 Desember 1918, Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution diresmikan oleh Presiden RI DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono.

Ruang Penyajian Koleksi
Seperti pada umumnya museum yang ada di Indonesia, Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution ini juga mempunyai ruangan untuk memajang koleksi-koleksi yang dimiliki oleh Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Namun kebanyakan penamaan ruang pamer ini masih disesuaikan dengan fungsi ruang pada saat menjadi kediaman Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, sehingga menyerupai museum in situ.

Ruang Tamu
Ruang ini berada di gedung utama paling depan. Sesuai dengan namanya, maka ruang ini merupakan tempat Jenderal Besar DR. A.H. Nasution menerima tamu, baik dari kalangan militer, kerabat dan masyarakat. Di ruang tamu ini terdapat satu set meja kursi tamu berukuran kecil, yang merupakan meja dan kursi favorit Jenderal Besar DR. A.H. Nasution sewaktu masih muda. Jenderal Besar DR. A.H. Nasution selalu memakai kursi ini dalam menerima tamu dari berbagai kalangan.
Di ruang tamu ini juga terpampang sejumlah foto bersejarah milik Jenderal DR. A.H. Nasution, dan beberapa cindera mata dari dalam dan luar negeri serta terdapat miniatur senjata artileri berupa meriam lapangan dan miniatur tank.

Ruang Kerja
Dari ruang kerja inilah Jenderal Besar DR. A.H. Nasution menuangkan ide dan buah pikirannya , baik dalam bidang militer maupun non militer.
Di dalam ruang kerja juga telah dihasilkan beberapa karya yang beliau tulis untuk dipersembahkan kepada bangsa dan negara (sekitar 70 judul buku). Sebagian dari karya beliau disajikan dalam etalase buku yang ada di ruangan ini.

Ruang Kuning
Dinamakan ruang kuning, karena oleh Jenderal Besar DR. A.H. Nasution ruangan ini didesain dengan dominasi warna kuning, baik meja, kursi, cat tembok, karpet, maupun gorden semua memakai warna kuning. Ruangan ini digunakan Jenderal Besar DR. A.H. Nasution untuk menerima tamu (VVIP), baik dari dalam maupun luar negeri.
Koleksi yang disajikan di dalam ruangan ini adalah meja kursi tamu berwarna kuning, miniatur Monumen Siliwangi, dua buah guci tabung, miniatur panglima perang dan beberapa koleksi cinderamata lainnya yang tersaji di kanan dan kiri pintu masuk ruang kuning.

Ruang Senjata
Awalnya ruang senjata ini adalah ruang tidur putri pertama yang bernama Hendrianti Sahara Nasution. Sesuai namanya yang sekarang, ruangan ini digunakan untuk memajang beberapa jenis senjata koleksi Jenderal Besar DR. A.H. Nasution.
Berbagai senjata tradisional yang dipamerkan di ruangan ini berasal dari berbagai daerah Indonesia, seperti keris, mandau, dan lain-lain yang merupakan kenang-kenangan dari berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan berbagai senjata api merupakan kenang-kenangan dari berbagai negara sewaktu beliau memimpin misi pembelian senjata ke luar negeri.

Ruang Tidur
Ruangan ini merupakan saksi bisu dari kekejaman G 30 S/PKI yang berupaya menculik dan membunuh Menko Hankam/KASAB Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Pada 1 Oktober 1965 pagi, ibu Johana Sunarti Nasution (istri Jenderal Besar DR. A.H. Nasution) sudah bangun dan duduk di dipan. Sedangkan Jenderal Besar DR. A.H. Nasution mengibas-ngibas nyamuk. Tiba-tiba ibu Johana Sunarti Nasution mendengar beberapa tembakan dari luar, kemudian beliau membuka pintu dan melihat anggota Cakrabirawa, selanjutnya pintu ditutup kembali dan dikunci.
Melihat pintu kamar Jenderal Besar DR. A.H. Nasution terkunci, anggota Cakrabirawa mendobrak pintu tersebut sampai retak. Mendengar kegaduhan di dalam kamar, adik Jenderal Besar DR. A.H. Nasution yang bernama ibu Mardiah masuk ke dalam kamar. Ade Irma yang baru bangun diberikan oleh ibu Johana Sunarti Nasution pada ibu Mardiah. Karena tidak memahami situasi, ibu Mardiah membuka lagi pintu yang baru saja dikunci. Begitu pintu dibuka, berondongan peluru dilepaskan anggota Cakrabirawa mengenai Ade Irma. Ibu Mardiah membawa Ade Irma yang tertembak keluar menuju samping rumah.


Saat kejadian itu ibu Johana Sunarti Nasution belum mengetahui kalau anak kesayangannya, Ade Irma tertembak. Setelah mengunci pintu untuk yang kedua kalinya, ibu Johana Sunarti Nasution berkata kepada suaminya: “Nas, kamu mau dibunuh, cepat selamatkan diri!” Selanjutnya Jenderal Besar DR. A.H. Nasution dan istrinya keluar melalui kamar keluarga (sekarang ruang Gamad) menuju samping rumah.
Di samping rumah tersebut ibu Johana Sunarti nasution menerima Ade Irma dari ibu Mardiah yang dilihatnya Ade Irma sudah berlumuran darah. Jenderal Besar DR. A.H. Nasution menyelamatkan diri dengan cara melompat pagar tembok yang berbatasan dengan Kedutaan Irak.
Begitu melihat Ade Irma yang luka parah, Jenderal Besar DR. A.H. Nasution yang sudah di atas pagar berniat hendak turun lagi untuk memberi pertolongan dan perlawanan. Namun ibu Johana Sunarti Nasution memohon kepada suaminya, “Selamatkan diri! Selamatkan diri! Denk niet, naar ons! (jangan pikirkan kami). Di saat Jenderal Besar DR. A.H. Nasution memandang ibu Johana Sunarti Nasution dan Ade Irma yang berlumuran darah tersebut, bunyi tembakan terus menggencar ditujukan kepada Jenderal Besar DR. A.H. Nasution di atas pagar. Karena tembakan mengarah padanya maka Jenderal Besar DR. A.H. Nasution terus melompat ke halaman Kedutaan Irak.

Ruang Gamad
Ruang Gamad (Ruang Seragam Angkatan Darat) awalnya merupakan ruang tidur keluarga Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Dinamakan Ruang Gamad karena di dalam ruangan ini dipajang beberapa koleksi dan seragam serta perlengkapan TNI, yaitu PDU IV, sewaktu beliau menjabat Menko Hankam/KASAB dan Jenderal berbintang lima. Pedang Pati Angkatan Darat dan Pedang Pati Angkatan Laut, Baret Kopassus yang dipakai beliau pada saat upacara Penganugerahan Brivet Komando Kehormatan pada 17 Februari 1998, serta Baret Marinir dan Baret Kostrad. Di samping itu juga disajikan PDU II Putih untuk acara resmi siang hari, serta PDU II Hitam untuk acara malam hari serta PDU I Bintang lima.


Dalam ruangan ini juga dipamerkan beberapa buah pisau, tongkat komando kenang-kenangan maupun tongkat komando koleksi pribadi Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Selain itu, di Ruang Gamad ini juga disajikan diorama yang menggambarkan dialog antara ibu Johana Sunarti nasution dan suaminya tatkala akan berusaha menyelamatkan diri dari upaya pembunuhan oleh anggota Cakrabirawa dengan cara melompat pagar tembok Kedutaan Irak.

Ruang Ade Irma
Ruang Ade Irma merupakan kamar tidur anak kedua Jenderal Besar DR. A.H. Nasution yang bernama Ade Irma Suryani Nasution. Namun di dalam kesehariannya, Ade Irma selalu tidur bersama ayah dan ibunya di ruang tidur utama.


Di dalam ruangan ini dipamerkan barang-barang pribadi yang merupakan barang kesayangan Ade Irma, yaitu sebuah baju seragam Kowad mini, sepasang sepatu, tas kulit kecil, tempat air minum dari plastik dan boneka serta baju yang dipergunakan oleh Ade Irma pada saat tragedi. Selain itu, di ruangan ini juga dipajang baju PDH II dan tongkat atau cruk yang digunakan  Jenderal Besar DR. A.H. Nasution pada waktu upacara pelepasan jenazah para Pahlawan Revolusi di Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta pada 5 Oktober 1965.

Ruang Makan
Sesuai namanya, ruangan ini dulunya merupakan ruang makan keluarga Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. Di sini masih terlihat koleksi satu set meja makan yang digunakan keluarga Jenderal Besar DR. A.H. Nasution untuk berkumpul dan makan bersama.
Di Ruang Makan ini disajikan diorama yang menggambarkan kejadian setelah Jenderal Besar DR. A.H. Nasution berhasil menyelamatkan diri dari upaya pembunuhan. Sesaat setelah Jenderal Besar DR. A.H. Nasution berhasil menyelamatkan diri, ibu Johana Sunarti Nasution kemudian ke ruang makan dan berusaha untuk menelpon tetapi tidak jadi karena hubungan telepon sudah diputus.
Saat bersamaan, muncul lima prajurit Cakrabirawa dengan menodongkan senapan. Salah seorang prajurit Cakrabirawa menggertak ibu Johana Sunarti Nasution dengan ucapan: “Mana Nasution?”
Jengkel mendengar gertakannya, ibu Johana Sunarti Nasution menjawab: “Jenderal Nasution di Bandung, sudah dua hari. Kamu kemari hanya membunuh anak saya!” Tidak lama kemudian terdengar peluit berbunyi dan mereka bergegas keluar.

Ruang Heraldika
Di Ruang Heraldika ini dipamerkan berbagai plakat kenang-kenangan dari berbagai satuan TNI dan 3 buah panji serta sebuah bendera Merah Putih. Selain itu, juga terdapat berbagai piagam penghargaan dan medali yang beliau terima, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ruang Dapur
Di Ruang Dapur ini disajikan peralatan dapur yang dipergunakan keluarga Jenderal Besar DR. A.H. Nasution dalam kesehariannya.

Setelah menikmati koleksi-koleksi Jenderal Besar DR. A.H. Nasution yang ada di bangunan utama, pengunjung akan keluar halaman samping melalui pintu yang berada di dekat dapur. Lalu, pengunjung bisa menuju ke halaman belakang. Di situ ada koleksi mobil yang pernah digunakan oleh Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, dan di tembok belakang yang berbatasan dengan bangunan sayap kanan dibuat relief sejarah perjalanan hidup Jenderal Besar DR. A.H. Nasution.
Dari samping tembok ini, pengunjung bisa menuju ke bangunan sayap kanan. Bangunan sayap kanan ini merupakan ruang diorama, seperti diorama penculikan Piere Tendean, diorama Bandung Lautan Api, diorama Hijrah Siliwangi, diorama Markas Besar Komando Djawa di Kepurun, diorama Sidang MPRS, dan di belakangnya terdapat ruang perpustakaan.
Setelah puas melihat diorama, pengunjung masih bisa menyaksikan relief prestasi Jenderal Besar DR. A.H. Nasution yang berada di tembok depan ruang diorama tersebut. Kemudian sambil mengakhiri  kunjungan ke museum ini, pengunjung masih bisa menyaksikan patung Jenderal Besar DR. A.H. Nasution yang berdiri tegak di halaman muka museum ini dengan diapit dua meriam.
Selain memajang koleksi-koleksi peninggalan Jenderal Besar DR. A.H. Nasution, museum ini juga dilengkapi dengan aula yang bisa dipakai untuk pertemuan rapat dengan kapasitas 150 orang, mushola, toilet/kamar mandi serta sarana parkir yang luas bagi pengunjung.
Waktu berkunjung, untuk umum dibuka setiap hari Senin sampai dengan Jumat pukul 08.00 sampai dengan 15.00 WIB. Hari Sabtu dan Minggu dibuka atas koordinasi terlebih dahulu. Bagi pengunjung, baik perorangan maupun rombongan disediakan pemandu (pramuwidya).
Setiap pengunjung wajib menjaga keamanan, ketertiban dan kebersihan di area Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution. *** [060416]

0 komentar:

Posting Komentar